INTERFERENSI PENGGUNAAAN BAHASA PADA ACARA DI TELEVISI
(DAHSYAT DAN INBOX)
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Bahasa selalu mengalami
perkembangan dan perubahan. Perkembangan dan perubahan itu terjadi karena
adanya perubahan sosial, ekonomi, dan budaya. Perkembangan bahasa yang cukup
pesat terjadi pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kontak bahasa, baik
yang bersifat individual (bilingual) maupun sosial (diglossia) menimbulkan
berbagai fenomena kebahasaan, seperti interferensi, integrasi, pidgin, kreol,
alih kode, campur kode, pemilihan dan pemilihan bahasa, dsb (Wijana, Putu Dewa
dan Muhammad Rohmadi, 2011:6). Kontak pada bidang politik, ekonomi, ilmu
pengetahuan, dan lainnya dapat menyebabkan suatu bahasa terpengaruh oleh bahasa
yang lain. Proses saling mempengaruhi antara bahasa yang satu dengan bahasa yang
lain tidak dapat dihindarkan. Adanya bilingualisme atau kedwibahasaan juga akan
menimbulkan adanya interferensi dan integrasi bahasa.
Menurut Nababan (Adawiyah,
2009:6) masyarakat yang berganda bahasa akan terdapat berbagai macam pola
kedwibahasaan yang terdiri dari unsur-unsur berikut: bahasa yang dipakai,
bidang kebahasaan, dan teman berbahasa. Interferensi bahasa yaitu
penyimpangan norma kebahasaan yang terjadi dalam ujaran dwibahasawan karena
keakrabannya terhadap lebih dari satu bahasa, yang disebabkan karena adanya
kontak bahasa. Selain kontak bahasa, faktor penyebab timbulnya interferensi
adalah tidak cukupnya kosakata suatu bahasa dalam menghadapi kemajuan dan
pembaharuan. Selain itu, juga menghilangnya kata-kata yang jarang digunakan,
kebutuhan akan sinonim, dan prestise bahasa sumber. Kedwibahasaan peserta tutur
dan tipisnya kesetiaan terhadap bahasa penerima juga merupakan faktor penyebab
terjadinya interferensi.
Peristiwa interferensi tidak
hanya dipakai dalam penggunaa bahasa tulisan, melainkan sering digunakan dalam
bahasa lisan, terutama dalam acara televisi, misalnya pada acara musik Dahsyat
dan Inbox. Hal ini akan berdampak kepada penonton yang mayoritas adalah
remaja dalam penggunaan tata bahasa yang menyimpang dari norma bahasa Indonesia.
Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meneliti penggunaan interferensi yang
terdapat dalam acara di televisi yaitu Dahsyat dan Inbox.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang
tersebut maka rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
a. Bagaimana bentuk Interferensi bahasa yang terkandung
dalam acara di televisi khususnya Dahsyat
dan Inbox?
b. Apa penyebab terjadinya interferensi bahasa acara di
televisi khususnya Dahsyat dan Inbox?
C. Batasan Masalah
Penelitian ini memfokuskan pada
pendeskripsian bilingualisme dan interferensi dan penyebab terjadinya
interferensi bahasa acara di televisi khususnya dalam Dahsyat dan Inbox.
D. Tujuan
Penelitian
Berdasarkan
rumusan penelitian, maka tujuan penelitian sebagai berikut:
1. Pendekripsian bentuk Interferensi bahasa yang
terkandung dalam acara di televisi khususnya
Dahsyat dan Inbox?
2. Pendeskripsian penyebab terjadinya interferensi bahasa
acara di televisi khususnya Dahsyat dan
Inbox?
C. Manfaat
Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan
manfaat sebagai berikut:
1.
Menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat khususnya
para penonton acara di televisi mengenai
interferensi.
2. Sebagai bahan referensi bagi para peneliti yang
ingin meneliti interferensi khususnya
interferensi di media massa.
3. Agar penelitian mengenai kedwibahasaan
khususnya interferensi ini dapat dikembangkan dan dilanjutkan oleh para
peneliti lainnya.
BAB
II
KAJIAN
TEORI
A. Bilingualisme
Istilah Bilingualisme (Inggris: bilingualism)
dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan. Jadi yang dimaksud
dengan bilingualisme yaitu berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau kode
bahasa. Menurut Mackey dan Fishman (Chaer dan Leonie, 2004:84) Secara
sosiolinguistik, secara umum, bilingualisme diartikan sebagai penggunaan dua
bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara
bergantian. Untuk dapat menggunakan dua bahasa tentunya seseorang harus
menguasai kedua bahasa itu. Pertama, bahasa ibunya (B1) dan yang lain menjadi
bahasa keduanya (B2). Orang yang dapat menggunakan kedua bahasa itu disebut
orang bilingual. Sedangkan kemampuan untuk menggunakan dua bahasa disebut
bilingualitas. Selain istilah bilingualisme dengan segala jabarannya ada juga
istilah multilingualisme (dapat menggunakan lebih dari dua bahasa/banyak
bahasa). Dimana bilingualisme dan multingualisme merupakan model yang sama.
Konsep umum bahwa bilingualisme adalah
digunakannya dua buah bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan
orang lain secara bergantian telah menimbulkan sejumlah masalah yang biasa
dibahas kalau orang memnbicarakan bilingualisme (Chaer dan Leonie, 2004:85):
1. Sejauhmana taraf kemampuan seseorang akan B2 (B1
tentunya dapat dikuasai dengan baik)
sehingga dia dapat disebut dengan seorang yang bilingual?
2. Apakah
yang dimaksud dengan bahasa dalam bilingualisme ini?
Apakah bahasa dalam pengertian langue,
atau sebuah kode, sehingga bisa termasuk sebuah dialek atau sosiolek?
3. Kapan
seorang bilingual menggunakan kedua bahasa itu secara bergantian? Kapan
Dia harus menggunakan B1-nya, dan
kapan pula harus menggunakan B2-nya?
Kapan pula dia dapat secara bebas
untuk dapat menggunakan B1-nya atau B2-
nya?
4. Sejauh mana B1-nya dapat mempengaruhi B2-nya, atau
sebaliknya, B2-nya dapat mempengaruhi
B1-nya?
5.
Apakah bilingualisme itu berlaku pada perseorang
(seperti yang disebut dalam konsep umum)
atau juga berlaku pada satu kelompok masyarakat tutur?
Konsep bahwa bahasa merupakan
identitas kelompok memberi peluang untuk menyatakan adanya sebuah masyarakat
tutur yang bilingual, yang menggunakan dua bahasa sebagai alat komunikasinya.
Masyarakat tutur yang demikian tidak hanya terbatas pada sekelompok orang,
malah bisa juga meluas meliputi wilayah yang sangat luas: mungkin juga meliputi
satu negara (Chaer dan Leonie, 2004:91).
Seperti yang dikatakan Wolf (Chaer dan
Leonie, 2004:91), salah satu ciri bilingualisme adalah digunakannya dua bahasa
atau lebih oleh seorang atau sekelompok orang dengan tidak adanya peranan
tertentu daro kedua bahasa itu. Artinya, kedua bahasa itu dapat digunakan
kepada siapa saja, kapan saja, dan dalam situasi bagaimana saja.pemilihan
bahasa mana yang harus digunakan tergantung pada kemampuan si pembicara dan
lawan bicaranya.
B. Interferensi
Istilah interferensi pertama kali digunakan oleh
Weinreich (Chaer dan Leonie, 2004:120) menyebutkan adanya perubahan sistem
suatu bahasa sehubungan dengan adanya persentuhan bahasa tersebut dengan
unsur-unsur bahasa lain yang dilakukan oleh penutur yang bilingual. Penutur
bilingual adalah penutur yang menggunakan dua bahasa secara bergantian dan
penutur multingual, kalau ada, tentu penutur yang dapat menggunakan banyak
bahasa secara bergantian. Namun, kemampuan setiap penutur terhadap B1 (bahasa
ibu, yang dipelajari dan digunakan sejak kecil dalam keluarga) dan B2 (bahasa
yang baru kemudian dipelajari yakni setelah menguasai B1) sangat bervariasi.
Ada penutur yang menguasai B1 dan B2 sama baiknya, tetapi ada pula yang tidak;
malah ada yang kemampuannya terhadap B2 sangat minim.
Penutur bilingual yang mempunyai kemampuan
terhadap B1 dan B2 sama baiknya, tentu tidak mempunyai kesuliatan untuk
menggunakan kedua bahasa itu kapan saja diperlukan, karena tindak laku
kedua bahasa itu terpisah dan bekerja sendiri-sendiri. Penutur bilingual yang
mempunyai kemampuan seperti ini oleh Ervin dan Osgood (Chaer dan Leonie,
2004:121) disebut berkemampuan bahasa yang sejajar sedangkan yang
kemampuan terhadap B2 jauh lebih rendah atau tidak sama dari kemampuan terhadap
B1-nya disebut berkemampuan bahasa yang majemuk. Penutur yang
mempunyai kemampuan majemuk ini biasanya mempunyai kesulitan dalam menggunakan
B2-nya karena akan dipengaruhi oleh kemampuan B1-nya.
Interferensi reseptif dan
interferensi produktif yang terdapat dalam tindak laku bahasa penutur bilingual
disebut interferensi perlakuan (Inggris: performance
interference). Interferensi perlakuan biasa terjadi pada mereka yang sedang
belajar bahasa kedua. Karena itu interferensi ini lazim juga disebut interferensi
belajar (Inggris: learning interferece) atau interferensi
perkembangan (Inggris: developmental interference). Namun,
di dalam studi sosiolinguistik yang banyak dibicarakan adalah interferensi
seperti yang dikemukakan oleh Weinreich (Chaer dan Leonie, 2004:122).
Interferensi yang dimaksud oleh Weinreich adalah interferensi yang tampak dalam
perubahan sistem suatu bahasa, baik mengenai sistem fonologi, morfologi, maupun
sistem lainnya. Oleh karena interferensi mengenai sistem suatu bahasa, lazim
juga disebutinterferensi sistemik. Dalam bahasa Indonesia interferensi
pada sistem fonologi dilakukan, misalnya oleh para penutur bahasa Indonesia
yang berasal dari Tapanuli./ / pada kata seperti
<dengan> dan <rembes> dilafalkan [ ] dan [r ].
Penutur bahasa Indonesia yang
berasal dari Jawa selalu menambahkan bunyi nasal yang homorgan di muka
kata-kata yang dimulai dengan konsonan /b/,/d/,/g/,dan /j/, misalnya pada kata
[mBandung], [nDepok], [ngGombong], dan [nyJambi]. Begitu juga penutur bahasa
Indonesia yang berasal dari Bali biasanya mengucapkan fonem /t/ menjadi bunyiaplikoalveolar retrofleks
[t], seperti pada kata-kata [toko], [tutup], dan [mati]. Banyak penutur bahasa
Indonesia dalam berbahasa Inggris mengucapkan fonem /p/ bahasa Inggris pada
kata-kata seperti <Peter>, <petrol>, dan <pace>
menjadi , [petrol], dan, padahal harusnya dengan aspirasi, sehingga
menjadi , , . Di Jepang kata Inggrisgasolini dilafalkan
sebagai [gasorini], dan di Hawai nama George dilafalkan
sebagai [kioki].
Sehubungan dengan interferensi
dalam morfologi ini, Weinreich membedakan adanya tipe interferensi substitusi
(seperti halnya penutur Bali), interferensi overdiferensiasi (seperti halnya
penutur dari Tapanuli dan Jawa), interferensi underdeferensi (seperti penutur
Jepang), dan interferensi reinterpretasi (seperti penutur Hawai).
Interferensi dalam bidang
morfologi, antara lain, terdapat dalam pembentukan kata dengan afiks. Afiks-afiks
suatu bahasa digunakan untuk membentuk kata dalam bahasa lain. Umpamanya dalam
bahasa Belanda dan Inggris ada sufiks-isasi, maka banyak penutur bahasa
Indonesia yang menggunakannya dalam pembentukan kata bahasa Indonesia,
seperti neonisasi, tendanisasi, dan turinisasi. Bentuk-bentuk
tersebut merupakan penyimpangan dari sistematik morfologi bahasa Indonesia,
sebab untuk membentuk nomina proses dalam bahasa Indonesia ada konfiks pe-an.
Jadi, seharusnyapeneonan, penendaan,dan penurian.
Contoh lain dalam bahasa Arab sufiks –wi dan –ni untuk membentuk adjektif;
maka, banyak penutur bahasa Indonesia yang menggunakan sufiks itu seperti pada
kata-kata manusiawi, bahasawi, surgawi, dan gerejani. Penggunaan
bentuk-bentuk kata seperti ketabrak, kejebak, kekecilan, dan kemahalan dalam
bahasa Indonesia baku juga termasuk interferensi, sebab imbuhan yang digunakan
di ditu berasal dari bahasa Jawa dan dialek Jakarta. Bentuk yang baku
adalah tertabrak, terjebak, terlalu kecil, dan terlalu
mahal.
Interferensi dalam bidang
sintaksis, kita ambil contoh kalimat dalam bahasa Indonesia dari seorang
bilingual Jawa-Indonesia dalam berbahasa Indonesia. Bunyi kalimat itu “Di sini
toko Laris yang mahal sendiri”. Kalimat bahasa Indonesia itu berstruktur bahasa
Jawa, sebab dalam bahasa Jawa bunyinya adalah “Ning kene toko Laris sing larang
dhewe”. Kata sendiri dalam kalimat bahasa Indonesia itu
merupakan terjemahan dari kata Jawa dhewe. Kata dhewe dalam
bahasa Jawa, antara lain, memang berarti ‘sendiri’, seperti terdapat dalam
kalimat “Aku dhewe sing teko” (saya sendiri yang datang), dan “Kowe krungu
dhewe?” (apakah kamu mendengarnya sendiri). Tetapi katadhewe yang
terdapat di antara kata sing dan adjektif adalah berarti
‘paling’, seperti sing dhuwur dhewe ‘yang paling tinggi’,
dan sing larang dhewe ‘yang paling mahal’. Dengan demikian
dalam bahasa Indonesia baku kalimat tersebut di atas seharusnya berbunyi “Toko
Laris adalah toko yang paling mahal di sini”. Contoh lain, struktur kalimat
bahasa Indonesia, “Makanan itu telah dimakan oleh saya” adalah dipengaruhi oleh
bahasa Sunda, karena kalimat Sundanya adalah “Makanan teh atos dituang ku
abdi”. Dalam bahasa Indonesia baku susunannya haruslah menjadi, “Makanan itu
telah saya makan”.
Penggunaan serpihan kata, frase,
dan klausa di dalam kalimat dapat juga dianggap sebagai interferensi pada
tingkat kalimat. Perhatiankan serpihan- serpihan dari bahasa lain yang terdapat
dalam kalimat-kalimat bahasa Indonesia berikut:
1. Mereka
akan married bulan depan.
2. Nah karena saya sudah kandhung apik sama
dia, ya saya tanda tangan saja (Nah karena saya sudah benar-benar baik dengan
baik dengan dia, maka saya tanda tangani saja)
3. Yah apa boleh buat, better laat dan noit (Yah
apa boleh buat, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali)
4. Pemimpin kelompok itu selalu mengatakan education
is necessary for life(Pemimpin kelompok itu selalu mengatakan, bahwa
pendidikan adalah perlu dalam kehidupan)
Melihat contoh-contoh di atas, mungkin timbul
pertanyaan apa bedanya interferensi dengan campur kode, sebab contoh-contoh
tersebut dapat dikategorikan sebagai campur kode. Campur kode adalah penggunaan
serpihan-serpihan dari bahasa lain yang bisa berupa kata atau frase, dalam
menggunakan suatu bahasa. Contoh di atas adalah kalimat-kalimat bahasa
Indonesia yang di dalamnya terdapat serpihan dari bahasa Inggris, Jawa, dan
Belanda. Jadi, kesimpulannya adalah campur kode mengacu pada digunakannya
serpihan-serpihan bahasa lain dalam menggunakan suatu bahasa tertentu;
sedangkan interferensi mengacu pada adanya penyimpangan dalam menggunakan suatu
bahasa dengan memasukkan sistem bahasa lain, yang bagi golongan puris dianggap
sebagai suatu kesalahan.
Interferensi
dapat dikatakan sebagai suatu rahmat, karena interferensi merupakan suatu
mekanisme yang sangat penting untuk memperbanyak dan mengembangkan suatu bahasa
untuk mencapai taraf sebagai bahasa yang sempurna untuk dapat digunakan dalam
segala bidang kegiatan. Hockett (Chaer dan Leonie, 2004:126) mengatakan bahwa
interferensi merupakan satu gejala terbesar, terpenting, dan paling dominan
dalam bahasa.
Kiranya kontribusi terutama dari interferensi
itu adalah dalam bidang kosakata. Bahasa-bahasa yang mempunyai latar belakang
sosial budaya dan pemakaian yang luas (seperti bahasa Inggris dan bahasa Arab)
dan mempunyai kosakata yang secara relatif sangat banyak, akan banyak
memberikan kontribusi kosakata kepada bahasa-bahasa yang berkembang dan
mempunyai kontak dengan bahasa tersebut. Dalam proses interferensi, terdapat
tiga unsur yang mengambil peranan, yaitu: bahasa sumber atau bahasa donor,
bahasa penyerap atau resipien, dan unsur serapan atau importasi (Chaer dan
Leonie, 2004:126).
Menurut
Soewito (Chaer dan Leonie, 2004:126) interferensi dalam bahasa Indonesia dan
bahasa-bahasa Nusantara berlaku bolak-balik, artinya unsur bahasa daerah bisa
memasuki bahasa Indonesia dan bahasa Indonesia banyak memasuki bahasa daerah.
Tetapi dengan bahasa asing, bahasa Indonesia hanya menjadi penerima dan tidak
pernah menjadi pemberi.
Sehubungan
dengan adanya bahasa yang “kaya” dengan kosakata (seperti bahasa Inggris dan
bahasa Arab), dan bahasa yang masih berkembang yang kosakatanya belum banyak,
timbul pertanyaan, apakah hanya bahasa “kaya” yang bisa menjadi donor, dan
bahasa “miskin” juga dapat menjadi donor terhadap bahasa “kaya”. Menurut
logika, memang hanya bahasa yang kayalah yang mempunyai peluang untuk donor,
sedangkan bahasa miskin hanya menjadi resepien, dan tak berpeluang menjadi
bahasa donor. Namun, dalam kenyataannya, karena bahasa itu erat kaitannya
dengan budaya masyarakat penuturnya, maka dapat dikatakan (tidak sejalan dengan
pendapat Soewito) bahwa bahasa miskin pun dapat menjadi donor kosakata kepada
bahasa kaya, terutama untuk kosakata yang berkenaan dengan budaya dan alam
lingkungan bahasa donor. Jadi, interferensi leksikal bukanlah ditentukan oleh
kaya dan miskin suatu bahasa, melainkan oleh pengaruh budaya masyarakat bahasa
yang melekat pada bahasa itu. Bahasa indonesia dan bahasa asing dapat saling
bertukar unsur leksikal; bahasa Indonesia dan bahasa daerah pun demikian juga.
BAB
III
METODE
PENELITIAN
A.
Pendekatan Penelitian
Pendekatan
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif
deskriptif. Penelitian kualitatif deskriptif dalam penelitian ini adalah suatu
prosedur penelitian dengan hasil sajian data deskripstif berupa tuturan lisan
dalam suatu peristiwa tutur atau tindak berkomunikasi dan fenomena kebahasaan
yang turut mempengaruhi penggunaan bahasa dalam acara televisi khususnya pada acara musik Dahsyat dan
Inbox.. Metode yang digunakan dalam penelitian ini dijabarkan ke
dalam langkah- langkah sesuai dengan tahapan pelaksanaannya, yaitu (1) tahap
pengumpulan data, (2) tahap analisis data, dan (3) tahap pemaparan hasil
analisis atau tahap penyajian hasil penguraian data (Sudaryanto, 1988a: 57).
B.
Subjek
dan Objek Penelitian
Subjek
dalam penelitian ini adalah acara musik Dahsyat
dan Inbox di televisi. Di
dalam acara tersebut terdapat penggunaan interferensi
bahasa yang digunakan oleh artis-artis yang yang membawakan acara tersebut.
Objek
dalam penelitian ini adalah keseluruhan data yang berhubungan dengan interferensi
bahasa yang terdapat dalam acara musik Dahsyat dan
Inbox di inbox. Fokus dalam penelitian ini adalah hal-hal yang berhubungan
dengan interferensi bahasa dalam acara tersebut.
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak. Pada
penelitian ini, data dikumpulkan dalam bentuk pengambilan data primer. Agar
peneliti dapat melakukan analisis data, terlebih dahulu dipersiapkan instrumen
dan juga tahap pengumpulan data. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini
adalah manusia tepatnya peneliti sendiri sebagai pelaku seluruh penelitian dan
juga alat-alat perekam serta catatan lapangan.
Berikut adalah teknik yang digunakan peneliti dam
penelitian ini sebagai berikut (Sudaryanto, 1988b: 3):
1.
Teknik SBLC
(Simak bebas libat cakap)
Peneliti tidak terlibat secara langsung dalam proses
komunikasi dalam acara musik Dahsyat dan
Inbox di televisi. Peneliti hanya sebagai observer saja, yaitu
pemerhati atau penyimak acara tersebut dengan penuh minat mendengarkan apa yang
dikatakan oleh orang-orang yang terlibat dalam proses komunikasi tersebut.
2. Teknik Rekam
Peneliti menggunakan alat rekam yang hendak digunakan
dalam proses perekaman, dengan bantuan alat perekam, seperti handphone untuk merekam acara
tersebut.
3.
Teknik catat
Peneliti melakukan pencatatan dilanjutkan dengan klasifikasi data yang
diperoleh (dicatat) kemudian dilakukan transkripsi data ke dalam bentuk tulisan
sebagai langkah
akhir dari tahap penyediaan data tersebut.
Metode analisis data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode padan dan metode distribusional
(agih). Metode padan adalah metode analisis data yang penentunya berada di
luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa yang bersangkutan atau diteliti
(Sudaryanto, 1993: 13).
Metode distribusional
(agih) adalah metode analisis bahasa yang alat penentunya bagian dari bahasa
yang bersangkutan (Sudaryanto, 1993: 15). Teknik analisis data yang akan
digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Teknik analisis
data tersebut berhubungan dengan perbandingan data, yakni kegiatan yang
dilakukan dengan cara membandingkan verbal yang ada dalam acara musik Dahsyat dan Inbox yang kemudian
diubah kedalam bentuk tulisan baik itu kata, frasa, atau satu kalimat penuh.
Kategorisasi, yakni kegiatan yang dilakukan dengan cara mengelompokan data yang
sesuai dengan ciri tertentu yang dimiliki.
Teknik tersebut dikongkretkan dengan metode kajian sosiolinguistik
antara lain:
2. Pendeskripsian
penyebab terjadinya interferensi bahasa acara di televisi khususnya Dahsyat dan Inbox?
E. Keabsahan Data
Dalam penelitian ini, keabsahan data diperoleh melalui
validitas dan reliabilitas. Hal ini sesuai dengan pendapat Nasution (2000: 74),
yaitu alat pengukur keabsahan data harus memenuhi dua syarat utama, yaitu harus valid (sahih) dan harus reliable (dapat dipercaya).
1.
Ketekunan
pengamatan
Ketekunan atau keajegan pengamat adalah sejauh mana
pengamat mampu menganalisa data-data yang ada di lapangan secara jelas dan
rinci, sebagai upaya untuk memahami pola perilaku, situasi, kondisi, dan proses
tertentu sebagai pokok penelitian. Pada ketekunan pengamatan bermaksud
menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan
persoalan atau isu yang sedang dicari, peneliti melakukan dengan cara menelaah
kembali data yang terkait dengan fokus masalah penelitian, sehingga data tersebut
dapat dipahami, tidak diragukan lagi dan dapat dipertanggungjawabkan dan
kemudian peneliti memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci. Dengan
ketekunan diharapkan dapat memperoleh data yang lebih akurat, sehingga dapat
menunjang kegiatan peneliti.
2.
Triangulasi
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang
memanfaatkan sesuatu yang lain. Di luar data itu untuk keperluan pengecekan
atau sebagai pembanding terhadap data tersebut. Penelitian ini menggunakan
triangulasi metode untuk memeriksa keabsahan data. Triangulasi metode ini dapat
dilakukan dengan dua cara, yakni:
(1) pengecekan derajat
kepercayaan penemuan data dengan beberapa teknik pengumpulan data.
(2) pengecekan derajat
kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama. Triangulasi metode
yang dilakukan dalam penelitian ini adalah perpanjangan waktu pengamatan.
BAB
IV
HASIL
PENELITIAN
Intereferensi
Bahasa dalam acara di televisi khususnya acara musik Dahsyat dan Inbox. Berikut
hasil penelitian dan pembahasan interferensi bahasa acara di televisi.
A. Analisis Data 1
Konteks: Ayu Ting Ting disinggung Raffi Ahmad dan Billi tentang
kehidupan rumah tangganya yang dahulu.
Billi
: Jangan ngomong-ngomongin Mas
Enji. (jangan
membicarakan tentang Enji
Raffi Ahmad
: Iya ngak.
Siapa yang nyebutin Mas Enji. Lo jangan nyebut-
nyebutin Enji terus (iya tidak. Siapa yang menyebut nama Enji. Kamu jangan menyebut Enji terus)
Ayu Ting Ting
: Udah udah.
Berisik lo (sudah-sudah. Kamu berisik)
Raffi
Ahmad
: Jangan lo yang ngaduk, ni dong
calon (jangan kamu yang
mengaduk. Ini aja calon)
Billi
: Calon yang udah mau cerei. (calon
yang sudah mau cerai)
Analisis Interferensi yang
difokuskan pada kata berikut: ngomong-ngomongin,
ngak, lo, nyebutin, udah.
1. Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu
ditandai dengan kata ngomong- ngomongin. Pemakaian kata ngomong-ngomongi seharusnya tidak digunakan
dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar yaitu
membicarakan. Pemakaian kata ngomong-ngomongin
dipengaruhi oleh ragam bahasa Jawa. Dengan demikian kata ngomong-ngomongin merupakan interferensi dalam acara televisi di
Dahsyat.
Peristiwa interferensi dalam
bahasa Indonesia itu ditandai dengan kata ngak.
Pemakaian kata ngak seharusnya tidak
digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar
yaitu tidak. Pemakaian kata ngak
dipengaruhi oleh ragam bahasa Jawa. Dengan demikian kata ngak merupakan
interferensi dalam acara televisi di Dahsyat.
2. Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu
ditandai dengan kata lo. Pemakaian
kata lo seharusnya tidak digunakan
dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar yaitu kamu.
Pemakaian kata lo dipengaruhi oleh
ragam bahasa Betawi. Dengan demikian kata lo
merupakan interferensi dalam acara televisi di Dahsyat.
3. Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu
ditandai dengan kata nyebutin.
Pemakaian kata nyebutin seharusnya
tidak digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang
benar yaitu menyebut. Pemakaian kata nyebutin
dipengaruhi oleh ragam bahasa Jawa. Dengan demikian kata nyebutin merupakan interferensi dalam acara televisi di Dahsyat.
4. Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu
ditandai dengan kata udah. Pemakaian kata udah
seharusnya tidak digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada
bentuk yang benar yaitu sudah. Pemakaian kata udah dipengaruhi oleh ragam bahasa Jawa. Dengan demikian kata udah merupakan interferensi dalam acara
televisi di Dahsyat.
B. Analisis Data 2
Konteks:
Bergaya mirip Syahrini di Dahsyat.
Luna Maya
: Oh I feel so free (oh saya
merasa sangat bebas).
Raffi Ahmad : ciaobella (halo
cantik).
Lolita
: Di sappada mountain (di kawasan pegunungan paling
indah yang
terletak di
kawasa Venetto, Belluno-Italia).
Ulfa
: Halo ciaobellaaa from sappa mountain. Ini gunung-gunung
terindah di dunia dan aku
sangat menikmati banyak bunga-bunga
dan aku mau bobo seperti ini. I
feel free (halo cantik dari pegunungan yang paling indah.
Ini gunung-gunung terindah di
dunia dan aku sangat menikmati banyak bunga bunga
dan aku mau tidur seperti ini).
Uya
Kuya : Emang sampai muter-muter kayak gitu ya
(memang sampai
Berputar seperti itu ya).
Raffi Ahmad : Kan
terakhirnya gini I feel free gubrak (terakhirnya
seperti ini
Saya bebas jatuh).
Analisis
Interferensi yang difokuskan pada kata berikut: I feel so free, ciaobella, from sappa mountain, Emang, muter-muter kayak gitu,
1. Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu
ditandai dengan kalimat I feel so free.
Pemakaian kalimat I feel so free
seharusnya tidak digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada
bentuk yang benar yaitu saya merasa sangat bebas. Pemakaian kalimat I feel so free dipengaruhi oleh ragam
bahasa Inggris. Dengan demikian kalimat I
feel so free merupakan interferensi dalam acara televisi di Dahsyat.
2. Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu
ditandai dengan kata ciaobella.
Pemakaian kata ciaobella seharusnya
tidak digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang
benar yaitu halo cantik. Pemakaian kata ciaobella dipengaruhi oleh ragam bahasa
Italia. Dengan demikian kata ciaobella merupakan interferensi dalam acara
televisi di Dahsyat.
3. Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu
ditandai dengan kalimat from sappa mountain. Pemakaian kalimat from sappa mountain seharusnya tidak
digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar
yaitu gunung yang indah. Pemakaian kalimat from sappa mountain dipengaruhi oleh
ragam bahasa Inggris. Dengan demikian kalimat from sappa mountain merupakan
interferensi dalam acara televisi di Dahsyat.
4. Peristiwa interferensi dalam
bahasa Indonesia itu ditandai dengan kata emang.
Pemakaian kata emang seharusnya tidak
digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar
yaitu memang. Pemakaian kata emang dipengaruhi oleh ragam bahasa Sunda. Dengan demikian
kata emang merupakan interferensi
dalam acara televisi di Dahsyat.
5. Peristiwa interferensi dalam
bahasa Indonesia itu ditandai dengan kalimat muter-muter kayak gitu. Pemakaian kalimat muter-muter kayak gitu seharusnya tidak digunakan dalam pemakaian
bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar yaitu berputar seperti itu.
Pemakaian kalimat muter-muter kayak
gitu dipengaruhi oleh ragam bahasa Jawa. Dengan demikian kalimat muter-muter kayak gitu merupakan
interferensi dalam acara televisi di Dahsyat.
C. Analisis Data 3
Konteks: berbincang-bincang dengan bintang tamu
di Inbox.
Gading Martin
: Eh ntar dulu
Penyanyi lo ngak kasi mike (eh
sebentar dulu
penyanyi kamu
tidak diberi mikrofon)
Narji
: Biasanya penyanyi itu kalau negor penonton heii (biasanya
penyanyi kalau
menegur penonton bilang hei
Nom Nom-nom Gowes
: Tolong mikenya boleh
tiga-tiganya. Haii semuanya. Kamu
tau siapa aku kan? Siapa? Ow
terima kasih (tolong
mikrofonnya boleh tiga-tiganya.
Hai semuanya. kamu tau
siapa saya? Siapa? Terima kasih)
Analisis
Interferensi yang difokuskan pada kata berikut: ntar, negor, mike.
1. Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu
ditandai dengan kata ntar. Pemakaian kata ntar
seharusnya tidak digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada
bentuk yang benar yaitu sebentar. Pemakaian kata ntar dipengaruhi oleh ragam bahasa Betawi. Dengan demikian kata
ntar merupakan interferensi dalam acara televisi di Inbox.
2. Peristiwa interferensi dalam
bahasa Indonesia itu ditandai dengan kata negor.
Pemakaian kata negor seharusnya tidak
digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar
yaitu menegur. Pemakaian kata negor
dipengaruhi oleh ragam bahasa Betawi. Dengan demikian kata negor merupakan interferensi dalam acara televisi di Inbox.
3. Peristiwa interferensi dalam
bahasa Indonesia itu ditandai dengan kata mike.
Pemakaian kata mike seharusnya tidak digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia
karena sudah ada bentuk yang benar yaitu mikrofon. Pemakaian kata mike dipengaruhi oleh ragam bahasa
Inggris. Dengan demikian kata mike merupakan interferensi dalam acara televisi
di Inbox.
BAB V
PENUTUP
A.
Simpulan
1. Bentuk Interferensi bahasa yang terkandung dalam acara
di televisi khususnya Dahsyat dan Inbox yaitu pemakaian katanya dipengaruhi
oleh bahasa ibu atau bahasa daerah seperti bahasa Jawa, Sunda, dan Betawi dan
bahasa asing seperti bahasa Inggris dan bahasa Italia seperti dialog yang
terdapat di dahsyat dan Inbox.
a. Interferensi yang
dipengaruhi oleh bahasa Jawa. Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu
ditandai dengan kata udah. Pemakaian kata udah seharusnya tidak digunakan dalam
pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar yaitu sudah.
Dengan demikian kata udah merupakan interferensi dalam acara televisi di
Dahsyat.
b. Interferensi
yang dipengaruhi oleh bahasa Betawi. Peristiwa interferensi dalam bahasa
Indonesia itu ditandai dengan kata negor. Pemakaian kata negor seharusnya tidak
digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar
yaitu menegur. Dengan demikian kata negor merupakan interferensi dalam acara
televisi di Inbox.
c. Interferensi
yang dipengaruhi oleh bahasa inggris. Peristiwa interferensi dalam bahasa
Indonesia itu ditandai dengan kata mike. Pemakaian kata mike seharusnya tidak
digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar
yaitu mikrofon. Dengan demikian kata mike merupakan interferensi dalam acara
televisi di Inbox.
d. Interferensi yang dipengaruhi oleh bahasa
bahasa Italia. Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu ditandai
dengan kata ciaobella. Pemakaian kata ciaobella seharusnya tidak digunakan
dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar yaitu halo
cantik. Dengan demikian kata ciaobella merupakan interferensi dalam acara
televisi di Dahsyat.
2. Penyebab terjadinya interferensi bahasa acara
di televisi khususnya Dahsyat dan Inbox yaitu kedwibahasaan
peserta tutur, tipisnya kesetiaan pemakai bahasa Indonesia, tidak cukupnya
kosakata bahasa Indonesia, menghilangnya kata-kata yang jarang digunakan,
Kebutuhan akan sinonim, Terbawanya kebiasaan dalam bahasa ibu (bahasa daerah).
B. Saran
Melalui penelitian ini peneliti menyarankan
baik kepada para pakar bahasa dan penciptanya, kepada Pusat Pembinan dan
Pengembangan Bahasa agar meningkatkan pembinaan dan penyuluhannya terhadap
pemakaian bahasa terutama untuk penggunaan bahasa daerah, karena sejauh
pengamatan peneliti bahasa yang paling banyak menimbulkan interferensi adalah
bahasa daerah karena masyarakat Indonesia yang selalu terbawa oleh kebiasaan
yang ada dalam bahasa ibunya. Maka sebaiknya mahasiswa jurusan bahasa
Indonesia, atau pun orang-orang yang berpengaruh dalam masyarakat jadi contoh
dan tauladan dalam berbahasa Indonesia.
Peneliti menghimbau agar
penelitian mengenai interferensi ini dapat ditindaklanjuti oleh para peneliti,
terutama penelitian interferensi yang terdapat pada media massa. Hal ini perlu
agar masyarakat tidak salah kaprah dalam melihat kosa kata dalam tulisan pada
media cetak. Apakah kosa kata tersebut merupakan kosa kata bahasa Indonesia
ataukah sudah terjadi peristiwa interferensi.
DAFTAR
PUSTAKA
Adana. Ayu Ting Ting Ketika Tidak Bisa Menahan Marah di Acara Dahsyat Live
Oktober 2017).
Adana. NGAKAK Dahsyat Lomba Mirip Syahrini Lebay di
Acara Dahsyat
Adana. Sakitnya Tuh Disini - Nom Nom Gowes ( Naomi DDS ) Audi Marissa @
INBOXSCTVhttps://www.youtube.com/watch?v=PDW1jmClaz8.htm,
diakses tanggal
18 Oktober 2017).
Adawiyah
Rabiatul. 2009. Analisis Pemakaian Interferensi Pada Rubrik Bianglala
Majalah
Annida. Sumatera Utara: Universitas
Sumatera Utara.
Chaer, Abdul
dan leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal.
Jakarta: Rineka
Cipta.
Chaer, Abdul. 2007a. Kajian Bahasa.
Jakarta: PT Rineka Cipta.
___________ .
2007b. Linguistik Umum. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
Chaer Abdul dan Leonie Agustina. 2010. Sosiolinguistik.: perkenalan Awal. Jakarta:
Rineka Cipta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Edisi Keempat.
Jakarta: Balai Pustaka.
Hidayat,
Asep A. 2006. Filsafat
Bahasa; Mengungkapkan Hakikat Bahasa, Makna, dan Tanda. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Kridalaksana, Harimurti. 2001. Fungsi Bahasa dan
Sikap Bahasa. Ende: Penerbit Nusa Indah.
___________ . 2008. Kamus Linguistik.
Jakarta: PT Gramedia
Nababan, P. W. J. 1986. Sosiolinguistik Suatu Pengantar.
Jakarta: Gramedia.
Nasution. 2003. Metode Research.
Jakarta: Aksara
_________ .
2006. Dimensi-DimensiKebahasaan. Jakarta:
Erlangga.
Sudaryanto. 1988a. Metode Linguistik
Bagian Pertama. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
_________ .
1988b. Metode Linguistik Bagian Kedua.
Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
_________ .
1993. Metode dan
Aneka Teknik Analisis Bahasa Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara
Linguistis. Yogyakarta: Duta Wacana University.
Sumarsono. 2002. Sosiolinguistik Yogyakarta: Sabda.
Suwandi, Sarwiji.
2008. Serbalinguistik Mengupas Pelbagai Praktik
Berbahasa. Solo: UNS Press.
Suwito. 1985. Sosiolinguistik Pengantar Awal
Surakarta: Henary Offset Solo
Wijana, Putu Dewa dan Muhammad Rohmadi. 2011. Sosiolinguistik kajian teori dan
analisis. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.