INNE PELANGI
KARYA TULIS ILMIAH
Karya
tulis ilmiah pada program S-2 adalah tesis. Tesis adalah analisis yang mendalam
terhadap fakta-fakta yang ditemukan. Karya tulis ilmiah pada program S-3 adalah
disertasi. Disertasi harus ada nilai kebaharuan, dimana hal itu pernah
dilakukan oleh orang lain/pengulangan. Dalam hal ini tesis maupun disertasi
harus didukung oleh faktor penunjang yaitu bahasa yang benar, dimana bahasa
yang sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku. Sebuah karya tulis ilmiah dengan
karya tulis ilmiah yang lain yang membedakan adalah kualitas tulisannya, semua
itu tidak terlepas dari kemampuan bahasa yang dimiliki oleh seorang peneliti.
A. Peran
Karya Tulis Ilmiah
Rendahnya
minat seseorang dalam menulis sebuah karya ilmiah karena dipengaruhi oleh
beberapa hal antara lain:
1. Keterbatasan
waktu
2. Keterbatasan
proyek atau anggaran-anggaran penelitian terbatas (dana)
3. Kemampuan
meneliti
Karya
tulis ilmiah (KTI) merupakan sebuah keterampilan yang harus di back up dengan
keterampilan pula, oleh karena itu di dalam sebuah karya tulis ilmiah biasanya
digunakan gaya selingkung yakni pedoman atau tata cara penulisan yang
diterapkan hanya pada suatu lingkungan, dan gaya selingkung dapat ditoleransi
bergantung dari pembimbing atau penguji. Akan tetapi, tetap berlandaskan pada
kaidah bahasa Indonesia yang benar.
Salah
satu jenis karya tulis ilmiah yang sederhana adalah makalah yang terdiri dari
sampul, judul, penulis, identitas institusi (Jurusan, prodi, tahun), dan logo.
Adapun komponen makalah terdiri dari halaman sampul, kata pengantar, daftar isi.
CONTOH KARYA TULIS
ILMIAH SEDERHANA
![]() |
Keterangan:
Pada
karya tulis ilmiah judul merupakan rambu pertama dan utama yang memberikan
gambaran permasalahan yang penting untuk peneliti lakukan. Prinsip judul, harus
singkat, jelas, dan mengandung tanda tanya. Judul tesis berkaitan dengan
metode, strategi, uji model, dan pendekatan tidak dengan kemapuan dan
pengembangan. Kata ‘kemampuan’ digunakan untuk judul skripsi, sedangkan kata
‘pengembangan’ digunakan untuk judul disertasi.
BAB
I
A.
Latar belakang
Pada
bab I pendahuluan terdapat latar belakang dimana latar belakang menggambarkan kesenjangan
antara kenyataan dan harapan. Kesenjangan itu dihubungkan antara harapan dan
kenyataan, hal ini penting dilakukan karena ada kenjangan bahkan terdapat
kontradiksi antara harapan dengan kenyataan, maka dari itu perlu diteliti.
Adapun pola penyajian sebuah latar belakang yaitu deduksi = umum-khusus, dan
induksi = khusus-umum. Gagal merumuskan
latar belakang berarti gagal memahami realitas yang ada. Intinya pada latar
belakang terdapat masalah yang harus diteliti. Seorang peneliti bukan hanya
tajam di hati, tetapi juga harus tajam di logika, bukan hanya tajam di mata,
tetapi juga harus tajam di pendengaran. Pada latar belakang harapan dihubungkan
dengan realitas, jika terdapat ketimpangan antara realitas dan harapan, maka di
situlah peran peneliti.
Contoh:
1.
Pendidikan guru sudah
S-2 tetapi potensi siswa-siswa masih rendah, berarti ada ketimpangan
Dari contoh 1 di atas terdapat ketimpangan, di
sinilah peran peneliti harus mampu melihat antara realitas dan harapan.
Peneliti harus tajam melihat gejala-gejala sosial dan fakta-fakta yang terdapat
di lapangan terutama yang memiliki fungsi sosial sebab segala sesuatu yang
memiliki fungsi sosial tidak akan pernah lenyap dari bumi.
Dari
pemaparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa latar belakang adalah dialog
antara realitas, harapan, dan teori.
B. Rumusan masalah
Dalam
latar belakang persoalan yang muncul tidak terbatas melainkan sangat luas. Maka
dari itu pada bagian rumusan masalah dirumuskan apa-apa saja yang ingin
diteliti. Rumusan masalah juga merupakan bagian yang penting dari suatu
penelitian, karena pada latar belakang permasalahan luas dan tak terbatas sehingga
perlu dibatasi hal apa saja yang sanggup diteliti oleh peneliti. Pembatasan
masalah juga karena pertimbangan waktu, tenaga, dan materi. Maksud permasalahan
dirumuskan di rumusan masalah ialah permasalahan itu di lokalisir, dibatasi,
dipertajam, dipersempit sehingga penelitian dapat terarah. Merumuskan masalah terbagi dalam dua bentuk,
yakni dalam bentuk pertanyaan, dan dalam bentuk pernyataan.
C. Tujuan penelitian
Tujuan
penelitian merupakan jawaban, sasaran dari rumusan masalah oleh karena itu rumusan
masalah dengan tujuan penelitian selalu beriring. Tujuan penelitian dirumuskan
berdasarkan rumusan masalah. Jika rumusan masalah terdapat dua maka tujuan
penelitian juga dua. Antara rumusan masalah dengan tujuan penelitian nyaris
sama, yang berbeda adalah redaksi kata yang digunakan.
D. Manfaat penelitian
Manfaat penelitian dirumuskan
sendiri oleh calon peneliti. Penelitian itu berfungsi untuk dua hal:
1. Memberi
sumbangan bagi ilmu pengetahuan
2. Memiliki
manfaat untuk kepentingan sosial.
Manfaat penelitian juga terbagi menjadi
menjadi tiga bagian yaitu:
1.
Manfaat akademis
Contoh: memperbaiki teori pembelajaran
sastra
2.
Manfaat teoritis
Contoh: berkaitan dengan pengembangan
ilmu pengetahuan di bidang sastra
3.
Manfaat praktis
Contoh: meningkatkan, memperbaiki kualitas
pendidikan anak bangsa
BAB II
B. KAJIAN
PUSTAKA
Kajian
pustaka merupakan dialog antara realitas dengan teori. Oleh karena itu setiap
karya ilmiah selalu disandarkan pada teori yang sudah ada, dan penelitian harus
mengikuti sistematika yang sudah ada. Di dalam kajian pustaka tidak hanya
digunakan satu teori, melainkan beberapa teori. Teori dapat dibagi ke dalam
tiga tingkatan menurut anatomi ilmu. Teori paling atas yang dijadikan sebagai
grand teori (teori utama) yang dijadikan sebagai payung pendukung teori yang
lain adalah teori akbar kemudian teori yang kedua adalah teori menengah, dan
teori yang ketiga atau terakhir adalah teori terapan.
Contoh :
1. Penelitian
pembelajaran menulis karangan eksposisi (teori akbar)
2. Teori
pembelajaran menulis karya ilmiah (teori menengah)
3. Teori
menulis (teori terapan)
Jadi, di dalam kajian pustaka tidak bisa
hanya dengan satu teori saja karena tidak mendukung teori yang lain, seperti
pada ketiga contoh di atas, ketiga teori yang ada saling mendukung satu sama
lain, dan paling penting dalam setiap
menulis atau meneliti adalah payung penelitian.
Tujuan
teori ada dalam kajian pustaka untuk digunakan, diterapkan guna memahami penyaringan
data. Dalam proses menganalisis peneliti akan dibatasi oleh ruang berpikir
karena teori yang ada. Biasanya penelitian hanya berdasarkan intuisi
(pengalaman hidup), tidak berdasarkan teori yang ada. Dalam penulisan karya
tulis ilmiah sekecil apapun data ditemukan harus berlandaskan dari teori,
karena fungsi teori untuk menuntun seorang peneliti agar tidak salah arah,
tidak salah kaprah, dan tidak salah berpikir. Bagaimanapun suatu teori sudah
teruji kebenarannya.
Teori boleh ditafsir, ditanggapi, tetapi
tidak boleh disimpulkan karena ketika disimpulkan berarti telah selesai
digunakan. Teori harus kelihatan perannya di dalam sebuah karya tulis ilmiah
yang dibuat. Teori yang satu dengan teori yang lain harus bisa ditaik benang
merahnya. Jadi satu teori dengan teori yang lain harus relevan kemudian
diterapkan.
BAB
III
C. METODOLOGI
PENELITIAN
Ada beberapa komponen prosedur di dalam
suatu karya tulis ilmiah yang disebut penelitian, salah satunya adalah
metodologi. Metodologi adalah hal-hal vitual yang berkaitan dengan prosedur
kerja. Metodologi memuat desain penelitian, metode dan teknik penelitian,
populasi dan sampel (penelitian kuantitatif), data dan sumber data (penelitian
kualitatif), teknik pengumpulan data, teknik analisis data, dan jadwal rencana
penelitian. Desain penelitian ada dua yaitu, kuantitatif, dan kualitatif.
Metodologi penelitian tidak dibuat oleh
peneliti, akan tetapi isi dan metodologi penelitian itu bersumber dari
buku-buku. Tugas peneliti adalah memilih dan menentukan teknik dan metode yang
akan dilakukan.
Bagian terakhir dari sebuah karya tulis
ilmiah adalah referensi atau daftar pustaka yang menjadi sumber atau acuan
dalam penulisan karya tulis ilmiah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar