PENERAPAN MEDIA KOMIK PADA PEMBELAJARAN BIPA (BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR ASING)
INNE PELANGI
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) adalah sebuah program pembelajaran
bahasa Indonesia sebagai
bahasa kedua bagi penutur asing. Pada pembelajaran BIPA, peserta akan belajar mengenai empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan
menulis. Keempat keterampilan tersebut saling terkait satu dengan yang lainnya. Dalam
pembelajaran BIPA, peserta dituntut untuk menguasai semua keterampilan berbahasa. Pembelajaran BIPA tidak seperti pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asli. Peserta
dituntut mampu menguasai bahasa Indonesia dalam waktu yang ditentukan. Oleh karena itu, pengajar bertugas menyediakan aktivitas dan menciptakan suasana menyenangkan selama proses
pembelajaran BIPA. Banyak cara
menciptakan suasana yang menyenangkan ke dalam
proses pembelajaran BIPA. Salah satunya ialah dengan menggunakan media pembelajaran yang disukai anak-anak, yaitu komik. Anak-anak menyukai komik karena sangat
menyenangkan untuk dibaca. Selain anak-anak, orang dewasa
pun menyukainya karena komik juga memberikan beragam informasi di dalamnya. Oleh karena itu, komik dapat menjadi
media pembelajaran
yang
efektif.
Komik sebagai media pembelajaran sudah lama diterapkan dan memberikan dampak yang
positif selama proses pembelajaran. Media komik selain menyenangkan, juga selalu dikaitkan dapat meningkatkan minat membaca, serta mengembangkan perbendaharaan kosakata dalam berbahasa. Komik digunakan sebagai langkah awal untuk membangkitkan minat membaca peserta, terutama yang tidak suka membaca. Selain karena komik menghibur, menyenangkan, dan edukatif, komik juga merupakan jembatan untuk membaca buku yang lebih serius. Jadi, dapat disimpulkan bahwa media komik memiliki kaitan yang erat dengan pembelajaran bahasa karena selalu dikaitkan dengan peningkatan keterampilan berbahasa. Oleh karena itu, jika membicarakan tentang media komik yang berpengaruh
penting dalam peningkatan minat membaca peserta, secara otomatis kemampuan peserta
dalam menulis pun akan
meningkat.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut
maka rumusan masalah dalam penulisan makalah
ini
adalah bagaimanakah penerapan media komik dalam pembelajaran BIPA?
C. Tujuam Penulisan Makalah
Adapun tujuan penulisan makalah ini
adalah untuk untuk mendeskripsikan penerapan media komik pada pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).
D. Manfaat Penulisan Makalah
Adapun
manfaat dalam penulisan makalah ini yakni:
1. Berguna bagi dunia pendidikan bahasa, terutama BIPA
2. Memberikan solusi baru dengan menggunakan komik
sebagai media pembelajaran
yang
menyenangkan
dan tepat bagi semua peserta khususnya pebelajar BIPA
BAB II
PEMBAHASAN
A. Media Pembelajaran
Media berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari medium yang berarti
perantara atau pengantar,
yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima
pesan. Media pembelajaran interaktif adalah sebuah metode pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Media pembelajaran interaktif merupakan
media penyampaian
pesan antara pengajar dan peserta yang memungkinkan komunikasi antara manusia
dan teknologi melalui sistem dan infrastruktur berupa program aplikasi serta pemanfaatan media
elektronik sebagai bagian dari metode edukasinya.
Media pembelajaran dewasa ini sudah merupakan kewajiban yang harus disiapkan oleh para pengajar dalam upaya menciptakan suasana pembelajaran yang menarik, menyenangkan, menggairahkan, dan menggugah. Dengan menggunakan media pembelajaran, interaksi antara pengajar dan peserta akan lebih
efektif karena mereka bisa berkomunikasi satu sama lain dan yang terpenting, mampu
berperan secara aktif memanfaatkan media pembelajaran dalam setiap kegiatan belajar-mengajar.
Media
pembelajaran sebaiknya diciptakan sesuai dengan kebutuhan
peserta. Kesempurnaan
media pembelajaran akan tercipta apabila pengajar mampu membuat dalam bentuk manual
dan dalam bentuk elektronik. Media pembelajaran manual dapat dibuat mulai dari bahan yang sederhana hingga bahan
yang rumit. Hal tersebut bergantung pada kemampuan
pengajar untuk menyiapkan
bahan dan mengemasnya secara baik. Hal tersebut sejalan dengan apa yang dikatakann oleh Edgar Dale, “Penggunaan media pembelajaran seringkali
menggunakan prinsip Kerucut Pengalaman
yang membutuhkan media,
seperti buku teks, bahan belajar yang dibuat
oleh guru, dan audio-visual.”
B. Komik
Komik merupakan cerita bergambar
(dalam majalah, surat kabar, atau berbentuk buku) yang umumnya mudah dicerna
dan lucu. Komik merupakan media yang menyenangkan dan dapat menjadi
media edukatif selama proses pembelajaran
berlangsung. Namun, masyarakat masih beranggapan bahwa komik hanya cerita bergambar yang ringan dan menyenangkan. Banyak orang yang belum tahu definisi tentang komik.
Oleh sebab itu, banyak yang telah mencoba
mengemukakan definisi
komik, di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Menurut (McCloud, 2001), komik adalah gambar-gambar dan lambang-lambang lain yang terjuktaposisi dalam tuturan tertentu, bertujuan untuk memberikan informasi dan mencapai tanggapan estetis dari pembaca.
2. Harvey dalam (McCloud, 2008) menyarankan pernyataan kombinasi berseni dari kata dan gambar harus terliput dalam semua definisi tentang komik.
McCloud menambahkan tentang kekuatan kata adalah bagian tak terpisahkan dari pesona karya seni yang disebut komik.
3. Sudjana dan Rivai, (2001) berpendapat komik dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk kartun yang mengungkapkan karakter dan memerankan
suatu cerita dalam urutan yang erat dihubungkan dengan gambar dan dirancang untuk
memberikan hiburan kepada para pembaca.
4. Masdiono, (2001) mengatakan komik adalah
gamcer atau gambar bercerita atau sebuah dunia tutur gambar, suatu
rentetan gambar yang bertutur menceritakan suatu kisah.
5. (Eisner , 2002) mendefinisikan teknis dan struktur komik sebagai sequential art susunan gambar dan kata-kata untuk menceritakan sesuatu atau mendramatisasi suatu ide. Para ahli masih belum sependapat mengenai definisi komik, sebagian di antaranya berpendapat bahwa
bentuk cetaknya perlu ditekankan, yang lain lebih mementingkan kesinambungan gambar
dan kata, dan sebagian lain lebih menekankan
sifat
kesinambungannya (sequential).
Berdasarkan beberapa definisi tentang komik di atas, dapat
disimpulkan bahwa komik
adalah salah satu karya sastra bernilai estetis yang terdiri atas perpaduan antara gambar dan
kata
yang membentuk sebuah cerita. Selain itu, bertujuan untuk memberikan informasi dan
hiburan kepada pembaca.
Daya tarik berbagai jenis komik mengikuti pola yang dapat diprediksikan. (Hurlock, 2000)
berpendapat bahwa anak-anak usia sekolah menyukai komik karena beberapa hal di
antaranya:
1. Melalui identifikasi dengan
karakter di dalam kmik, anak memperoleh kesempatan yang baik untuk mendapat
wawasan mengenal masalah pribadi dan sosialnya. Hal tersebut akan membantu
memecahkan masalahnya.
2.
Komik menarik imajinasi anak dan rasa ingin tahu tentang masalah supranatural.
3.
Komik memberi anak pelarian sementara hirup-pikuk hidup sehari-hari.
4. Komik mudah dibaca, bahkan anak
yang kurang mampu membaca dapat memahami arti dari gambarnya.
5. Karena komik tidak mahal dan juga
ditayangkan di televisi sehingga semua anak menegenalnya.
6. Karena banyak komik yang
menggairahkan, misterius, dan lucu, komik mendorong anak untuk membaca yang tidak banyak diberikan
buku lain.
7.
Bila berbentuk serial, komik memberi sesuatu yang diharapkan.
8. Dalam komik, tokoh sering
melakukan atau mengatakan hal-hal yang tidak berani mereka lakukan sendiri,
walaupun mereka ingin melakukannya. Hal tersebut memberikan kegembiraan.
9.
Tokoh dalam komik sering kuat, berani, dan berwajah tampan, jadi memberikan
tokoh pahlawan bagi anak untuk mengidentifikasinya.
10. Gambar dalam komik
berwarna-warni dan cukup sederhana untuk dimengerti anak- anak.
Menurut Oller dan teori peristiwa miliknya (1983) teks (bentuk ujaran dan tulis dalam wacana) yang lebih tidak sengaja tersusun
dapat disimpan dan diingat kembali lebih mudah
daripada bahan yang kurang tersusun secara tidak sengaja. Dengan kata lain, hal itu lebih mudah bagi peserta belajar bahasa jika mereka diberikan kalimat terhubung yang memiliki struktur logis dan alur cerita, bukannya terputus, frase diatur secara acak. Kosakata dan bahasa dapat dipelajari dalam konteks. Namun, Oller selangkah lebih maju dan menyatakan bahwa
konteks itu sendiri tidak cukup. Hal yang terpenting adalah dialog
atau teks harus memiliki struktur logis dan simpulan yang logis. Dengan cara ini, peserta dapat mengikuti alur cerita selangkah demi selangkah dan dapat mengingat struktur lebih mudah karena
logika membantu mereka.
Teori Oller
dapat diterapkan pada penggunaan komik dalam pengajaran bahasa. Komik
memiliki alur cerita yang mampu membawa peserta pada simpulan darimateri yang dibawakan. Dengan cara itu, peserta termotivasi melanjutkan untuk membaca dan kembali lebih terlibat ke dalam isi daripada bahasa. Konsekuensinya, peserta akan lebih asyik mengetahui apa yang akan terjadi, bagaimana akhir dari cerita (rasa pensaran mereka
muncul), dan akan mengingat bentuk kata, ekspresi, dan gramatikal lebih mudah. Komik juga
dapat digunakan sebagai fasilitas pengajaran kosakata.
(Brown, 1994) menunjukkan bahwa internalisasi terbaik dari kosakata berasal dari pertemuan (komprehensi dan produksi) kata dalam konteks sekitarnya. Dengan cara ini, peserta akan mengasosiasikan kata dengan konteks sebenarnya dan merekadapat
mengingat dan menggunakannya lebih baik daripada hanya mempelajari setah kata dan
maknanya secara korespondensinya. Selain
kosakata, kompetensi tata bahasa dapat
ditingkatkan dengan baik. Dengan bantuan komik, tata bahasa baru dapat diperkenalkan dan
dipraktikan, dan sejak materi tata bahasa ditanamkan di dalam cerita dengan struktur
yang
logis, peserta akan
mampu mengingat lebih
baik selanjutnya.
Karakteristik komik juga mampu meningkatkan motivasi (khususnya komikyang
berwarna). Hal yang lebih penting jika kata, ekspresi, atau konsep disertai oleh gambar
(visual gambar dalam satu pikiran),
selanjutnya peserta akan lebih mudah menghafal dan mengingat lebih mudah. Fakta bahwa visual komik juga berkontribusi untuk meningkatkan kompetensi komunikasi. Di dalam komik, kehidupan seperti situasi dan ekspresi
yang digunakan dalampercakapan, bahasa sehari-hari, sebagai contoh,
idiom, pengurangan
bentuk, bahasa slang, dan ekspresi yang membutuhkan berbagai pengetahuan budaya.
Konsekuensinya, komik membantu peserta menangani percakapan bahkan dalam situasi
informal. Keuntungan lainnya dari visual komik adalah gestur dan bahasa tubuh dari para
tokoh. Kontribusi ini untuk membangun kompetensi komunikasi, yang artinya termasuk ke
dalam komunikasi nonverbal.
C. Perencanaan Pembelajaran BIPA
Pengajar yang mengajar di kelas BIPA pada tingkat pemula harus menyiapkan dan
menyusun lesson plan sebelum melaksanakan pembelajaran di dalam kelas. Lesson plan
untuk setiap mata kuliah BIPA dibuat setiap pertemuan. Hal ini diketahui berdasarkan hasil
wawancara dengan pengajar BIPA pada tingkat pemula. Lesson plan disusun untuk setiap kompetensi dasar. Isi lesson plan
tersebut terdiri dari beberapa komponen, yaitu identitas, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, materi, metode,
langkah-langkah pembelajaran,
alat
dan sumber belajar, serta
penilaian.
Penyusunan rencana pembelajaran secara umum perlu memperhatikan beberapa hal. Dalam
merencanakan pembelajaran, pengajar harus mengatur, mengoordinasikan, dan menetapkan
unsur-unsur atau komponen-komponen pembelajaran yang berupa tujuan pembelajaran (kompetensi), isi atau materi yang harus diberikan untuk mencapai
kompetensi, strategi pelaksanaan, dan penilaian yang digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan
pembelajaran. Komponen tersebut tidaklah berdiri sendiri, tetapi saling berinteraksi, saling
mempengaruhi sehingga membentuk satu kesatuan. Penyusunan lesson plan
oleh pengajar BIPA pada
tingkat pemula dilakukan
dengan mengetik di
komputer.
D. Perencanaan Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran BIPA adalah agar peserta terampil menggunakan bahasa Indonesia
secara komunikatif dan pragmatis (Badan Bahasa, 2012). Tujuan umum tersebut
diterjemahkan pengajar melalui kompetensi dasar yang dijabarkan menjadi indikator-indikator pada setiap pertemuan. Selanjutnya, pengajar merumuskan tujuan pembelajaran tiap pertemuan berdasarkan indikator tersebut. Sebelum mengajar BIPA, pengajar BIPA pada
tingkat pemula telah merencanakan tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada hari
itu yang dituliskan dalam lessson
plan. Perencanaan tujuan
pembelajaran tersebut merupakan target atau hasil yang akan dicapai. Keberadaan target tersebut
akan mengawal arah
pembelajaran sehingga
dalam proses pembelajaran
yang dilaksanakan
tidak menyimpang.
Berdasarkan tujuan yang tertulis dalam lesson plan,
tampak bahwa pengajar BIPA di
Program BIPA tidak hanya menekankan pada aspek kebahasaannya, tetapi juga pada aspek kebudayaannya. Hal tersebut
sesuai dengan tujuan pembelajaran BIPA yang dirumuskan
oleh Badan Bahasa.
E. Penentuan Materi dan Pemilihan
Strategi Pembelajaran
Penentuan materi dan pemilihan strategi pembelajaran merupakan dua aspek yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam proses pembelajaran. Materi pembelajaran harus
diajarkan dan dipelajari peserta sebagai sarana pencapaian standar kompetensi
dan kompetensi dasar yang akan dinilai dengan menggunakan instrumen penilaian yang disusun berdasarkan indikator pencapaian hasil belajar. Berkaitan dengan hal tersebut, penyampaian informasi untuk mencapai kompetensi erat kaitannya dengan strategi pembelajaran
yang dipilih. Banyak strategi
belajar yang dapat digunakan dalam
proses belajar di kelas BIPA.
Pengajar BIPA pada tingkat pemula telah merencanakan pemilihan strategi atau metode mengajar sebelum proses pembelajaran BIPA dilaksanakan. Metode yang direncanakan pengajar ialah metode pembelajaran kooperatif yang menggunakan model pembelajaran picture and picture. Metode pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran
yang
mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang saling asah, silih asih, dan silih asuh. Model pembelajaran picture and picture
adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar yang diurutkan secara logis. Pembelajaran ini memiliki ciri aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan. Model apapun yang digunakan selalu menekankan aktifnya peserta didik dalam setiap proses pembelajaran. Model pembelajaran ini
mengandalkan gambar sebagai media dalam proses pembelajaran. Gambar-gambar ini menjadi
faktor utama dalam proses pembelajaran,
salah
satunya adalah media komik.
F. Perencanaan Penilaian
Penilaian hasil belajar perlu dilakukan untuk
mengetahui perkembangan dan kemajuan belajar peserta. Dalam lesson plan yang disusun pengajar, juga dituliskan rencana penilaian
yang
akan dilakukan. Penilaian dilakukan secara tertulis dan lisan. Penilaian tertulis
dilakukan dalam bentuk mengisi kalimat rumpang, sedangkan penilaian lisan dilakukan
dalam bentuk berbicara. Penilaian direncanakan dilakukan pada setiap akhir kegiatan pembelajaran. Jadi, jika satu kompetensi dasar disampaikan dalam dua kali tatap muka,
penilaian pun dilakukan guru
sebanyak dua kali.
G. Pelaksanaan Pembelajaran BIPA
Pembelajaran BIPA pada tingkat pemula dilaksanakan dari Senin hingga Kamis. Dalam seminggu,para
peserta mendapatkan waktu selama 16 jam dalam belajar BIPA. Pada hari
Senin dan Rabu, peserta akan mempelajari
tentang berbicara dan menyimak. Sementara
pada Selasa dan Kamis, peserta akan mempelajari tentang
membaca dan tata bahasa.
a. Kegiatan guru dalam
mengawali pembelajaran
Sebelum membuka pelajaran pengajar menyapa dan memperkenalkan diri kepada peserta
terlebih dahulu. Seperti biasa, pengajar langsung membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam, “Selamat Pagi!” Salam tersebut kemudian dijawab
dengan antusias
oleh para pebelajar
BIPA “Selamat Pagi, Pak!”Pengajar kemudian menanyakan kabar kepada
peserta, “Apa kabarnya?” Sebagian peserta akan
menjawab dan sebagian lagi mencoba untuk menjawab meskipun malu. Hari ini adalah hari pertama pada semester awal Program BIPA. Para pebelajar berasal dari negara yang berbeda dan memiliki latar belakang yang
berbeda dan pengalaman berbeda dengan bahasa Indonesia. Setelah menyapa dan
menanyakan kabar,
pengajar kemudian memperkenalkan diri dalam bahasa Indonesia, “Kenalkan nama saya Bari Pratama.” Pengajar lalu mengecek presensi peserta BIPA dan mencoba
mengenal lebih dekat dengan
para peserta.
Pengajar memanggil nama mereka dan mencoba berinteraksi dalam bahasa Indonesia. Hal
tersebut bertujuan untuk mengukur sejauh mana keterampilan mereka berbahasa Indonesia. Setelah mengenal latar belakang para peserta, pengajar mulai menyampaikan tujuan pembelajaran hari itu.
b. Kegiatan guru dalam penerapan media komik pada pembelajaran BIPA
Pengajar melanjutkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan materi yang akan dipelajari, yaitu tentang mengenal huruf dan memperkenalkan diri. Media yang
digunakan untuk materi ini adalah komik. Komik ini digunakan untuk membantu peserta menyimak kosakata yang mereka dengar dari rekaman. Di dalam komik, balon kata yang kosong
dapat mereka isi sesuai
dengan kata-kata yang mereka dengar dari rekaman. Namun, sebelum memulainya, pengajar harus mengajarkan terlebih dahulu huruf-huruf dalam bahasa Indonesia dan mengucapkannya
bersama-sama dengan
para peserta. Para peserta pun ada
yang tidak mahir dalam berbahasa Inggris dengan baik. Oleh
karen itu, penting
sekali pengajar memulai dengan pengenalan huruf-huruf bahasa
Indonesia. Setelah peserta selesai belajar mengenai huruf-huruf, pada mata kuliah menyimak dan
berbicara, Peserta diharuskan mengisi setiap balon kata yang kosong tersebut. Adapun
tampilan dari komik tersebut
adalah sebagai berikut.



Gambar 1. Komik Materi Menyimak dan Berbicara
Pengajar akan membagikan komik tersebut. Setelah mendapatkan komiknya, peserta akan
melihat-lihat komiknya dan bersiap untuk mendengarkan rekaman yang akan diputar
pengajar.
P Aktivitas 1
Pengajar akan memutar rekaman yang berisi dialog di dalam komik. Kecepatan rekaman disesuaikan dengan
kemampuan
para peserta di tingkat pemula,
yaitu tidak terlalu cepat.
P Aktivitas 2
Peserta mulai mengisi balon kata dengan yang mereka dengar dari rekaman. Biasanya pada
rekaman pertama, peserta belum mampu mengisi dengan lengkap balon kata yang ada di
komik tersebut. Oleh
karena
itu, pengajar harus mengulang 2-3 kali lagi.
PAktivitas 3
Pada aktivitas 3, pengajar dan peserta akan membahas apa isi balon kata yang kosong
tersebut. Setiap peserta mendapat giliran untuk menjawab setiap
balon kata yang ada.
PAktivitas 4
Peserta kemudian
melakukan simulasi
berperan dalam kelompok. Dalam hal ini, peserta akan mengikuti apa yang sudah mereka pelajari di kelas menyimak sebelumnya. Mereka akan
mengikuti balon kata yang ada di komik.
Penggunaan media komik ini saling terkait dan terintegrasi satu dengan lainnya. Sebelum membaca teks bahas Indonesia yang serius, peserta dapat menggunakan
komik sebagai jembatan
dalam
membaca.



Gambar 2. Komik Materi Membaca
dan Tata Bahasa
Pengajar akan
meminta
peserta untuk membuka kembali komik
yang kemarin
sudah diterima mereka. Peserta akan akan diminta untuk membaca setiap kata dan kalimat yang ada di
dalam balon kata komik tersebut. Pembelajaran ini akan menyenangkan bagi para peserta
yang
baru pertama kali belajar bahasa Indonesia. Setelah membaca,
peserta akan mengerjakan soal yang berkaitan dengan tata bahasa yang ada di dalam komik tersebut. Adapun langkah-langkah dari penerapan komik pada mata kuliah membaca dan tata bahasa
adalah sebagai berikut.
PAktivitas 1
Pengajar akan membagi peran setiap peserta sesuai dengan tokoh yang ada di dalam komik.
Pengajar akan mengulangi instruksi hingga peserta memahami apa yang harus dilakukan mereka.
PAktivitas 2
Setelah memahami instruksi, peserta dapat membaca setiap dialog bagian mereka masing-masing. Aktivitas ini dapat dilakukan berulang-ulang
hingga peserta terbiasa dengan kata-kata dan kalimat di dalamnya. Agar tidak membosankan, pengajar dapat membuat peserta
berganti peran
di dalam komik.
PAktivitas 3
Selesai dari aktivitas 2, pengajar dapat menanyakan atau menjelaskan kosakata yang tidak
dipahami.
PAktivitas 4
Pada aktivitas ini, pengajar dapat menjelaskan mengenai budaya memperkenalkan diri di depan
kelas merupakan suatu budaya yang melekat di Indonesia, speerti kata pepatah, “Tak kenal, maka tak sayang.”
PAktivitas 5
Pada aktivitas 5, pengajar sudah yakin bahwa kosakata yang ada di dalam komik sudah
dipahami mereka. Pengajar akan mulai memberikan latihan tata bahasa yang ada di akhir buku komik. Pengajar akan membimbing peserta ketika menjawab pertanyaan yang ada di
akhir buku komik.
c. Kegiatan Guru dalam
Mengakhiri Pembelajaran
Di
akhir pembelajaran, pengajar tidak lupa menyimpulkan pembelajaran, memberikan
evaluasi,dan budaya kepada para peserta BIPA. Pengajar kemudian menutup pembelajaran
dengan menyampaikan salam. Pengajar juga akan menuliskan laporan harian pembelajaran di
kelas.
d. Penilaian Hasil Belajar BIPA
Cara yang dilakukan oleh pengajar untuk mengetahui kemampuan peserta dalam penguasaan materi adalah melalui penilaian. Kriteria penilaian yang dilakukan pengajar ialah aspek
keterampilan dan pemahaman. Hal ini tampak dari teknik yang digunakan berupa tes dan
instrumennya berupa soal serta praktik. Hasil belajar peserta pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas
mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Salah satu fungsi penilaian menurut (Sudjana, 2006) adalah sebagai alat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pembelajaran. Dengan fungsi ini, penilaian harus mengacu pada rumusan-rumusan tujuan
pembelajaran sebagai penjabaran dari kompetensi
mata kuliah. Berdasarkan hasil pengamatan dan lesson plan, pengajar hanya melakukan penilaian hasil belajar pada aspek
keterampilan dan pemahaman saja.
Hal tersebut nampak dari instrumen penilaian.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan pemaparan materi yang telah dibahas sebelumnya
maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Cara pengajar BIPA dalam
merencanakan program pembelajaran adalah dengan menyiapkan materi pelajaran
untuk tiap-tiap pertemuan sesuai dengan standar kompetensi dasar yang dikuasai
pebelajar.
2.
Proses pembelajaran BIPA dimulai dengan beberapa kegiatan sebagai berikut:
a. Kegiatan mengawali pembelajaran dengan
menyampaikan salam, mengecek kehadiran peserta, menyampaikan tujuan
pembelajaran, dan melakukan apersepsi.
b. Pengajar BIPA pada tingkat pemula mengelola proses belajar mengajar
dengan cara menyampaikan materi kepada peserta dengan menggunakan metode
pembelajaran kooperatif dengan menggunakan model picture dan picture.
c. Pengajar mengakhiri pembelajaran dengan
menyimpulkan materi, memberikan
evaluasi dan pesan budaya kepada para
pebelajar BIPA.
3. Penilaian hasil belajar BIPA dilakukan
dengan teknik tes, baik tes tertulis maupun
tes lisan.
B.
Saran
Komik tidak hanya bacaan lucu, tetapi juga sebagai metode logis yang digunakan. Dengan menggunakan komik, pengajar dapat melatih hampir semua kompetensi. Ada banyak lagi keuntungan penggunaan komik. Peserta telah memberikan masukan yang baik setelah menggunakan komik dalam pembelajaran BIPA. Penerapan media komik di kelas BIPA ini
menjadi nilai tambah yang ada di Program BIPA. Peserta
merasa tidak bosan karena aktivitas yang dilakukan di dalam kelas bersama pengajar lain.
Oleh karena itu, saran bagi praktisi untuk terus mengembangkan dan mengintegrasikan media komik ke dalam materi pembelajaran BIPA. Semoga makalah ini dapat menginspirasi para
penulis
lainnya untuk melanjutkan penulisan serupa di bidang lainnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Brown, H. D. (1994). Teaching
by Principles: an Interactive Approach to Language Pedagogy.
Upper
Saddle River. NJ: Prentice Hall Regents.
Darmadi, H. (2009). Kemampuan
Dasar Mengajar. Bandung: Alfabeta. Eisner.
W. (2002). Comics
and Sequential Art. Florida: Poorhouse
Press Hurlock.
E. B.
(2000). Child Development. Jakarta:
Erlangga. Masdiono, T. (2001). 14 Jurus Membuat
Komik. Jakarta: Creativ Media.
McCloud, S. (2001). Understanding Comic. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
----------. (2008).
Membuat Komik. Jakarta: PT
Gramedia
Pustaka Utama.
Oller, J. W. (1983). Story Writing
Principles and ESL teaching. TESOL Quarterly, Vol. 17, No.
1, 39-53.
Poerwadarminta, W.J.S. (1982). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Sudjana, N. dan R. Ahmad.
(2001). Media Pengajaran. Bandung : CV Sinar Baru Bandung.
Sudjana, N. (2006). Penilaian Hasil Proses
Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar