ANALISIS TOKOH TOYIP
DALAM CERPEN DOLLAR KARYA
TOMMY F AWUY
DARI PERSPEKTIF PSIKOANALISIS
INNE PELANGI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Karya sastra adalah ekpresi pengarang. Karya sastra
merupakan karya fiksi, akan tetapi mempunyai struktur yang hidup dan seolah
nyata. Struktur karya sastra sangat kompleks, di bentuk oleh unsur-unsur yang
membangun karya sastra itu sendiri sehingga menjadi kesatuan yang kokoh. Unsur
yang membentuk karya satra iantaranya unsur intrinsik, ekstrinsik, kebahasaan,dan
sebagainya. Karya sastra membicarakan banyak hal dalam lingkup kehidupan
manusia. Maka antara karya sastra dengan menusia memiliki hubungan yang tidak
dapat dipisahkan. Sastra merupakan pencerminan dari segi kehidupan manusia yang
didalamnya tersurat sikap, tingkah laku, pemikiran, pengetahuan, tanggapan,
perasaan, imajinasi serta spekualasasi mengenai manusia itu sendiri. Karya
sastra juga memiliki aspek-aspek kejiwaan yang sangat kaya.
Analisis karya sastra merupakan upaya untuk
menguraikan segala yang terkandung dalam sebuah karya sastra. Analisis yang
mendalam terhadap sebuah karya sastra dapat dilakukan dengan berbagai sudut
pandang, yaitu dengan berbagai pendekatan dan teori. Pendekatan dan teori
dimaksudkan supaya analisis sebuah karya sastra terfokus berdasarkan pandangan
teori tersebut. Teori sastra saling berkaitan dengan beberapa cabang ilmu lain,
iantarannya sosiologi, psikologi, antropologi, dan sebagainya.
Psikologi sastra merupakan analisis sastra dalam
kaitannya dengan psike, dengan aspek-aspek kejiwaan pengarang. Secara
definitif, tujuan psikologi sastra adalah memahami aspek-aspek kejiwaan yang
terkandung dalam suatu karya. Analisis psikologi sastra tidak terlepas dengan
kebutuhan masyarakat. sesuai dengan hakikatnya, karya sastra memberikan
pemahaman terhadap masyarakat secara tidak langsung. Melalui pemahaman terhadap
tokoh-tokohnya, misalnya, masyarakat dapat memahami perubahan, kontradiksi, dan
penyimpangan-penyimpangan lain yang terjadi dalam masyarakat, khususnya dalam
kaitannya dengan psike.
Cerpen Dollar
fokus ceritanya terhadap tiga orang tokoh, yaitu sopir bajaj bernama Toyip,
perempuan bule bernama Merry Cohen, dan pelacur bernama Nora. Nora adalah
pelanggan setia Toyip. Sopir bajaj setiap hari mengantar Nora pergi belanja di
pagi hari, dan kerja di malam hari sebagai pelacur. Toyip adalah sosok suami
yang patuh pada istrinya, dalam memutuskan sesuatu ia selalu meminta pendapat
istrinya, bahkan pendapat istrinya hampir selalu dominan. Pada suatu ketika,
ada seorang wanita bule naik bajajnya, ia berkebangsaan Amerika, bahasa
Indonesianya sangat lancar, sehingga Toyip bisa bercerita banyak dengannya. Wanita
itu bernama Merrry Cohen. Ketika itu korek antik milik Merry tertinggal dalam
bajaj Toyip, setelah dikembalikan kembali pada bule itu, Toyip diberi uang
sebanyak 20 dollar, namun uang pemberian bule itu mendapat respons negatif dari
istrinya, ia meminta Toyip untuk mengembalikan uang dolar tersebut kepada
Merry. Dalam cerita ini juga membicarkan
anak Toyip yang menerima pemberian itu sebagai rejeki namun ditentang oleh
ibunya. Toyip akhirnya bersikeras untuk mengembalikan uang itu. Namun dalam
perjalanannya, Toyip selalu dipengaruhi Nora untuk mengguakan uang itu
bersenang-senang dengan wanita tanpa sepengetahuan istrinya. Pada awalnya Toyip
menolak, akan tetapi setelah ia diberi uang oleh Merry lagi sebesar 50 dolar, akhirnya Tiyib menerima
saran Nora, dan Toyip memilih bersenang-senang dengan pelacur yang setiap hari
jadi penumpang bajajnya itu.
Dalam cerpen Dollar,
setiap tokoh mempunyai karakter psikologis yang berbeda beda berdasarkan
gambaran perilaku yang dilakukan. Dan bagaimanakah hubungan Toyip dengan
tokoh-tokoh lain dalam cerpen Dollar karya
Tommy F Awuy? Untuk menguraikannya, selanjutnya akan ianalisis dengan Psikologi
Sastra Sigmun Freud.
1.2 Landasan
Teori
Kepribadian adalah satu syarat mutlak bagi manusia
untuk memancarkan eksistensinya di dunia. Terutama dalam aktualisasi manusia
sebagai makhluk sosial, baik secara internal yaitu sosial untuk dirinya
sendiri, dan eksternal yaitu sosial untuk orang lain. Menurut Minderop
(2011:54), ada tiga cara untuk memahami hubungan antara psikologi dengan
sastra, yaitu: (a) memahami unsur-unsur kejiwaan pengarang sebagai penulis, (b)
memahami unsur-unsur kejiwaan para tokoh fiksional dalam karya sastra, dan (c)
memahami unsur-unsur kejiwaan pembaca. dalam suatu karya sastra, setiap tokoh
didalamnya mempunyai karakteristik yang berbeda. Seperti dalam cerpen Dollar, psikologis individual
masing-masing tokoh sangat berbeda, baik Toyip, Nora, Merry Cohen, Istri dan
Anak Toyip. Teori yang akan digunakan untuk menganalisis karakter psikologis
tokoh dalam cerpen Dollar adalah
teori psikologi oleh Sigmund Freud (1856-1939).
Menurut Boeree (2004: 35-36), Freud bukanlah orang
pertama yang menemukan ide tentang alam sadar (conscious mind) versus alam
bawah sadar (unconscious mind), tapi ialah yang membuat ide itu terkenal. Alam
sadar adalah segala sesuatu yang disadari, seperti ingatan, pemikiran fantasi,
dan perasaan yang dimiliki seseorang. Alam bawah sadar adalah segala sesuatu
yang sulit dibawa ke alam sadar. Dalam analisis karya sastra, teori Freud
membedakan kepribadian menjaditiga macam, yaitu: Id, Ego, dan Superego (Ratna,
2004: 344).
v Id
Instinct-psychology
(or id-psychology, as it came to be called) centres on the role of the sexual
instincts as the determining force of an individual’s life
(Wright, 1984: 37). Id merupakan lapisan psikis yang paling mendasar sekaligus
id menjadi bahan dasar bagi pembentukan hidup psikis lebih lanjut (Bertens, 2006:32-33).
Artinya id merupakan sistem kepribadian asli paling dasar yakni yang dibawa
sejak lahir. Dari id ini kemuian akan muncul ego dan superego. Saat dilahirkan,
id berisi semua aspek psikologik yang diturunkan, seperti insting, impuls, dan
drives. Id berada dan beroperasi dalam daerah unconscious, mewakili
subyektivitas yang tidak pernah disadari sepanjang usia. Id berhubungan erat
dengan proses fisik untuk mendapatkan energi psikis yang digunakan untuk
mengoperasikan sistem dari struktur kepribadian lainnya. Energi psikis
dalam id itu dapat meningkat oleh karena perangsang, dan apabila energi itu
meningkat maka menimbulkan tegangan dan ini menimbulkan pengalaman tidak enak
(tidak menyenangkan). Dari situlah id harus mereduksikan energi untuk
menghilangkan rasa tidak enak dan mengejar keenakan. Id beroperasi
berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle), yaitu berusaha memperoleh
kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Bagi Id, kenikmatan adalah keadaan yang
relative inaktif atau tingkat energi yang rendah, dan rasa sakit adalah
tegangan atau peningkatan energi yang mendambakan kepuasan. Jadi ketika ada
stimulasi yang memicu energi untuk bekerja timbul tegangan energy, id
beroperasi dengan prinsip kenikmatan; berusaha mengurangi atau menghilangkan
tegangan itu; mengembalikan diri ke tingkat energi rendah. Penerjemahan
dari kebutuhan menjadi keinginan ini disebut dengan proses primer. Proses
primer ialah reaksi membayangkan atau mengkhayal sesuatu yang dapat mengurangi
atau menghilangkan tegangan, dipakai untuk menangani stimulus kompleks, seperti
bayi yang lapar membayangkan makanan atau putting ibunya. Id hanya mampu
membayangkan sesuatu, tanpa mampu membedakan khayalan itu dengan kenyataan yang
benar-benar memuaskan kebutuhan. Id tidak mampu menilai atau membedakan benar
salah, tidak tahu moral. Jadi harus dikembangkan jalan memperoleh khayalan itu
secara nyata, yang memberi kepuasan tanpa menimbulkan ketegangan baru khususnya
masalah moral. Alasan inilah yang kemuian membuat id memunculkan ego.
v Ego
Ego adalah aspek psikologis daripada kepribadian dan
timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia
kenyataan atau realita (Freud dalam Suryabrata 2010:126). Ego berbeda dengan
id. Menurut Koeswara (1991:33-34), ego adalah sistem kepribadian yang bertindak
sebagai pengaruh individu kepada objek dari kenyataan, dan menjalankan
fungsinya berdasarkan prinsip kenyataan. Menurut (Freud dalam Bertens
2006:33), ego terbentuk dengan diferensiasi dari id karena kontaknya dengan
dunia luar, khususnya orang di sekitar bayi kecil seperti orang tua, pengasuh,
dan kakak adik. Ego timbul karena adanya kebutuhan-kebutuhan organisme
memerlukan transaksi-transaksi yang sesuai dengan dunia realita atau
kenyataan. Ego adalah eksekutif (pelaksana) dari kepribadian, yang
memiliki dua tugas utama; pertama, memilih stimuli mana yang hendak direspon
dan atau insting mana yang akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan.
Kedua, menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan itu dipuaskan sesuai dengan
terseianya peluang yang resikonya minimal. Menurut Bertens (2006:33),
tugas ego adalah untuk mempertahankan kepribadiannya sendiri dan menjamin
penyesuaian dengan lingkungan sekitar, lagi untuk memecahkan konflik-konflik
dengan realitas dan konflik-konflik antara keinginan-keinginan yang tidak cocok
satu sama lain. Dengan kata lain, ego sebagai eksekutif kepribadian
berusaha memenuhi kebutuhan id sekaligus juga memenuhi kebutuhan moral dan
kebutuhan berkembang-mencapai-kesempurnaan dari superego. Ego sesungguhnya
bekerja untuk memuaskan id, karena itu ego yang tidak memiliki energi sendiri
akan memperoleh energi dari id. Untuk itu sekali lagi memahami apa yang
dimaksudkan dengan proses sekunder, perlu untuk melihat sampai dimana proses
primer membawa seorang individu dalam pemuasan keinginan sehingga dapat
diwujudkan dalam sebuah kenyataan. Proses sekunder terdiri dari usaha menemukan
atau menghasilkan kenyataan dengan jalan suatu rencana tindakan yang telah
dikembangkan melalui pikiran dan oral (pengenalan).
v Superego
Menurut Bertens (2006: 33-34), superego dibentuk
melalui internalisasi (internalization), artinya larangan-larangan atau
perintah-perintah yang berasal dari luar (para pengasuh, khususnya orang tua)
diolah sedemikian rupa sehingga akhirnya terpancar dari dalam. Dengan kata
lain, superego adalah buah hasil proses internalisasi, sejauh larangan-larangan
dan perintah-perintah yang tadinya merupakan sesuatu yang “asing” bagi si
subyek, akhirnya ianggap sebagai sesuatu yang berasal dari subyek sendiri,
seperti “Engkau tidak boleh…atau engkau harus…” menjadi “Aku tidak boleh…atau
aku harus…” Menurut Freud (dalam Suryabrata, 2010:127) Super Ego adalah
aspek sosiologi kepribadian, merupakan wakil dari nilai-nilai tradisional serta
cita-cita masyarakat sebagaimana ditafsirkan orang tua kepada anak-anaknya yang
dimasukkan dengan berbagai perintah dan larangan. Super Ego lebih merupakan
kesempurnaan daripada kesenangan. Oleh karena itu, Super Ego dapat pula ianggap
sebagai aspek moral kepribadian. Fungsinya yang pokok ialah menentukan apakah
sesuatu benar atau salah, pantas atau tidak, susila atau tidak, dan dengan
demikian pribadi dapat bertindak sesuai dengan moral masyarakat. Superego
adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang beroperasi memakai
prinsip idealistic sebagai lawan dari prinsip kepuasan id dan prinsip realitik
dari ego (Alwisol, 2004:21). Superego bersifat nonrasional dalam menuntut
kesempurnaan, menghukum dengan keras kesalahan ego, baik yang telah dilakukan
maupun baru dalam fikiran. Superego dalam hal mengontrol id, bukan hanya
menunda pemuasan tapi merintangi pemenuhannya. Fungsi utama dari superego
yang dihadirkan antara lain adalah:
1. Sebagai pengendali
dorongan atau impuls-impuls naluri id agar impuls-impuls tersebut disalurkan
dengan cara atau bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat.
2. Untuk mengarahkan ego pada tujuan-yang sesuai dengan moral ketimbang dengan kenyataan.
3. Mendorong individu kepada kesempurnaan. Superego senantiasa memaksa ego untuk menekan hasrat-hasrat yang berbeda kealam sadar. Superego bersama dengan id, berada ialam bawah sadar (Hall dan Lindzey, 1993: 67-68). Jadi superego cenderung untuk menentang, baik ego maupun id, dan membuat dunia menurut konsepsi yang ideal. Ketiga aspek tersebut meski memiliki karakteristik sendiri-sendiri dalam prakteknya, namun ketiganya selalu berinteraksi secara dinamis.
2. Untuk mengarahkan ego pada tujuan-yang sesuai dengan moral ketimbang dengan kenyataan.
3. Mendorong individu kepada kesempurnaan. Superego senantiasa memaksa ego untuk menekan hasrat-hasrat yang berbeda kealam sadar. Superego bersama dengan id, berada ialam bawah sadar (Hall dan Lindzey, 1993: 67-68). Jadi superego cenderung untuk menentang, baik ego maupun id, dan membuat dunia menurut konsepsi yang ideal. Ketiga aspek tersebut meski memiliki karakteristik sendiri-sendiri dalam prakteknya, namun ketiganya selalu berinteraksi secara dinamis.
1.3 Rumusan
Masalah
a.
Bagaimanakah unsur-unsur kejiwaan tokoh
Toyip dalam cerpen Dollar
karya Tommy F Awuy?
1.4 Tujuan
a.
Memaparkan unsur-unsur kejiwaan tokoh
Toyip dalam cerpen Dollar
karya Tommy F Awuy.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Sinopsis Cerpen Dollar karya Tommy F Awuy
Cerpen
Dollar, menceritakan seorang sopir
bajaj, istri dan anaknya, serta permasalahan di dalamnya. Sopir bajaj mempunyai
pelanggan yang selalu naik bajajnya, ia seorang pelacur, kemuian pada suatu
hari sopir bajaj itu bertemu dengan seorang bule yang naik bajajnya. Korek api
antik bule tersebut tertinggal dalam bajaj itu, setelah korek itu dikembalikan,
bule tersebut memberi sopir bajaj itu uang sejumlah 20 dollar. Disinilah mulai
timbul permasalahan, dimulai dari istri sopir bajaj, anaknya, kemuian dengan
bule, dan pelacur tersebut. Tokoh dalam cerpen Dollar adalah sopir bajaj bernama Toyip, pelacur bernama Nora, bule
bernama Marry Cohen, istri sopir bajaj, dan anaknya. Selanjutnya akan di bahas hubungan
Toyip dengan tokoh-tokoh dalam analisis berikut.
2.2 Analisis Unsur-Unsur Kejiwaan Tokoh Toyip dalam
Cerpen Dollar karya Tommy F Awuy
Toyip adalah seorang sopir bajaj. Istrinya bekerja
sebagai pegawai negeri sipil, dan ia mempunyai seorang anak yang hanya lulus
SMU. Setiap hari pekerjaan Toyip adalah mengantar istrinya bekerja baru kemuian
ia pergi bekerja sebagai sopir bajaj. Dalam cerpen Dollar, sosok Toyip digambarkan sebagai lelaki yang lugu. Layaknya
sosok lelaki betawi yang menjunjung tinggi budayanya. Hal tersebut terlihat
ketika Merry Cohen meninggalkan korek api dalam bajaj Toyip, tidak berusaha membiarkannya atau bahkan
mengambilnya, karena hanya sebuah korek, bagi setiap orang korek bukanlah hal
yang berharga karena dapat dibeli di toko dengan harga tak seberapa. Akan
tetapi Toyip langsung memutar balik bajajnya begitu tau korek api Merry
tertinggal. Ia berusaha mencarinya, tetapi tidak ketemu dan akhirnya memutuskan
untuk membawanya pulang. Berikut kutipan cerita bagian tersebut:
“
. . . .Dengan cepat Toyip berbalik arah sekalipun ada tanda larangan laly
lintas dan memacu bajajnya kembali ke Pasaraya. Ia yakin korek api itu milik
perempuan asing . . . .”
Dari kutipan di atas, karakter psikologis Toyip adalah
ego yang mengikuti superegonya. Hal tersebut terlihat ketika ia melihat barang
orang lain tertinggal di bajajnya ia langsung mengembalikan barang tersebut,
meskipun dengan susah payah dan pada akhirnya tidak dapat mengembalikan barang
tersebut.
Tokoh toyip dalam cerpen ini digambarkan sebagai sosok
yang lugu, polos, ala kadarnya orang pribumi yang ramah, baik, apa adanya,
ikhlas, jujur, dan sebagai manusia betawi yang ideal, yang menjunjung nilai
keraifan lokal budayanya. Hal tersebut dapat dilihat dalam ialog antara Toyip
dan Merry Cohen ketika Toyip mau mengembalikan korek api antik milik bule itu
yang tertinggal di bajaj miliknya, bule itu bermaksud ingin memberi uang
sebagai ucapan terimakasih namun Toyip berusaha menolaknya, dalam kutipan berikut:
“Saya
tidak bisa menerimanya Nona,” katanya tulus. “Ini tanda terimakasih saya pak
Toyip. Saya harap dengan sangat pak Toyip mau menerimanya. Ayolah, Pak.”
Kutipan iatas
membuktikan keluguan dan ketulusan Toyip dalam berperilaku. Ketika ia membantu
seseorang, maka sesungguhnya ia tidak mengharapkan imbalan apa-apa. Namun
ketika perbuatan baiknya akhirnya membuat orang lain memberikan sebuah imbalan
dan memaksa Toyip untuk menerima, hal tersebut soal lain. Karena, ketika Toyip
menerima sebuah pemberian orang lain tidak semata-mata dapat mengindikasikan ia
pamrih, dapat pula sebagai indikasi rasa tidak enak kepada yang memberi,
sehingga Toyip memilih untuk menerima pemberian itu supaya membuat pemberi itu
lega dan senang.
Dalam cerpen ini, selanjutnya Toyip digambarkan sebagai
pribadi yang tidak kokoh, orang lain dapat mempengaruhinya dalam mengambil
sebuah keputusan. Hal tersebut terlihat ketika Toyip membawa korek api Merry
kerumah, istrinya meminta Toyip untuk mengembalikan korek api tersebut. Kemuian
Toyip mengembalikan korek api tersebut kepada Merry. Merry pun memberi uang 20 dollar
pada Toyip sebagai ucapan terima kasih. Kemuian ia pulang, akan tetapi istrinya
menyuruhnya untuk mengembalikan dollar pemberian Merry. Ia mencari Merry untuk
mengembalikan uang itu. Berikut kutipan percakapan Toyip dengan istrinya, istri
Toyip menolak pemberian uang dari bue itu dan menyuruh Toyip mengembalikannya:
“Kita
kagak boleh terime! Itu duit haram!” tegas sang istri.
Kalimat penolakan iatas lah yang akhirnya mempengaruhi
perilaku Toyip. Walaupun pada dasarnya ia sudah menolak uang tersebut. kemuian ia
menerima uang tersebut karena mungkin merasa tidak enak. Setelah ia menerima
itu, kemuian Toyip berusaha mengembalikannya, karena istrinya menyuruh supaya
uang tersebut di kembalikan.
Akan tetapi dalam perjalanan mengembalikan uang itu,
Toyip bertemu Nora, dan menceritakan hal tersebut, Toyip mulai bingung, karena
Nora menyarankan untuk memakai uang itu untuk bersenang senang. Akan tetapi
Toyip menepisnya, ia lebih memakai pendapat istrinya. Pada dasarnya tokoh
Toyip, ego nya sejalan dengan superego, dimana ia ingin melakukan sesuatu yang
ideal, yaitu sebagai suami yang patuh dan orang betawi yang menjunjung nilai.
“Masya
Allah, Neng Nora, kamu mau menjerumuskan saya? Bagaimana kalau istriku tahu?”
“Nah.
Istri lagi, istri lagi. Selama Pak Toyip takut sama istri selama itu Pak Toyip tidak paham apa arti hidup.”
Percakapan iatas adalah antara Toyip dan Nora. Nora
adalah pelanggan bajajnya yang bekerja sebagai pelacur. Dalam ialog tersebut
terlihat nora berusaha mempengaruhi Toyip untuk bersenang-senang dengan uang
yang dipunyainya,namun toyip menolak dan memilih untuk tidak berbuat salah, hal
tersebut membuktikan ego toyip mengikuti superegonya.
Namun, pada akhir cerita dalam cerpen Dollar, Ego Toyip
menguasai superegonya. Hal tersebut dapat dilihat ketika ia menerima uang pemberian
Merry karena Toyip menolong Merry saat
kecelakaan, uang toyip sekarang bertambah menjadi 70 dollar. Ketikad
awal cerita Toyip menolak bujukan nora supaya bersenang-senang, pada akhir
cerita dalam cerpen ini Toyip memutuskan untuk menggunakan uangnya untuk
bersenang-senang tanpa sepengetahuan istrinya, hal tersebut ia ungkapkan kepada
Nora dalam kutipan ialog berikut:
“Saya mau coba tuh, Neng Nora.”
“Coba apanya?”
“Mau coba cari kenikmatan itu. Kan
adauang banyak pasti ada kenikmatan, seperti prinsip Neng Nora.”
Dari
penggalan ialog tersebut terlihat ego Toyip menguasai superegonya. Ia memilih
menggunakan uang tersebut untuk bersenang senang. Bukan mengembalikan uang itu
dan menjadi suami yang baik.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Cerpen Dollar
karya Tommy F Awuy menceritakan sopir bajaj bernama Toyip, pelacur bernama Nora,
bule berkebangsaan Amerika bernama Merry Cohen, dan Istri Toyip. Analisis
dengan menggunakan pendekatan psiologis Sigmund Freud (1895-1939) bedasar pada
id, ego dan superego yang merupakan gambaran karakter psikologis masing-masing
tokoh dalam sebuah karya sastra. Hasil analisis cerpen Dollar menunjukkan karakter psikologis Toyip sebagai pribadi yang
polos, tulus, dan menjunjung nilai budaya yang adiluhung. Pada awal cerita,
perilaku Toyip ego mengikuti super ego, namun ternyata perilaku toyip dipengarh
beberapa tokoh lain, sehingga dalam akhir cerita dalam cerpen ini terlihat
beberapa perilaku Toyip ego menguasai superego.
DAFTAR PUSTAKA
Wright,
Elisabeth. 1984. Psychoanalytic Criticism
Teory in Practice. New York: Methuen & Co. Ltd
Assagioli,
Roberto. 1972. Psychosynthesis. New
York: The Viking Press, Inc
Minderop,
Albertine. 2011. Psikologi Sastra.
Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Boeree, George. 2004. Personality Teori. Yogyakarta: Prismasophie
Ratna,
Nyoman Kuta. 2004. Teori, Metode, dan
Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Noor, Redyanto. 2009. Pengkajian Sastra. Semarang: FASindo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar