Rabu, 22 November 2017



      
INTERFERENSI PENGGUNAAAN BAHASA PADA ACARA DI TELEVISI

(DAHSYAT DAN INBOX)
      

             BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar belakang
Bahasa selalu mengalami perkembangan dan perubahan. Perkembangan dan perubahan itu terjadi karena adanya perubahan sosial, ekonomi, dan budaya. Perkembangan bahasa yang cukup pesat terjadi pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kontak bahasa, baik yang bersifat individual (bilingual) maupun sosial (diglossia) menimbulkan berbagai fenomena kebahasaan, seperti interferensi, integrasi, pidgin, kreol, alih kode, campur kode, pemilihan dan pemilihan bahasa, dsb (Wijana, Putu Dewa dan Muhammad Rohmadi, 2011:6). Kontak pada bidang politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan lainnya dapat menyebabkan suatu bahasa terpengaruh oleh bahasa yang lain. Proses saling mempengaruhi antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain tidak dapat dihindarkan. Adanya bilingualisme atau kedwibahasaan juga akan menimbulkan adanya interferensi dan integrasi bahasa.
Menurut Nababan (Adawiyah, 2009:6) masyarakat yang berganda bahasa akan terdapat berbagai macam pola kedwibahasaan yang terdiri dari unsur-unsur berikut: bahasa yang dipakai, bidang kebahasaan, dan teman berbahasa. Interferensi bahasa yaitu penyimpangan norma kebahasaan yang terjadi dalam ujaran dwibahasawan karena keakrabannya terhadap lebih dari satu bahasa, yang disebabkan karena adanya kontak bahasa. Selain kontak bahasa, faktor penyebab timbulnya interferensi adalah tidak cukupnya kosakata suatu bahasa dalam menghadapi kemajuan dan pembaharuan. Selain itu, juga menghilangnya kata-kata yang jarang digunakan, kebutuhan akan sinonim, dan prestise bahasa sumber. Kedwibahasaan peserta tutur dan tipisnya kesetiaan terhadap bahasa penerima juga merupakan faktor penyebab terjadinya interferensi.
Peristiwa interferensi tidak hanya dipakai dalam penggunaa bahasa tulisan, melainkan sering digunakan dalam bahasa lisan, terutama dalam acara televisi, misalnya pada acara musik Dahsyat dan Inbox. Hal ini akan berdampak kepada penonton yang mayoritas adalah remaja dalam penggunaan tata bahasa yang menyimpang dari norma bahasa Indonesia. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meneliti penggunaan interferensi yang terdapat dalam acara di televisi yaitu Dahsyat dan Inbox.
  
B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut maka rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
a.    Bagaimana bentuk Interferensi bahasa yang terkandung dalam acara di televisi khususnya  Dahsyat dan Inbox?
b.    Apa penyebab terjadinya interferensi bahasa acara di televisi khususnya Dahsyat dan Inbox?

C. Batasan Masalah
Penelitian ini memfokuskan pada pendeskripsian bilingualisme dan interferensi dan penyebab terjadinya interferensi bahasa acara di televisi khususnya dalam Dahsyat dan Inbox.

D.   Tujuan Penelitian
      Berdasarkan rumusan penelitian, maka tujuan penelitian sebagai berikut:
1.    Pendekripsian bentuk Interferensi bahasa yang terkandung dalam acara di televisi   khususnya Dahsyat dan Inbox?
2.    Pendeskripsian penyebab terjadinya interferensi bahasa acara di televisi khususnya  Dahsyat dan Inbox?

C.  Manfaat Penelitian
     Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1.   Menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat khususnya para penonton acara di  televisi mengenai interferensi.
2.   Sebagai bahan referensi bagi para peneliti yang ingin meneliti interferensi  khususnya interferensi di media massa.
    3. Agar penelitian mengenai kedwibahasaan khususnya interferensi ini dapat dikembangkan dan dilanjutkan oleh para peneliti lainnya.























BAB II
KAJIAN TEORI

A.  Bilingualisme
Istilah Bilingualisme (Inggris: bilingualism) dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan. Jadi yang dimaksud dengan bilingualisme yaitu berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau kode bahasa. Menurut Mackey dan Fishman (Chaer dan Leonie, 2004:84) Secara sosiolinguistik, secara umum, bilingualisme diartikan sebagai penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian. Untuk dapat menggunakan dua bahasa tentunya seseorang harus menguasai kedua bahasa itu. Pertama, bahasa ibunya (B1) dan yang lain menjadi bahasa keduanya (B2). Orang yang dapat menggunakan kedua bahasa itu disebut orang bilingual. Sedangkan kemampuan untuk menggunakan dua bahasa disebut bilingualitas. Selain istilah bilingualisme dengan segala jabarannya ada juga istilah multilingualisme (dapat menggunakan lebih dari dua bahasa/banyak bahasa). Dimana bilingualisme dan multingualisme merupakan model yang sama.
    Konsep umum bahwa bilingualisme adalah digunakannya dua buah bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian telah menimbulkan sejumlah masalah yang biasa dibahas kalau orang memnbicarakan bilingualisme (Chaer dan Leonie, 2004:85):
1.    Sejauhmana taraf kemampuan seseorang akan B2 (B1 tentunya dapat dikuasai dengan   baik) sehingga dia dapat disebut dengan seorang yang bilingual?
2.    Apakah yang dimaksud dengan bahasa dalam bilingualisme ini?
Apakah bahasa dalam pengertian langue, atau sebuah kode, sehingga bisa termasuk  sebuah dialek atau sosiolek?
    3.    Kapan seorang bilingual menggunakan kedua bahasa itu secara bergantian? Kapan  
         Dia harus menggunakan B1-nya, dan kapan pula harus menggunakan B2-nya?  
         Kapan pula dia dapat secara bebas untuk dapat menggunakan B1-nya atau B2-
         nya?
    4.    Sejauh mana B1-nya dapat mempengaruhi B2-nya, atau sebaliknya, B2-nya dapat  mempengaruhi B1-nya?
    5.   Apakah bilingualisme itu berlaku pada perseorang (seperti yang disebut dalam konsep  umum) atau juga berlaku pada satu kelompok masyarakat tutur?
Konsep bahwa bahasa merupakan identitas kelompok memberi peluang untuk menyatakan adanya sebuah masyarakat tutur yang bilingual, yang menggunakan dua bahasa sebagai alat komunikasinya. Masyarakat tutur yang demikian tidak hanya terbatas pada sekelompok orang, malah bisa juga meluas meliputi wilayah yang sangat luas: mungkin juga meliputi satu negara (Chaer dan Leonie, 2004:91).
    Seperti yang dikatakan Wolf (Chaer dan Leonie, 2004:91), salah satu ciri bilingualisme adalah digunakannya dua bahasa atau lebih oleh seorang atau sekelompok orang dengan tidak adanya peranan tertentu daro kedua bahasa itu. Artinya, kedua bahasa itu dapat digunakan kepada siapa saja, kapan saja, dan dalam situasi bagaimana saja.pemilihan bahasa mana yang harus digunakan tergantung pada kemampuan si pembicara dan lawan bicaranya.
B.  Interferensi
   Istilah interferensi pertama kali digunakan oleh Weinreich (Chaer dan Leonie, 2004:120) menyebutkan adanya perubahan sistem suatu bahasa sehubungan dengan adanya persentuhan bahasa tersebut dengan unsur-unsur bahasa lain yang dilakukan oleh penutur yang bilingual. Penutur bilingual adalah penutur yang menggunakan dua bahasa secara bergantian dan penutur multingual, kalau ada, tentu penutur yang dapat menggunakan banyak bahasa secara bergantian. Namun, kemampuan setiap penutur terhadap B1 (bahasa ibu, yang dipelajari dan digunakan sejak kecil dalam keluarga) dan B2 (bahasa yang baru kemudian dipelajari yakni setelah menguasai B1) sangat bervariasi. Ada penutur yang menguasai B1 dan B2 sama baiknya, tetapi ada pula yang tidak; malah ada yang kemampuannya terhadap B2 sangat minim.
     Penutur bilingual yang mempunyai kemampuan terhadap B1 dan B2 sama baiknya, tentu tidak mempunyai kesuliatan untuk menggunakan kedua bahasa itu kapan saja diperlukan, karena tindak laku kedua bahasa itu terpisah dan bekerja sendiri-sendiri. Penutur bilingual yang mempunyai kemampuan seperti ini oleh Ervin dan Osgood (Chaer dan Leonie, 2004:121) disebut berkemampuan bahasa yang sejajar sedangkan yang kemampuan terhadap B2 jauh lebih rendah atau tidak sama dari kemampuan terhadap B1-nya disebut berkemampuan bahasa yang majemuk. Penutur yang mempunyai kemampuan majemuk ini biasanya mempunyai kesulitan dalam menggunakan B2-nya karena akan dipengaruhi oleh kemampuan B1-nya.
Interferensi reseptif dan interferensi produktif yang terdapat dalam tindak laku bahasa penutur bilingual disebut interferensi perlakuan (Inggris: performance interference). Interferensi perlakuan biasa terjadi pada mereka yang sedang belajar bahasa kedua. Karena itu interferensi ini lazim juga disebut interferensi belajar (Inggris: learning interferece) atau interferensi perkembangan (Inggris: developmental interference). Namun, di dalam studi sosiolinguistik yang banyak dibicarakan adalah interferensi seperti yang dikemukakan oleh Weinreich (Chaer dan Leonie, 2004:122). Interferensi yang dimaksud oleh Weinreich adalah interferensi yang tampak dalam perubahan sistem suatu bahasa, baik mengenai sistem fonologi, morfologi, maupun sistem lainnya. Oleh karena interferensi mengenai sistem suatu bahasa, lazim juga disebutinterferensi sistemik. Dalam bahasa Indonesia interferensi pada sistem fonologi dilakukan, misalnya oleh para penutur bahasa Indonesia yang berasal dari Tapanuli./ / pada kata seperti <dengan> dan <rembes> dilafalkan [ ] dan [r ].
Penutur bahasa Indonesia yang berasal dari Jawa selalu menambahkan bunyi nasal yang homorgan di muka kata-kata yang dimulai dengan konsonan /b/,/d/,/g/,dan /j/, misalnya pada kata [mBandung], [nDepok], [ngGombong], dan [nyJambi]. Begitu juga penutur bahasa Indonesia yang berasal dari Bali biasanya mengucapkan fonem /t/ menjadi bunyiaplikoalveolar retrofleks [t], seperti pada kata-kata [toko], [tutup], dan [mati]. Banyak penutur bahasa Indonesia dalam berbahasa Inggris mengucapkan fonem /p/ bahasa Inggris pada kata-kata seperti <Peter>, <petrol>, dan <pace> menjadi , [petrol], dan, padahal harusnya dengan aspirasi, sehingga menjadi , , . Di Jepang kata Inggrisgasolini dilafalkan sebagai [gasorini], dan di Hawai nama George dilafalkan sebagai [kioki].
Sehubungan dengan interferensi dalam morfologi ini, Weinreich membedakan adanya tipe interferensi substitusi (seperti halnya penutur Bali), interferensi overdiferensiasi (seperti halnya penutur dari Tapanuli dan Jawa), interferensi underdeferensi (seperti penutur Jepang), dan interferensi reinterpretasi (seperti penutur Hawai).
Interferensi dalam bidang morfologi, antara lain, terdapat dalam pembentukan kata dengan afiks. Afiks-afiks suatu bahasa digunakan untuk membentuk kata dalam bahasa lain. Umpamanya dalam bahasa Belanda dan Inggris ada sufiks-isasi, maka banyak penutur bahasa Indonesia yang menggunakannya dalam pembentukan kata bahasa Indonesia, seperti neonisasi, tendanisasi, dan turinisasi. Bentuk-bentuk tersebut merupakan penyimpangan dari sistematik morfologi bahasa Indonesia, sebab untuk membentuk nomina proses dalam bahasa Indonesia ada konfiks pe-an. Jadi, seharusnyapeneonan, penendaan,dan  penurian. Contoh lain dalam bahasa Arab sufiks –wi dan –ni untuk membentuk adjektif; maka, banyak penutur bahasa Indonesia yang menggunakan sufiks itu seperti pada kata-kata manusiawi, bahasawi, surgawi, dan gerejani. Penggunaan bentuk-bentuk kata seperti ketabrak, kejebak, kekecilan, dan kemahalan dalam bahasa Indonesia baku juga termasuk interferensi, sebab imbuhan yang digunakan di ditu berasal dari bahasa Jawa dan dialek Jakarta. Bentuk yang baku adalah tertabrak, terjebak, terlalu kecil, dan terlalu mahal.
Interferensi dalam bidang sintaksis, kita ambil contoh kalimat dalam bahasa Indonesia dari seorang bilingual Jawa-Indonesia dalam berbahasa Indonesia. Bunyi kalimat itu “Di sini toko Laris yang mahal sendiri”. Kalimat bahasa Indonesia itu berstruktur bahasa Jawa, sebab dalam bahasa Jawa bunyinya adalah “Ning kene toko Laris sing larang dhewe”. Kata sendiri dalam kalimat bahasa Indonesia itu merupakan terjemahan dari kata Jawa dhewe. Kata dhewe dalam bahasa Jawa, antara lain, memang berarti ‘sendiri’, seperti terdapat dalam kalimat “Aku dhewe sing teko” (saya sendiri yang datang), dan “Kowe krungu dhewe?” (apakah kamu mendengarnya sendiri). Tetapi katadhewe yang terdapat di antara kata sing dan adjektif adalah berarti ‘paling’, seperti sing dhuwur dhewe ‘yang paling tinggi’, dan sing larang dhewe ‘yang paling mahal’. Dengan demikian dalam bahasa Indonesia baku kalimat tersebut di atas seharusnya berbunyi “Toko Laris adalah toko yang paling mahal di sini”. Contoh lain, struktur kalimat bahasa Indonesia, “Makanan itu telah dimakan oleh saya” adalah dipengaruhi oleh bahasa Sunda, karena kalimat Sundanya adalah “Makanan teh atos dituang ku abdi”. Dalam bahasa Indonesia baku susunannya haruslah menjadi, “Makanan itu telah saya makan”.
Penggunaan serpihan kata, frase, dan klausa di dalam kalimat dapat juga dianggap sebagai interferensi pada tingkat kalimat. Perhatiankan serpihan- serpihan dari bahasa lain yang terdapat dalam kalimat-kalimat bahasa Indonesia berikut:
1.    Mereka akan married bulan depan.
2.    Nah karena saya sudah kandhung apik sama dia, ya saya tanda tangan saja (Nah karena saya sudah benar-benar baik dengan baik dengan dia, maka saya tanda tangani saja)
3.    Yah apa boleh buat, better laat dan noit (Yah apa boleh buat, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali)
4.    Pemimpin kelompok itu selalu mengatakan education is necessary for life(Pemimpin kelompok itu selalu mengatakan, bahwa pendidikan adalah perlu dalam kehidupan)
  Melihat contoh-contoh di atas, mungkin timbul pertanyaan apa bedanya interferensi dengan campur kode, sebab contoh-contoh tersebut dapat dikategorikan sebagai campur kode. Campur kode adalah penggunaan serpihan-serpihan dari bahasa lain yang bisa berupa kata atau frase, dalam menggunakan suatu bahasa. Contoh di atas adalah kalimat-kalimat bahasa Indonesia yang di dalamnya terdapat serpihan dari bahasa Inggris, Jawa, dan Belanda. Jadi, kesimpulannya adalah campur kode mengacu pada digunakannya serpihan-serpihan bahasa lain dalam menggunakan suatu bahasa tertentu; sedangkan interferensi mengacu pada adanya penyimpangan dalam menggunakan suatu bahasa dengan memasukkan sistem bahasa lain, yang bagi golongan puris dianggap sebagai suatu kesalahan.
Interferensi dapat dikatakan sebagai suatu rahmat, karena interferensi merupakan suatu mekanisme yang sangat penting untuk memperbanyak dan mengembangkan suatu bahasa untuk mencapai taraf sebagai bahasa yang sempurna untuk dapat digunakan dalam segala bidang kegiatan. Hockett (Chaer dan Leonie, 2004:126) mengatakan bahwa interferensi merupakan satu gejala terbesar, terpenting, dan paling dominan dalam bahasa.
 Kiranya kontribusi terutama dari interferensi itu adalah dalam bidang kosakata. Bahasa-bahasa yang mempunyai latar belakang sosial budaya dan pemakaian yang luas (seperti bahasa Inggris dan bahasa Arab) dan mempunyai kosakata yang secara relatif sangat banyak, akan banyak memberikan kontribusi kosakata kepada bahasa-bahasa yang berkembang dan mempunyai kontak dengan bahasa tersebut. Dalam proses interferensi, terdapat tiga unsur yang mengambil peranan, yaitu: bahasa sumber atau bahasa donor, bahasa penyerap atau resipien, dan unsur serapan atau importasi (Chaer dan Leonie, 2004:126).
Menurut Soewito (Chaer dan Leonie, 2004:126) interferensi dalam bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa Nusantara berlaku bolak-balik, artinya unsur bahasa daerah bisa memasuki bahasa Indonesia dan bahasa Indonesia banyak memasuki bahasa daerah. Tetapi dengan bahasa asing, bahasa Indonesia hanya menjadi penerima dan tidak pernah menjadi pemberi.
Sehubungan dengan adanya bahasa yang “kaya” dengan kosakata (seperti bahasa Inggris dan bahasa Arab), dan bahasa yang masih berkembang yang kosakatanya belum banyak, timbul pertanyaan, apakah hanya bahasa “kaya” yang bisa menjadi donor, dan bahasa “miskin” juga dapat menjadi donor terhadap bahasa “kaya”. Menurut logika, memang hanya bahasa yang kayalah yang mempunyai peluang untuk donor, sedangkan bahasa miskin hanya menjadi resepien, dan tak berpeluang menjadi bahasa donor. Namun, dalam kenyataannya, karena bahasa itu erat  kaitannya dengan budaya masyarakat penuturnya, maka dapat dikatakan (tidak sejalan dengan pendapat Soewito) bahwa bahasa miskin pun dapat menjadi donor kosakata kepada bahasa kaya, terutama untuk kosakata yang berkenaan dengan budaya dan alam lingkungan bahasa donor. Jadi, interferensi leksikal bukanlah ditentukan oleh kaya dan miskin suatu bahasa, melainkan oleh pengaruh budaya masyarakat bahasa yang melekat pada bahasa itu. Bahasa indonesia dan bahasa asing dapat saling bertukar unsur leksikal; bahasa Indonesia dan bahasa daerah pun demikian juga.




























BAB III
METODE PENELITIAN

A.      Pendekatan Penelitian
      Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif deskriptif dalam penelitian ini adalah suatu prosedur penelitian dengan hasil sajian data deskripstif berupa tuturan lisan dalam suatu peristiwa tutur atau tindak berkomunikasi dan fenomena kebahasaan yang turut mempengaruhi penggunaan bahasa dalam acara televisi khususnya pada acara musik Dahsyat dan Inbox.. Metode yang digunakan dalam penelitian ini dijabarkan ke dalam langkah- langkah sesuai dengan tahapan pelaksanaannya, yaitu (1) tahap pengumpulan data, (2) tahap analisis data, dan (3) tahap pemaparan hasil analisis atau tahap penyajian hasil penguraian data (Sudaryanto, 1988a: 57).
B.       Subjek dan Objek Penelitian
       Subjek dalam penelitian ini adalah acara musik Dahsyat dan Inbox di televisi. Di dalam acara tersebut terdapat penggunaan interferensi bahasa yang digunakan oleh artis-artis yang yang membawakan acara tersebut.
      Objek dalam penelitian ini adalah keseluruhan data yang berhubungan dengan interferensi bahasa yang terdapat dalam acara musik Dahsyat dan Inbox di inbox. Fokus dalam penelitian ini adalah hal-hal yang berhubungan dengan interferensi bahasa dalam acara tersebut.
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak. Pada penelitian ini, data dikumpulkan dalam bentuk pengambilan data primer. Agar peneliti dapat melakukan analisis data, terlebih dahulu dipersiapkan instrumen dan juga tahap pengumpulan data. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah manusia tepatnya peneliti sendiri sebagai pelaku seluruh penelitian dan juga alat-alat perekam serta catatan lapangan.
Berikut adalah teknik yang digunakan peneliti dam penelitian ini sebagai berikut (Sudaryanto, 1988b: 3):
1.        Teknik SBLC (Simak bebas libat cakap)
Peneliti tidak terlibat secara langsung dalam proses komunikasi dalam acara musik Dahsyat dan Inbox di televisi. Peneliti hanya sebagai observer saja, yaitu pemerhati atau penyimak acara tersebut dengan penuh minat mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang-orang yang terlibat dalam proses komunikasi tersebut.
2.      Teknik Rekam
Peneliti menggunakan alat rekam yang hendak digunakan dalam proses perekaman, dengan bantuan alat perekam, seperti handphone untuk merekam acara tersebut.
3.      Teknik catat
             Peneliti melakukan pencatatan dilanjutkan dengan klasifikasi data yang diperoleh (dicatat) kemudian dilakukan transkripsi data ke dalam bentuk tulisan
 sebagai langkah akhir dari tahap penyediaan data tersebut.

     Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode padan dan metode distribusional (agih). Metode padan adalah metode analisis data yang penentunya berada di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa yang bersangkutan atau diteliti (Sudaryanto, 1993: 13).
      Metode distribusional (agih) adalah metode analisis bahasa yang alat penentunya bagian dari bahasa yang bersangkutan (Sudaryanto, 1993: 15). Teknik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Teknik analisis data tersebut berhubungan dengan perbandingan data, yakni kegiatan yang dilakukan dengan cara membandingkan verbal yang ada dalam acara musik Dahsyat dan Inbox yang kemudian diubah kedalam bentuk tulisan baik itu kata, frasa, atau satu kalimat penuh. Kategorisasi, yakni kegiatan yang dilakukan dengan cara mengelompokan data yang sesuai dengan ciri tertentu yang dimiliki.
Teknik tersebut dikongkretkan dengan metode kajian sosiolinguistik antara lain:
2.    Pendeskripsian penyebab terjadinya interferensi bahasa acara di televisi khususnya  Dahsyat dan Inbox?
E. Keabsahan Data
Dalam penelitian ini, keabsahan data diperoleh melalui validitas dan reliabilitas. Hal ini sesuai dengan pendapat Nasution (2000: 74), yaitu alat pengukur keabsahan data harus memenuhi dua syarat utama, yaitu harus valid (sahih) dan harus reliable (dapat dipercaya).
1.    Ketekunan pengamatan
Ketekunan atau keajegan pengamat adalah sejauh mana pengamat mampu menganalisa data-data yang ada di lapangan secara jelas dan rinci, sebagai upaya untuk memahami pola perilaku, situasi, kondisi, dan proses tertentu sebagai pokok penelitian. Pada ketekunan pengamatan bermaksud menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari, peneliti melakukan dengan cara menelaah kembali data yang terkait dengan fokus masalah penelitian, sehingga data tersebut dapat dipahami, tidak diragukan lagi dan dapat dipertanggungjawabkan dan kemudian peneliti memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci. Dengan ketekunan diharapkan dapat memperoleh data yang lebih akurat, sehingga dapat menunjang kegiatan peneliti.
2.        Triangulasi
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut. Penelitian ini menggunakan triangulasi metode untuk memeriksa keabsahan data. Triangulasi metode ini dapat dilakukan dengan dua cara, yakni:
 (1) pengecekan derajat kepercayaan penemuan data dengan beberapa teknik  pengumpulan data.
 (2) pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama. Triangulasi metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah perpanjangan waktu pengamatan.


















BAB IV
HASIL PENELITIAN

Intereferensi Bahasa dalam acara di televisi khususnya acara musik Dahsyat dan Inbox. Berikut hasil penelitian dan pembahasan interferensi bahasa acara di televisi.

A.    Analisis Data 1
  Konteks: Ayu Ting Ting disinggung Raffi Ahmad dan Billi tentang kehidupan rumah tangganya yang dahulu.
Billi                             : Jangan ngomong-ngomongin Mas Enji. (jangan
                                          membicarakan tentang Enji
Raffi Ahmad               : Iya ngak. Siapa yang nyebutin Mas Enji. Lo jangan nyebut-
     nyebutin Enji terus (iya tidak. Siapa yang menyebut nama Enji.     Kamu jangan menyebut Enji terus)
Ayu Ting Ting             : Udah udah. Berisik lo (sudah-sudah. Kamu berisik)
Raffi Ahmad               : Jangan lo yang ngadukni dong calon (jangan kamu yang
                                           mengaduk. Ini aja calon)
Billi                             : Calon yang udah mau cerei(calon yang sudah mau cerai)

Analisis Interferensi yang difokuskan pada kata berikut: ngomong-ngomongin, ngak, lo, nyebutin, udah.
1.         Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu ditandai dengan kata ngomong- ngomongin. Pemakaian kata ngomong-ngomongi seharusnya tidak digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar yaitu membicarakan. Pemakaian kata ngomong-ngomongin dipengaruhi oleh ragam bahasa Jawa. Dengan demikian kata ngomong-ngomongin merupakan interferensi dalam acara televisi di Dahsyat.
Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu ditandai dengan kata ngak. Pemakaian kata ngak seharusnya tidak digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar yaitu tidak. Pemakaian kata  ngak dipengaruhi oleh ragam bahasa Jawa. Dengan demikian kata ngak merupakan interferensi dalam acara televisi di Dahsyat.
2.         Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu ditandai dengan kata lo. Pemakaian kata lo seharusnya tidak digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar yaitu kamu. Pemakaian kata lo dipengaruhi oleh ragam bahasa Betawi. Dengan demikian kata lo merupakan interferensi dalam acara televisi di Dahsyat.
3.         Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu ditandai dengan kata nyebutin. Pemakaian kata nyebutin seharusnya tidak digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar yaitu menyebut. Pemakaian kata nyebutin dipengaruhi oleh ragam bahasa Jawa. Dengan demikian kata nyebutin merupakan interferensi dalam acara televisi di Dahsyat.
4.         Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu ditandai dengan kata udah. Pemakaian  kata udah seharusnya tidak digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar yaitu sudah. Pemakaian kata udah dipengaruhi oleh ragam bahasa Jawa. Dengan demikian kata udah merupakan interferensi dalam acara televisi di Dahsyat.

B.     Analisis Data 2
      Konteks: Bergaya mirip Syahrini di Dahsyat.
  Luna Maya      : Oh I feel so free (oh saya merasa sangat bebas).
       Raffi Ahmad   : ciaobella (halo cantik).
       Lolita               : Di sappada mountain (di kawasan pegunungan paling indah yang
                                  terletak di kawasa Venetto, Belluno-Italia).
        Ulfa                 : Halo ciaobellaaa from sappa mountain. Ini gunung-gunung
terindah  di dunia dan aku sangat menikmati banyak bunga-bunga
dan aku mau bobo seperti ini. I feel free (halo cantik dari  pegunungan yang paling indah. Ini gunung-gunung terindah di
dunia dan aku sangat menikmati banyak bunga bunga dan aku mau tidur seperti ini).
   Uya Kuya        : Emang sampai muter-muter kayak gitu ya (memang sampai
Berputar seperti itu ya).
         Raffi Ahmad   : Kan terakhirnya gini I feel free gubrak  (terakhirnya seperti ini
Saya bebas jatuh).

            Analisis Interferensi yang difokuskan pada kata berikut: I feel so free, ciaobella, from  sappa mountain, Emang, muter-muter kayak gitu,
1.    Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu ditandai dengan kalimat I feel so free. Pemakaian kalimat I feel so free seharusnya tidak digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar yaitu saya merasa sangat bebas. Pemakaian kalimat I feel so free dipengaruhi oleh ragam bahasa Inggris. Dengan demikian kalimat I feel so free merupakan interferensi dalam acara televisi di Dahsyat.
2.   Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu ditandai dengan kata ciaobella. Pemakaian kata ciaobella seharusnya tidak digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar yaitu halo cantik. Pemakaian kata ciaobella dipengaruhi oleh ragam bahasa Italia. Dengan demikian kata ciaobella merupakan interferensi dalam acara televisi di Dahsyat.
3.   Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu ditandai dengan kalimat from sappa mountain. Pemakaian kalimat from sappa mountain seharusnya tidak digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar yaitu gunung yang indah. Pemakaian kalimat from sappa mountain dipengaruhi oleh ragam bahasa Inggris. Dengan demikian kalimat from sappa mountain merupakan interferensi dalam acara televisi di Dahsyat. 
4. Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu ditandai dengan kata emang. Pemakaian kata emang seharusnya tidak digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar yaitu memang. Pemakaian kata   emang dipengaruhi oleh ragam bahasa Sunda. Dengan demikian kata emang merupakan interferensi dalam acara televisi di Dahsyat.
5. Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu ditandai dengan kalimat muter-muter kayak gitu. Pemakaian kalimat muter-muter kayak gitu seharusnya tidak digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar yaitu berputar seperti itu. Pemakaian kalimat muter-muter kayak gitu dipengaruhi oleh ragam bahasa Jawa. Dengan demikian kalimat muter-muter kayak gitu merupakan interferensi dalam acara televisi di Dahsyat.

C.    Analisis Data 3
    Konteks: berbincang-bincang dengan bintang tamu di Inbox.
Gading Martin            : Eh ntar dulu Penyanyi lo ngak kasi mike (eh sebentar dulu
                              penyanyi kamu tidak diberi mikrofon)
     Narji                            : Biasanya penyanyi itu kalau negor penonton heii (biasanya
                               penyanyi kalau menegur penonton bilang hei
Nom                                 Nom-nom Gowes      :  Tolong mikenya boleh tiga-tiganya. Haii semuanya. Kamu
                                                      tau siapa aku kan? Siapa? Ow terima kasih (tolong
                                                       mikrofonnya boleh tiga-tiganya. Hai semuanya. kamu tau  
                                                      siapa saya? Siapa? Terima kasih)

Analisis Interferensi yang difokuskan pada kata berikut: ntar, negor, mike.
1.    Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu ditandai dengan kata ntar. Pemakaian  kata ntar seharusnya tidak digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar yaitu sebentar. Pemakaian kata ntar dipengaruhi oleh ragam bahasa Betawi. Dengan demikian kata ntar merupakan interferensi dalam acara televisi di Inbox. 
2. Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu ditandai dengan kata negor. Pemakaian kata negor seharusnya tidak digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar yaitu menegur. Pemakaian kata negor dipengaruhi oleh ragam bahasa Betawi. Dengan demikian kata negor merupakan interferensi dalam acara televisi di Inbox.
3. Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu ditandai dengan kata mike. Pemakaian  kata mike seharusnya tidak digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar yaitu mikrofon. Pemakaian kata mike dipengaruhi oleh ragam bahasa Inggris. Dengan demikian kata mike merupakan interferensi dalam acara televisi di Inbox.



























BAB  V
PENUTUP

A.       Simpulan
       1.    Bentuk Interferensi bahasa yang terkandung dalam acara di televisi khususnya Dahsyat dan Inbox yaitu pemakaian katanya dipengaruhi oleh bahasa ibu atau bahasa daerah seperti bahasa Jawa, Sunda, dan Betawi dan bahasa asing seperti bahasa Inggris dan bahasa Italia seperti dialog yang terdapat di dahsyat dan Inbox.
 a. Interferensi yang dipengaruhi oleh bahasa Jawa. Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu ditandai dengan kata udah. Pemakaian kata udah seharusnya tidak digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar yaitu sudah. Dengan demikian kata udah merupakan interferensi dalam acara televisi di Dahsyat.
b.    Interferensi yang dipengaruhi oleh bahasa Betawi. Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu ditandai dengan kata negor. Pemakaian kata negor seharusnya tidak digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar yaitu menegur. Dengan demikian kata negor merupakan interferensi dalam acara televisi di Inbox.
c.    Interferensi yang dipengaruhi oleh bahasa inggris. Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu ditandai dengan kata mike. Pemakaian kata mike seharusnya tidak digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar yaitu mikrofon. Dengan demikian kata mike merupakan interferensi dalam acara televisi di Inbox.
   d.  Interferensi yang dipengaruhi oleh bahasa bahasa Italia. Peristiwa interferensi dalam bahasa Indonesia itu ditandai dengan kata ciaobella. Pemakaian kata ciaobella seharusnya tidak digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia karena sudah ada bentuk yang benar yaitu halo cantik. Dengan demikian kata ciaobella merupakan interferensi dalam acara televisi di Dahsyat.
2.   Penyebab terjadinya interferensi bahasa acara di televisi khususnya Dahsyat dan Inbox  yaitu kedwibahasaan peserta tutur, tipisnya kesetiaan pemakai bahasa Indonesia, tidak cukupnya kosakata bahasa Indonesia, menghilangnya kata-kata yang jarang digunakan, Kebutuhan akan sinonim, Terbawanya kebiasaan dalam bahasa ibu (bahasa daerah).

B.  Saran
Melalui penelitian ini peneliti menyarankan baik kepada para pakar bahasa dan penciptanya, kepada Pusat Pembinan dan Pengembangan Bahasa agar meningkatkan pembinaan dan penyuluhannya terhadap pemakaian bahasa terutama untuk penggunaan bahasa daerah, karena sejauh pengamatan peneliti bahasa yang paling banyak menimbulkan interferensi adalah bahasa daerah karena masyarakat Indonesia yang selalu terbawa oleh kebiasaan yang ada dalam bahasa ibunya. Maka sebaiknya mahasiswa jurusan bahasa Indonesia, atau pun orang-orang yang berpengaruh dalam masyarakat jadi contoh dan tauladan dalam berbahasa Indonesia.
Peneliti menghimbau agar penelitian mengenai interferensi ini dapat ditindaklanjuti oleh para peneliti, terutama penelitian interferensi yang terdapat pada media massa. Hal ini perlu agar masyarakat tidak salah kaprah dalam melihat kosa kata dalam tulisan pada media cetak. Apakah kosa kata tersebut merupakan kosa kata bahasa Indonesia ataukah sudah terjadi peristiwa interferensi.







DAFTAR PUSTAKA



Adana. Ayu Ting Ting Ketika Tidak Bisa Menahan Marah di Acara Dahsyat Live  
         (online),https://www.youtube.com/watch?v=D7yufa1lLIU.htm,diaksestanggal 18
          Oktober 2017).

Adana. NGAKAK Dahsyat Lomba Mirip Syahrini Lebay di Acara Dahsyat 
           Live https://www.youtube.com/watch?v=.htm, diakses tanggal 18 Oktober 2017).

Adana. Sakitnya Tuh Disini - Nom Nom Gowes ( Naomi DDS ) Audi Marissa @       
          INBOXSCTVhttps://www.youtube.com/watch?v=PDW1jmClaz8.htm, diakses tanggal 
          18 Oktober 2017).

Adawiyah Rabiatul. 2009. Analisis Pemakaian Interferensi Pada Rubrik Bianglala Majalah  
          Annida. Sumatera Utara: Universitas Sumatera Utara.

Chaer, Abdul dan leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka 
          Cipta.

Chaer, Abdul. 2007a. Kajian Bahasa. Jakarta: PT Rineka Cipta.
___________ . 2007b. Linguistik Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Chaer Abdul dan Leonie Agustina. 2010. Sosiolinguistik.: perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Edisi Keempat. Jakarta: Balai Pustaka.
Hidayat, Asep A. 2006. Filsafat Bahasa; Mengungkapkan Hakikat Bahasa, Makna, dan Tanda. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Kridalaksana, Harimurti. 2001. Fungsi Bahasa dan Sikap Bahasa. Ende: Penerbit Nusa Indah.
___________ . 2008. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia
Nababan, P. W. J. 1986. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia.
Nasution. 2003. Metode Research. Jakarta: Aksara

_________ . 2006. Dimensi-DimensiKebahasaan. Jakarta: Erlangga.

Sudaryanto. 1988a. Metode Linguistik Bagian Pertama. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
_________ . 1988b. Metode Linguistik Bagian Kedua. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.

_________ . 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis. Yogyakarta: Duta Wacana University.
Sumarsono. 2002. Sosiolinguistik Yogyakarta: Sabda.
Suwandi, Sarwiji. 2008. Serbalinguistik Mengupas Pelbagai Praktik Berbahasa. Solo: UNS Press.
Suwito. 1985. Sosiolinguistik Pengantar Awal Surakarta: Henary Offset Solo
Wijana, Putu Dewa dan Muhammad Rohmadi. 2011. Sosiolinguistik kajian teori dan  
           analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

MATERI BAHAN AJAR INNE PELANGI BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang            Proses pembelajaran merupakan suatu rangka...