Sabtu, 01 September 2018


ANALISIS TOKOH TOYIP

DALAM CERPEN DOLLAR KARYA TOMMY F AWUY
DARI PERSPEKTIF PSIKOANALISIS

INNE PELANGI



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Karya sastra adalah ekpresi pengarang. Karya sastra merupakan karya fiksi, akan tetapi mempunyai struktur yang hidup dan seolah nyata. Struktur karya sastra sangat kompleks, di bentuk oleh unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri sehingga menjadi kesatuan yang kokoh. Unsur yang membentuk karya satra iantaranya unsur intrinsik, ekstrinsik, kebahasaan,dan sebagainya. Karya sastra membicarakan banyak hal dalam lingkup kehidupan manusia. Maka antara karya sastra dengan menusia memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Sastra merupakan pencerminan dari segi kehidupan manusia yang didalamnya tersurat sikap, tingkah laku, pemikiran, pengetahuan, tanggapan, perasaan, imajinasi serta spekualasasi mengenai manusia itu sendiri. Karya sastra juga memiliki aspek-aspek kejiwaan yang sangat kaya.
Analisis karya sastra merupakan upaya untuk menguraikan segala yang terkandung dalam sebuah karya sastra. Analisis yang mendalam terhadap sebuah karya sastra dapat dilakukan dengan berbagai sudut pandang, yaitu dengan berbagai pendekatan dan teori. Pendekatan dan teori dimaksudkan supaya analisis sebuah karya sastra terfokus berdasarkan pandangan teori tersebut. Teori sastra saling berkaitan dengan beberapa cabang ilmu lain, iantarannya sosiologi, psikologi, antropologi, dan sebagainya.
Psikologi sastra merupakan analisis sastra dalam kaitannya dengan psike, dengan aspek-aspek kejiwaan pengarang. Secara definitif, tujuan psikologi sastra adalah memahami aspek-aspek kejiwaan yang terkandung dalam suatu karya. Analisis psikologi sastra tidak terlepas dengan kebutuhan masyarakat. sesuai dengan hakikatnya, karya sastra memberikan pemahaman terhadap masyarakat secara tidak langsung. Melalui pemahaman terhadap tokoh-tokohnya, misalnya, masyarakat dapat memahami perubahan, kontradiksi, dan penyimpangan-penyimpangan lain yang terjadi dalam masyarakat, khususnya dalam kaitannya dengan psike.
Cerpen Dollar fokus ceritanya terhadap tiga orang tokoh, yaitu sopir bajaj bernama Toyip, perempuan bule bernama Merry Cohen, dan pelacur bernama Nora. Nora adalah pelanggan setia Toyip. Sopir bajaj setiap hari mengantar Nora pergi belanja di pagi hari, dan kerja di malam hari sebagai pelacur. Toyip adalah sosok suami yang patuh pada istrinya, dalam memutuskan sesuatu ia selalu meminta pendapat istrinya, bahkan pendapat istrinya hampir selalu dominan. Pada suatu ketika, ada seorang wanita bule naik bajajnya, ia berkebangsaan Amerika, bahasa Indonesianya sangat lancar, sehingga Toyip bisa bercerita banyak dengannya. Wanita itu bernama Merrry Cohen. Ketika itu korek antik milik Merry tertinggal dalam bajaj Toyip, setelah dikembalikan kembali pada bule itu, Toyip diberi uang sebanyak 20 dollar, namun uang pemberian bule itu mendapat respons negatif dari istrinya, ia meminta Toyip untuk mengembalikan uang dolar tersebut kepada Merry.  Dalam cerita ini juga membicarkan anak Toyip yang menerima pemberian itu sebagai rejeki namun ditentang oleh ibunya. Toyip akhirnya bersikeras untuk mengembalikan uang itu. Namun dalam perjalanannya, Toyip selalu dipengaruhi Nora untuk mengguakan uang itu bersenang-senang dengan wanita tanpa sepengetahuan istrinya. Pada awalnya Toyip menolak, akan tetapi setelah ia diberi uang oleh Merry lagi  sebesar 50 dolar, akhirnya Tiyib menerima saran Nora, dan Toyip memilih bersenang-senang dengan pelacur yang setiap hari jadi penumpang bajajnya itu.
Dalam cerpen Dollar, setiap tokoh mempunyai karakter psikologis yang berbeda beda berdasarkan gambaran perilaku yang dilakukan. Dan bagaimanakah hubungan Toyip dengan tokoh-tokoh lain dalam cerpen Dollar karya Tommy F Awuy? Untuk menguraikannya, selanjutnya akan ianalisis dengan Psikologi Sastra Sigmun Freud.

1.2  Landasan Teori
Kepribadian adalah satu syarat mutlak bagi manusia untuk memancarkan eksistensinya di dunia. Terutama dalam aktualisasi manusia sebagai makhluk sosial, baik secara internal yaitu sosial untuk dirinya sendiri, dan eksternal yaitu sosial untuk orang lain. Menurut Minderop (2011:54), ada tiga cara untuk memahami hubungan antara psikologi dengan sastra, yaitu: (a) memahami unsur-unsur kejiwaan pengarang sebagai penulis, (b) memahami unsur-unsur kejiwaan para tokoh fiksional dalam karya sastra, dan (c) memahami unsur-unsur kejiwaan pembaca. dalam suatu karya sastra, setiap tokoh didalamnya mempunyai karakteristik yang berbeda. Seperti dalam cerpen Dollar, psikologis individual masing-masing tokoh sangat berbeda, baik Toyip, Nora, Merry Cohen, Istri dan Anak Toyip. Teori yang akan digunakan untuk menganalisis karakter psikologis tokoh dalam cerpen Dollar adalah teori psikologi oleh Sigmund Freud (1856-1939).
Menurut Boeree (2004: 35-36), Freud bukanlah orang pertama yang menemukan ide tentang alam sadar (conscious mind) versus alam bawah sadar (unconscious mind), tapi ialah yang membuat ide itu terkenal. Alam sadar adalah segala sesuatu yang disadari, seperti ingatan, pemikiran fantasi, dan perasaan yang dimiliki seseorang. Alam bawah sadar adalah segala sesuatu yang sulit dibawa ke alam sadar. Dalam analisis karya sastra, teori Freud membedakan kepribadian menjaditiga macam, yaitu: Id, Ego, dan Superego (Ratna, 2004: 344).

v  Id 
Instinct-psychology (or id-psychology, as it came to be called) centres on the role of the sexual instincts as the determining force of an individual’s life (Wright, 1984: 37). Id merupakan lapisan psikis yang paling mendasar sekaligus id menjadi bahan dasar bagi pembentukan hidup psikis lebih lanjut (Bertens, 2006:32-33). Artinya id merupakan sistem kepribadian asli paling dasar yakni yang dibawa sejak lahir. Dari id ini kemuian akan muncul ego dan superego. Saat dilahirkan, id berisi semua aspek psikologik yang diturunkan, seperti insting, impuls, dan drives. Id berada dan beroperasi dalam daerah unconscious, mewakili subyektivitas yang tidak pernah disadari sepanjang usia. Id berhubungan erat dengan proses fisik untuk mendapatkan energi psikis yang digunakan untuk mengoperasikan sistem dari struktur kepribadian lainnya. Energi psikis dalam id itu dapat meningkat oleh karena perangsang, dan apabila energi itu meningkat maka menimbulkan tegangan dan ini menimbulkan pengalaman tidak enak (tidak menyenangkan). Dari situlah id harus mereduksikan energi untuk menghilangkan rasa tidak enak dan mengejar keenakan. Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle), yaitu berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Bagi Id, kenikmatan adalah keadaan yang relative inaktif atau tingkat energi yang rendah, dan rasa sakit adalah tegangan atau peningkatan energi yang mendambakan kepuasan. Jadi ketika ada stimulasi yang memicu energi untuk bekerja timbul tegangan energy, id beroperasi dengan prinsip kenikmatan; berusaha mengurangi atau menghilangkan tegangan itu; mengembalikan diri ke tingkat energi rendah. Penerjemahan dari kebutuhan menjadi keinginan ini disebut dengan proses primer. Proses primer ialah reaksi membayangkan atau mengkhayal sesuatu yang dapat mengurangi atau menghilangkan tegangan, dipakai untuk menangani stimulus kompleks, seperti bayi yang lapar membayangkan makanan atau putting ibunya. Id hanya mampu membayangkan sesuatu, tanpa mampu membedakan khayalan itu dengan kenyataan yang benar-benar memuaskan kebutuhan. Id tidak mampu menilai atau membedakan benar salah, tidak tahu moral. Jadi harus dikembangkan jalan memperoleh khayalan itu secara nyata, yang memberi kepuasan tanpa menimbulkan ketegangan baru khususnya masalah moral. Alasan inilah yang kemuian membuat id memunculkan ego. 



v  Ego 
Ego adalah aspek psikologis daripada kepribadian dan timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan atau realita (Freud dalam Suryabrata 2010:126). Ego berbeda dengan id. Menurut Koeswara (1991:33-34), ego adalah sistem kepribadian yang bertindak sebagai pengaruh individu kepada objek dari kenyataan, dan menjalankan fungsinya berdasarkan prinsip kenyataan. Menurut (Freud dalam Bertens 2006:33), ego terbentuk dengan diferensiasi dari id karena kontaknya dengan dunia luar, khususnya orang di sekitar bayi kecil seperti orang tua, pengasuh, dan kakak adik. Ego timbul karena adanya kebutuhan-kebutuhan organisme memerlukan transaksi-transaksi yang sesuai dengan dunia realita atau kenyataan. Ego adalah eksekutif (pelaksana) dari kepribadian, yang memiliki dua tugas utama; pertama, memilih stimuli mana yang hendak direspon dan atau insting mana yang akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan. Kedua, menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan itu dipuaskan sesuai dengan terseianya peluang yang resikonya minimal. Menurut Bertens (2006:33), tugas ego adalah untuk mempertahankan kepribadiannya sendiri dan menjamin penyesuaian dengan lingkungan sekitar, lagi untuk memecahkan konflik-konflik dengan realitas dan konflik-konflik antara keinginan-keinginan yang tidak cocok satu sama lain. Dengan kata lain, ego sebagai eksekutif kepribadian berusaha memenuhi kebutuhan id sekaligus juga memenuhi kebutuhan moral dan kebutuhan berkembang-mencapai-kesempurnaan dari superego. Ego sesungguhnya bekerja untuk memuaskan id, karena itu ego yang tidak memiliki energi sendiri akan memperoleh energi dari id. Untuk itu sekali lagi memahami apa yang dimaksudkan dengan proses sekunder, perlu untuk melihat sampai dimana proses primer membawa seorang individu dalam pemuasan keinginan sehingga dapat diwujudkan dalam sebuah kenyataan. Proses sekunder terdiri dari usaha menemukan atau menghasilkan kenyataan dengan jalan suatu rencana tindakan yang telah dikembangkan melalui pikiran dan oral (pengenalan). 

v  Superego 
Menurut Bertens (2006: 33-34), superego dibentuk melalui internalisasi (internalization), artinya larangan-larangan atau perintah-perintah yang berasal dari luar (para pengasuh, khususnya orang tua) diolah sedemikian rupa sehingga akhirnya terpancar dari dalam. Dengan kata lain, superego adalah buah hasil proses internalisasi, sejauh larangan-larangan dan perintah-perintah yang tadinya merupakan sesuatu yang “asing” bagi si subyek, akhirnya ianggap sebagai sesuatu yang berasal dari subyek sendiri, seperti “Engkau tidak boleh…atau engkau harus…” menjadi “Aku tidak boleh…atau aku harus…” Menurut Freud (dalam Suryabrata, 2010:127) Super Ego adalah aspek sosiologi kepribadian, merupakan wakil dari nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat sebagaimana ditafsirkan orang tua kepada anak-anaknya yang dimasukkan dengan berbagai perintah dan larangan. Super Ego lebih merupakan kesempurnaan daripada kesenangan. Oleh karena itu, Super Ego dapat pula ianggap sebagai aspek moral kepribadian. Fungsinya yang pokok ialah menentukan apakah sesuatu benar atau salah, pantas atau tidak, susila atau tidak, dan dengan demikian pribadi dapat bertindak sesuai dengan moral masyarakat. Superego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang beroperasi memakai prinsip idealistic sebagai lawan dari prinsip kepuasan id dan prinsip realitik dari ego (Alwisol, 2004:21). Superego bersifat nonrasional dalam menuntut kesempurnaan, menghukum dengan keras kesalahan ego, baik yang telah dilakukan maupun baru dalam fikiran. Superego dalam hal mengontrol id, bukan hanya menunda pemuasan tapi merintangi pemenuhannya. Fungsi utama dari superego yang dihadirkan antara lain adalah: 
1. Sebagai pengendali dorongan atau impuls-impuls naluri id agar impuls-impuls tersebut disalurkan dengan cara atau bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat.
2. Untuk mengarahkan ego pada tujuan-yang sesuai dengan moral ketimbang dengan kenyataan.
3. Mendorong individu kepada kesempurnaan. Superego senantiasa memaksa ego untuk menekan hasrat-hasrat yang berbeda kealam sadar. Superego bersama dengan id, berada ialam bawah sadar (Hall dan Lindzey, 1993: 67-68). Jadi superego cenderung untuk menentang, baik ego maupun id, dan membuat dunia menurut konsepsi yang ideal. Ketiga aspek tersebut meski memiliki karakteristik sendiri-sendiri dalam prakteknya, namun ketiganya selalu berinteraksi secara dinamis. 

1.3  Rumusan Masalah
a.       Bagaimanakah unsur-unsur kejiwaan tokoh Toyip dalam cerpen Dollar karya Tommy F Awuy?

1.4  Tujuan
a.       Memaparkan unsur-unsur kejiwaan tokoh Toyip dalam cerpen Dollar karya Tommy F Awuy.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1     Sinopsis Cerpen Dollar karya Tommy F Awuy
             Cerpen Dollar, menceritakan seorang sopir bajaj, istri dan anaknya, serta permasalahan di dalamnya. Sopir bajaj mempunyai pelanggan yang selalu naik bajajnya, ia seorang pelacur, kemuian pada suatu hari sopir bajaj itu bertemu dengan seorang bule yang naik bajajnya. Korek api antik bule tersebut tertinggal dalam bajaj itu, setelah korek itu dikembalikan, bule tersebut memberi sopir bajaj itu uang sejumlah 20 dollar. Disinilah mulai timbul permasalahan, dimulai dari istri sopir bajaj, anaknya, kemuian dengan bule, dan pelacur tersebut. Tokoh dalam cerpen Dollar adalah sopir bajaj bernama Toyip, pelacur bernama Nora, bule bernama Marry Cohen, istri sopir bajaj, dan anaknya. Selanjutnya akan di bahas hubungan Toyip dengan tokoh-tokoh dalam analisis berikut.

2.2   Analisis Unsur-Unsur Kejiwaan Tokoh Toyip dalam Cerpen Dollar karya Tommy F Awuy
            Toyip adalah seorang sopir bajaj. Istrinya bekerja sebagai pegawai negeri sipil, dan ia mempunyai seorang anak yang hanya lulus SMU. Setiap hari pekerjaan Toyip adalah mengantar istrinya bekerja baru kemuian ia pergi bekerja sebagai sopir bajaj. Dalam cerpen Dollar, sosok Toyip digambarkan sebagai lelaki yang lugu. Layaknya sosok lelaki betawi yang menjunjung tinggi budayanya. Hal tersebut terlihat ketika Merry Cohen meninggalkan korek api dalam bajaj Toyip, tidak  berusaha membiarkannya atau bahkan mengambilnya, karena hanya sebuah korek, bagi setiap orang korek bukanlah hal yang berharga karena dapat dibeli di toko dengan harga tak seberapa. Akan tetapi Toyip langsung memutar balik bajajnya begitu tau korek api Merry tertinggal. Ia berusaha mencarinya, tetapi tidak ketemu dan akhirnya memutuskan untuk membawanya pulang. Berikut kutipan cerita bagian tersebut:

“ . . . .Dengan cepat Toyip berbalik arah sekalipun ada tanda larangan laly lintas dan memacu bajajnya kembali ke Pasaraya. Ia yakin korek api itu milik perempuan asing . . . .”

            Dari kutipan di atas, karakter psikologis Toyip adalah ego yang mengikuti superegonya. Hal tersebut terlihat ketika ia melihat barang orang lain tertinggal di bajajnya ia langsung mengembalikan barang tersebut, meskipun dengan susah payah dan pada akhirnya tidak dapat mengembalikan barang tersebut.
            Tokoh toyip dalam cerpen ini digambarkan sebagai sosok yang lugu, polos, ala kadarnya orang pribumi yang ramah, baik, apa adanya, ikhlas, jujur, dan sebagai manusia betawi yang ideal, yang menjunjung nilai keraifan lokal budayanya. Hal tersebut dapat dilihat dalam ialog antara Toyip dan Merry Cohen ketika Toyip mau mengembalikan korek api antik milik bule itu yang tertinggal di bajaj miliknya, bule itu bermaksud ingin memberi uang sebagai ucapan terimakasih namun Toyip berusaha menolaknya, dalam kutipan berikut:
“Saya tidak bisa menerimanya Nona,” katanya tulus. “Ini tanda terimakasih saya pak Toyip. Saya harap dengan sangat pak Toyip mau menerimanya. Ayolah, Pak.”

             Kutipan iatas membuktikan keluguan dan ketulusan Toyip dalam berperilaku. Ketika ia membantu seseorang, maka sesungguhnya ia tidak mengharapkan imbalan apa-apa. Namun ketika perbuatan baiknya akhirnya membuat orang lain memberikan sebuah imbalan dan memaksa Toyip untuk menerima, hal tersebut soal lain. Karena, ketika Toyip menerima sebuah pemberian orang lain tidak semata-mata dapat mengindikasikan ia pamrih, dapat pula sebagai indikasi rasa tidak enak kepada yang memberi, sehingga Toyip memilih untuk menerima pemberian itu supaya membuat pemberi itu lega dan senang.
            Dalam cerpen ini, selanjutnya Toyip digambarkan sebagai pribadi yang tidak kokoh, orang lain dapat mempengaruhinya dalam mengambil sebuah keputusan. Hal tersebut terlihat ketika Toyip membawa korek api Merry kerumah, istrinya meminta Toyip untuk mengembalikan korek api tersebut. Kemuian Toyip mengembalikan korek api tersebut kepada Merry. Merry pun memberi uang 20 dollar pada Toyip sebagai ucapan terima kasih. Kemuian ia pulang, akan tetapi istrinya menyuruhnya untuk mengembalikan dollar pemberian Merry. Ia mencari Merry untuk mengembalikan uang itu. Berikut kutipan percakapan Toyip dengan istrinya, istri Toyip menolak pemberian uang dari bue itu dan menyuruh Toyip mengembalikannya:
“Kita kagak boleh terime! Itu duit haram!” tegas sang istri.

            Kalimat penolakan iatas lah yang akhirnya mempengaruhi perilaku Toyip. Walaupun pada dasarnya ia sudah menolak uang tersebut. kemuian ia menerima uang tersebut karena mungkin merasa tidak enak. Setelah ia menerima itu, kemuian Toyip berusaha mengembalikannya, karena istrinya menyuruh supaya uang tersebut di kembalikan.
            Akan tetapi dalam perjalanan mengembalikan uang itu, Toyip bertemu Nora, dan menceritakan hal tersebut, Toyip mulai bingung, karena Nora menyarankan untuk memakai uang itu untuk bersenang senang. Akan tetapi Toyip menepisnya, ia lebih memakai pendapat istrinya. Pada dasarnya tokoh Toyip, ego nya sejalan dengan superego, dimana ia ingin melakukan sesuatu yang ideal, yaitu sebagai suami yang patuh dan orang betawi yang menjunjung nilai.

“Masya Allah, Neng Nora, kamu mau menjerumuskan saya? Bagaimana kalau istriku tahu?”
“Nah. Istri lagi, istri lagi. Selama Pak Toyip takut sama istri selama itu  Pak Toyip tidak paham apa arti hidup.”

            Percakapan iatas adalah antara Toyip dan Nora. Nora adalah pelanggan bajajnya yang bekerja sebagai pelacur. Dalam ialog tersebut terlihat nora berusaha mempengaruhi Toyip untuk bersenang-senang dengan uang yang dipunyainya,namun toyip menolak dan memilih untuk tidak berbuat salah, hal tersebut membuktikan ego toyip mengikuti superegonya.
          Namun, pada akhir cerita dalam cerpen Dollar, Ego Toyip menguasai superegonya. Hal tersebut dapat dilihat ketika ia menerima uang pemberian Merry karena Toyip menolong Merry saat  kecelakaan, uang toyip sekarang bertambah menjadi 70 dollar. Ketikad awal cerita Toyip menolak bujukan nora supaya bersenang-senang, pada akhir cerita dalam cerpen ini Toyip memutuskan untuk menggunakan uangnya untuk bersenang-senang tanpa sepengetahuan istrinya, hal tersebut ia ungkapkan kepada Nora dalam kutipan ialog berikut:

          “Saya mau coba tuh, Neng Nora.”
          “Coba apanya?”
          “Mau coba cari kenikmatan itu. Kan adauang banyak pasti ada kenikmatan, seperti prinsip Neng Nora.”

             Dari penggalan ialog tersebut terlihat ego Toyip menguasai superegonya. Ia memilih menggunakan uang tersebut untuk bersenang senang. Bukan mengembalikan uang itu dan menjadi suami yang baik. 

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
            Cerpen Dollar karya Tommy F Awuy menceritakan sopir bajaj bernama Toyip, pelacur bernama Nora, bule berkebangsaan Amerika bernama Merry Cohen, dan Istri Toyip. Analisis dengan menggunakan pendekatan psiologis Sigmund Freud (1895-1939) bedasar pada id, ego dan superego yang merupakan gambaran karakter psikologis masing-masing tokoh dalam sebuah karya sastra. Hasil analisis cerpen Dollar menunjukkan karakter psikologis Toyip sebagai pribadi yang polos, tulus, dan menjunjung nilai budaya yang adiluhung. Pada awal cerita, perilaku Toyip ego mengikuti super ego, namun ternyata perilaku toyip dipengarh beberapa tokoh lain, sehingga dalam akhir cerita dalam cerpen ini terlihat beberapa perilaku Toyip ego menguasai superego.


DAFTAR PUSTAKA

Wright, Elisabeth. 1984. Psychoanalytic Criticism Teory in Practice. New York: Methuen & Co. Ltd
Assagioli, Roberto. 1972. Psychosynthesis. New York: The Viking Press, Inc
Minderop, Albertine. 2011. Psikologi Sastra. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Boeree, George. 2004. Personality Teori. Yogyakarta: Prismasophie
Ratna, Nyoman Kuta. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Noor, Redyanto. 2009. Pengkajian Sastra. Semarang: FASindo.
                                                                                                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MATERI BAHAN AJAR INNE PELANGI BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang            Proses pembelajaran merupakan suatu rangka...