Sabtu, 01 September 2018



ANALISIS WACANA KRITIS PADA KASUS PENCUCIAN UANG FIRST TRAVEL DALAM PERSPEKTIF NORMAN FAIRCLOUGH

Inne Pelangi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pascasarjana Universitas Negeri Makassar
Jalan Bonto Langkasa Makassar, 90222. Telp. (0411) 855288



Abstract

This paper analyzes the discourse of the news text on the first money laundering case in the perspective of Norman Fairlough. The objectives of this research are: (1) To describe the linguistic aspect used in representing the character and the topic of proclamation, (2) to describe the relationship between the ideology of electronic media in Indonesia and the linguistic aspects that are produced, and (3) to describe the social, institutional and situational background of the linguistic aspects used. The method used in this paper is qualitative descriptive with techniques and strategies of critical discourse analysis model Norman Fairclough. The results show that there are three dimensions in the AWK model of Norman Fairclough: linguistic aspects of abbreviations, acronyms, idioms, foreign terms, discourse-interpreting aspects of nomination discourse.

Keywords: Critical Discourse Analysis, First Travel Money Laundering,     
                        Model Norman Fairlough

Abstrak
Tulisan ini menganalisis wacana teks berita pada kasus pencucian uang first travel dalam perspektif Norman Fairlough. Tujuan dari penelitian ini adalah, (1) Mendeskripsikan aspek linguistik yang digunakan dalam merepresentasikan tokoh    dan topik pem­beritaan, (2) Mendeskripsikan hubungan antara ideologi media elektronik di Indonesia  dan aspek      kebahasaan yang dihasilkan, dan (3) Mendeskripsikan situasi sosial, institusional dan situasional yang melatarbelakangi aspek kebahasaan yang digunakan. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah kualitatif deskriptif dengan teknik dan strategi analisis wacana kritis model Norman Fairclough. Hasil penelitian me­nunjukkan bahwa ada tiga dimensi dalam AWK model Norman Fairclough  yaitu aspek kebahasaan berupa singkatan, akronim, idiom, istilah asing.


Kata kunciAnalisis Wacana Kritis, Pencucian Uang First Travel, Model Norman Fairlough



PENDAHULUAN
Latar Belakang
Bahasa merupakan media bagi manusia dalam berkomunikasi. Melalui bahasa, manusia dapat mengungkapkan ide, pikiran, dan perasaannya. Namun demikian, saat ini definisi bahasa telah berkembang sesuai fungsinya bukan hanya se­bagai alat berkomunikasi. Saat ini, bahasa telah menjadi media perantara dalam pelaksanaan kuasa melalui ideologi. Bahkan bahasa juga menyumbang proses domi­nasi ter­hadap orang lain oleh pihak lain (Fair­clough, 1989:2).
Terkait pernyataan di atas, Halliday (1978:2) juga menegaskan bahwa sesungguhnya bahasa bukan hanya terdiri atas kalimat, melainkan juga terdiri atas teks atau wacana yang di dalamnya terdapat tukar-menukar maksud dalam konteks interpersonal antara satu dengan yang lain. Konteks dalam tukar me­nukar maksud itu tidak bersifat kosong dari nilai sosial, tetapi sangat dipengaruhi oleh konteks sosial budaya masyarakatnya. Dalam memahami wacana (naskah/teks), tidak dapat terlepas dari konteksnya. Untuk menemukan ”realitas” di balik teks memerlukan penelusuran atas konteks produksi teks, konsumsi teks, dan aspek sosial budaya yang mempengaruhi pembuatan teks. Dikarenakan dalam sebuah teks tidak lepas akan kepentingan yang yang bersifat subjektif.
Di dalam sebuah teks juga dibutuhkan penekanannya pada makna (lebih jauh dari interpretasi dengan kemampuan integratif, yaitu inderawi, daya piker dan akal budi). Artinya, setelah mendapat sebuah teks yang telah ada dan juga telah mendapat sebuah gambarang tentang teori yang akan dipakai untuk membedah masalah, maka langkah selanjutnya adalah memadukann kedua hal tersebut menjadi kesatuan yaitu dengan adanya teks tersebut memakai sebuah teori untuk membedahnya.
         Perkembangan peran dan definisi bahasa ter­sebut telah membawa pengaruh yang sangat besar terhadap kajian bahasa (linguistik). Lingu­istik tidak lagi bergerak dalam kajian struktural atau gramatikal, tetapi telah berkembang men­jadi kajian-kajian yang lintas disipliner dengan bidang lain, seperti sosiolinguistik, pragmatik, analisis wacana, neurolinguistik, dan psiko­lingu­istik. Kajian-kajian lintas disipliner itu menandai bahwa bahasa memang berperan besar dalam segala bidang kehidupan masyarakat.
         Analisis wacana (kritis) terutama berhutang budi kepada beberapa intelektual dan pemikir, Michel Focult, Antonio Gramsci, Sekolah Frankfrut, Louis Althusser, dan Norman Fairclough. Setiap tokoh-tokoh tersebut menyumbangkan hasil pemikirannya sehingga melahirkan analisis wacana dalam berbagai model. Salah satu tokoh yang bukan akademisi ilmu komunikasi adalah Fairclough. Saat ini dia masih tercatat sebagai Guru Besar linguistik di Department of Linguistics and English Language, Lancaster University, Inggris.
          Faiclough berpendapat bahwa analisis wacana kritis adalah bagaimana bahasa menyebabkan kelompok sosial yang ada bertarung dan mengajukan ideologinya masing-masing. Analisis Wacana melihat pemakaian bahasa tutur dan tulisan sebagai praktik sosial. Praktik sosial dalam analisis wacana dipandang menyebabkan hubungan yang saling berkaitan antara peristiwa yang bersifat melepaskan diri dari dari sebuah realitas, dan struktur sosial. Oleh karena itu dalam penyusunan makalah kali ini, penyusun bermaksud untuk memaparkan tentang analisis wacana model Norman Fairclough untuk menganalisis berita dengan topik Kepala PPATK: Bos First Travel Lakukan Pencucian Uang.
         Setiap media memiliki ideologi dalam pemberitaan. Menurut Eriyanto (2001) ideologi sebuah media dapat diamati melalui pilihan bahasa serta struktur gramatika yang digunakan dalam penulisan berita. Ideologi ini biasanya disesuaikan dengan target pembaca sebagai konsumen berita. Kesamaan ideologi antara media serta pembacanya dianggap penting sebagai bagian dari legitimasi dominasi media terhadap khalayak pembaca.
Dengan memiliki ideologi yang sama, diharapkan liputan berita yang diturunkan seorang jurnalis melalui sebuah media dapat diterima secara ‘taken for granted’ oleh pembacanya. Penelitian ini berusaha untuk mengidentifikasi berita dengan topik “Kepala PPATK: Bos First Travel Lakukan Pencucian Uang dengan menggunakan teknik analisis wacana menurut Norman Fairclough.
KERANGKA TEORI
Analisis wacana kritis adalah analisis bahasa yang dalam penggunaannya menggunakan paradigma bahasa kritis (Darma, 2014:99). Lebih lanjut Darma mengatakan bahwa analisis wacana kritis (AWK) memang menggunakan bahasa dalam teks untuk dianalisis, tetapi hasilnya bukan untuk memeroleh gambaran dan aspek kebahasaan, melainkan menghubungkannya dengan konteks. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Van Dijk (dalam Djatmika, 2014:2-3) bahwa wacana itu tidak hanya menyangkut penggunaan bahasa, tetapi lebih dari itu yang melibatkan beberapa komponen penting yang lain dari konsep wacana, di antaranya dengan melibatkan siapa yang menggunakan bahasa, bagaimana menggunakannya, mengapa menggunakannya, dan kapan menggunakannya. Sementara Firth (dalam Syamsuddin, 1992:2) mengemukakan bahwa wacana adalah language was only meaningful in its context of situation. Artinya, pembahasan wacana adalah pembahasan bahasa dan tuturan yang harus dalam satu rangkaian kesatuan situasi atau dengan kata lain, makna suatu bahasa berada dalam rangkaian konteks dan situasi.
            Dalam AWK ini, ada banyak teori dari para ahli yang dapat diterapkan untuk menganalisis sebuah wacana. Salah satunya adalah Norman Fairclogh. Fairclough (dalam Jufri 2008:41) mendeskripsikan, menginterpretasi, dan menjelaskan praktek diskursif dan mengklarifikasi dasar-dasar ideologi yang memiliki tujuan tertentu. Selain itu juga memublikasikan antara wacana dengan sosiokultural. Pengonstruksian kekuasaan dan pengetahuan , mengacu pada ideologi dan bahasa sebagi media untuk mempresentasikan realita sosial di dalam praktek institusi. Selain itu, Norman Fairclough (dalam Rasyid, 2009:264) wacana merupakan penggunaan bahasa yang dipahami sebagai praktik sosial yang menggambarkan hubungan dialektis di antara peristiwa tertentu dengan situasi, institusi, dan struktur sosial yang membentuknya. Penggunaan label kritis dalam kajian ini mempunyai makna tersendiri dengan tujuan untuk menunjukkan hubungan yang mungkin disembunyikan dari orang-orang seperti hubungan antara bahasa, kekuasaan, dan ideology yang mengacu pada wacana yang dikaji.
            Fairclough (dalam Vinsensius, 4 Desember 2007) melihat bagaimana penempatan dan  fungsi bahasa dalam hubungan sosial khususnya dalam kekuatan dominan dan ideologi. Fairclough berupaya menteoretisasikan konsep wacana dengan menggabungkan beberapa tradisi, yakni linguistik, tradisi interpretative, dan sosiologi. Dengan demikian, Fairclough menandakan tiga dimensi pada setiap peristiwa diskursif, yaitu: teks, praktik diskursif, dan praktik sosial (Titscher, dkk, 2009:244—245). Masing-masing dimensi ini memiliki wilayah dan proses masing-masing dan ketiganya berhubungan secara dialektis. Dimensi pertama adalah teks yang merupakan hasil dari proses produksi. Teks yang dimaksud dalam hal ini adalah teks-teks bahasa (lisan dan tulisan). Yang kedua adalah praktik diskursif yang terkait dengan interaksi interaksi teks dengan individu atau masyarakat dalam bentuk proses produksi dan interpretasi. Dimensi ketiga adalah praktik sosial atau konteks yang mencakup praktik-praktik sosio-kultural di mana proses produksi dan interpretasi itu berlangsung. Ketiga dimensi itu kemudian dianalisis dengan tiga model analisis yang berbeda, yaitu:1) deskripsi, digunakan untuk menganalisis teks; 2) interpretasi, digunakan untuk menganalisis proses produksi dan interpretasi teks;, dan 3) eksplanasi, digunakan untuk menganalisis praktik-praktiks sosio-kultural yang mencakup level situasional, institusional, dan sosial.
Tahapan Analisis menurut Fairclough
Penelitian ini menggunakan teori Fairclough (1989) tentang prosedur analisis wacana kritis yang tahapnya terdiri atas tiga, yaitu deskripsi, interpretasi dan eksplanasi (Fairclough, 1989: 26).
Analisis teks pada tahap deskripsi mengacu pada tingkatan yang berhubungan dengan sifat formal teks, kajiannya meliputi aspek kosakata dan gramatikal yang tercakup pada aspek makna eksperensial (ideasional), interpersonal serta makna tekstual teks, sedangkan aspek struktur teks ada pada analisis genre. Atau secara global, bisa dikatakan bahwa tahapan deskripsi adalah tahapan yang mengacu pada fitur-fitur linguistik.
Tahap interpretasi berkaitan dengan hubungan antara teks dan interaksi dalam teks yaitu dengan melihat teks sebagai suatu produk proses produksi, dan sebagai sumber dalam proses interpretasi. Tahap ini merupakan tahap yang mengikutkan faktor-faktor sosial (interpretasi konteks) dari suatu teks, misalnya saja tentang siapa yang terlibat, apa yang sedang terjadi, dalam hubungan apa, serta apa peran bahasa pada teks tersebut, selanjutnya baru ditentukan interpretasi teksnya berdasarkan hubungannya dengan interpretasi konteks tersebut. (Fairclough, 1989: 146-148).
Dijelaskan lebih detail oleh Fairclough (1989: 141) bahwa interpretasi adalah penggeneralisasian melalui apa yang ada dalam teks dan apa yang ada dalam benak si interpreter serta dalam kerangka berpikir members of resourses.
Tahapan selanjutnya adalah eksplanasi. Tahap ini berkaitan dengan hubungan antara konteks interaksi dan sosial. Tahapannya berhubunganan dengan penentuan sosial proses produksi dan interpretasi serta efek-efek sosial pada terwujudnya sebuah teks. Pertanyaan yang muncul pada tahap ini biasanya adalah apa yang membantu terbentuknya sebuah wacana yang berhubungan dengan penentuan sosial yang meliputi level situasional, institusional dan kemasyarakatan. Sedangkan pada level ideologi, pertanyaan yang muncul adalah elemen apa yang digambarkan memiliki muatan ideologis.
Konteks
Sebelum menginterpretasi teks, diperlukan interpretasi konteks yang meliputi teks. Yang dimaksud dengan konteks di sini adalah konteks situasi (Halliday dan Hasan, 1985: 16) yang terdiri atas: field, tenor dan mode. Field merupakan medan dalam suatu wacana yang mengacu pada hal apa yang sedang terjadi dalam teks serta tindakan sosial yang sedang berlangsung.
Tenor merupakan pelibat suatu wacana yang mengacu pada siapa yang terlibat dalam teks tersebut, kepada siapa teks tersebut ditujukan, serta apa hubungan yang terjadi antar pelaku dalam wacana, misalnya status dan kekuasaan partisipan, afeksi (suka atau tidak suka atau netral), kontak (frekuensi dan durasi kontak, kedekatan).
Mode, merupakan sarana dalam suatu wacana, menunjukkan pada bagian yang menjadi tujuan yang akan dicapai tenor, misalnya pada bagaimana bahasa digunakan yaitu tulis atau lisan, bahasa digunakan sebagai aksi atau sebagai refleksi.
Genre Teks
Menurut Eriyanto (2002: 91) berita pada dasarnya dibentuk lewat proses aktif dari pembuat berita. Peristiwa yang kompleks dan tidak beraturan disederhanakan dan dibuat bermakna oleh pembuat berita. Semua proses tersebut melibatkan proses lewat skema interpretasi dari pembuat berita.
Fishman menambahkan, yang dikutip oleh Eriyanto (2002: 91) bahwa peristiwa adalah sebuah fenomena atau kejadian yang diinterpretasikan, sesuatu yang diorganisasikan dalam pikiran, ucapan dan tindakan. Karena itu, peristiwa yang kompleks tersebut diinterpretasikan dalam skema pembuat berita. Fishman misalnya memberi ilustrasi yang menarik mengenai seorang anak yang hilang. Peristiwa ini dapat disusun dalam kerangka yang berbeda-beda dan diatur ke dalam struktur cerita yang bermacam-macam.
Demikian halnya dengan berita, satu berita yang sam dapat disusun ke dalam struktur cerita yang berbeda-beda tergantung pada keinginan penulis berita tentang sisi mana dari berita tersebut yang ingin ditonjolkan. Terdapat banyak sekali tipe genre (struktur cerita) pada teks menurut Gerot and Wignell (1994: 190-248), tetapi yang akan dijelaskan di sini hanya dua tipe genre yang sesuai dengan dua tipe genre yang dimiliki oleh teks yang akan dianalisis pada analisis ini.
Deskripsi
Genre jenis ini bertujuan untuk menjelaskan orang, tempat atau sesuatu secara khusus dan mendetail. Generic structurenya (skema) adalah sebagai berikut:
·         Identifikasi: mengidentifikasi fenomena yang hendak dijelaskan.
·         Deskripsi : mendeskripsikan bagian, kualitas atau kakarkter.
Item Tes
Tipe ini mempunyai tujuan untuk menginformasikan pada pembaca atau pendengar atau pengamat tentang suatu kejadian hari itu yang dianggap layak menjadi berita atau dianggap penting. Struktur skemanya adalah sebagai berikut:
·         Hal yang dianggap penting : berisi ringkasan cerita
·         Latar belakang: berisi rincian berita, apa yang terjadi, pada siapa, dengan keadaan yang bagaimana.
·         Sumber: komentar para partisipan, saksi atau ahli dalam peristiwa tersebut.
Intertekstualitas (Intertextuality)
Intertekstualitas merupakan hubungan teks dalam suatu teks atau hubungan teks dalam suatu ranah yang lebih besar yang membentuk teks. Diterangkan lebih lanjut oleh Bakhtin dalam Fairclough (1992: 103) yang mengutip pendapat Kristeva (1986: 36) bahwa terdapat dua dimensi intertekstualitas, yaitu horizontal dan vertikal.             Dimensi horizontal merupakan hubungan antara teks sebelum teks dan teks sesudah teks. Sedangkan dimensi vertikal membahas tentang hubungan teks dengan teks lainnya yang berasal dari genre yang berbeda. Pada hubungan vertikal, teks dihubungan secara langsung (straighforward) ataupun dengan cara menekankan bagian yang dianggap penting (reaccentuate) secara ironi maupun parodi. Sedangkan Renkema (1993: 35- 36) memberi keterangan yang lebih sederhana mengenai intertesktualitas yaitu mengacu pada rangkaian kalimat yang berhubungan secara bentuk dan arti dengan rangkaian kalimat yang lain.
Terdapat empat cara untuk menciptakan intertesktualitas yakni:
1)      Duplikasi (serangkaian kata-kata yang ada dalam dua teks- kutipan) secara stilistik (repetisi dari pola tekanan, suara, atau pola sajak di dua atau lebih teks).
2)       Penamaan dan referensi (seperti yang terjadi dalam kutipan)
3)       Asosiasi proksimal (seperti yang terjadi di antara bab-bab dalam sebuah buku yang diedit dianggap memiliki hubungan satu sama lain)
4)      Asosiasi sekuensial (misalnya hubungan yang ada pada surat balasan atau email).

METODE
            Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah deskriptif kualitatif dan sumber data penelitian ini adalah teks berita dari media online yaitu kompas.com pertanggal 22 Agustus hingga 30 Agustus 2017, pukul 16:45 WIB yang diunduh dari internet. Pemilihan media online tersebut karena kompas.com merupakan situs berita Indonesia terlengkap menyajikan berita politik, pendiikan, ekonomi, teknologi, otomotif dan bola secara berimbang, akurat dan terpercaya serta cenderung menitikberatkan pada kualitas berita terutama keobyektifan berita, sehingga liputannya terkesan netral dan sangat hati-hati.
PEMBAHASAN
Analisis Hasil Temuan Data
Penelitian ini menggunakan teori Fairclough (1989) tentang prosedur analisis wacana kritis yang tahapnya terdiri atas tiga, yaitu deskripsi, interpretasi dan eksplanasi (Fairclough, 1989: 26).  Adapun hasil analsis teks berita dengan topik “Kepala PPATK: Bos First Travel Lakukan Pencucian Uang” akan di analisis dengan prosedur tersebut.
Aspek-Aspek Linguistik Teks
Produksi teks tidak terlepas dari aspek linguistik. Aspek linguistik ini yang menjelaskan tentang hegemoni dalam suatu teks berita. Hal yang sama juga terjadi dalam berita “Kepala PPATK: Bos First Travel Lakukan Pencucian Uang” yang cukup hangat dibicarakan saat ini. Aspek-aspek linguistik dalam teks berita “Kepala PPATK: Bos First Travel Lakukan Pencucian Uang” dapat diuraikan sebagai berikut:
Penggunaan Singkatan
    Penyampaian berita tentang  first travel yang saat ini sedang dibicarakan Indonesia, penulis berita pada umumnya lebih cenderung menggunakan bentuk singkatan, yaitu memendekkan berupa huruf atau gabungan huruf yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar. Penulis berita baik dari media cetak, elektronik, maupun media online lebih cenderung menggunakan singkatan. Hal ini dapat dilihat pada penulisan judul berita sebagai berikut:
Kepala PPATK: Bos First Travel Lakukan Pencucian Uang.”
(Kompas.com, 22 Agustus 2017)
Yenti menduga sebagian dana calon jemaah itu diinvestasikan ke luar negeri. Jika tersangka telah dikenakan sangkaan mencuci uang, maka akses polisi lebih luas untuk meminta penelusuran PPATK dan otoritas analisis keuangan di luar negeri.”(Kompas.com, 28 Agustus 2017)
"Kalau ada upaya untuk menyamarkan dana hasil kejahatan ya itu TPPU. Mestinya ada TPPU-nya," ujar Kiagus saat ditemui di Kemenko Polhuka, Jakarta Pusat.” (Kompas.com, 28 Agustus 2017).

Penyampaian berita tentang  first travel yang berkaitan dengan pencucian uang yang terjadi di Indonesia, penulis berita pada umumnya lebih cenderung menggunakan bentuk singkatan, yaitu hasil menyingkat (memendekkan) berupa huruf atau gabungan huruf; kependekan; ringkasan.
          Penulis berita baik dari media cetak, elektronik, maupun media online lebih cenderung menggunakan singkatan. Hal ini tampaknya berkaitan dengan terlalu panjangnya sebuah kata atau klausa sehingga penyingkatan dilakukan dan dieja menurut huruf pembentuknya. Penulisan PPATK dan TPPU pada berita  merupakan nomina bila dipanjangkan, namun ditulis dengan huruf PPATK dan TPPU yaitu ditulis dengan huruf kapital karena kependekan dari  Pusat Pelaporan dan analisis transaksi keuangan sementara TPPU ditulis dengan huruf kapital karena kependekan dari tindak pidana pencucian uang yaitu merujuk pada klausa. PPATK merupakan lembaga pemerintahan yang bertugas untuk menangi kasus yang bersangkutan dengan kasus pencucian uang. Dalam hal ini pemerintah membuat suatu lembaga nasional dengan tujuan memberantas dan mencegah tindak pidana pencucian uang yang yang telah dilakukan oleh bos first travel yang berkedok perjalanan umrah dan haji.
Penggunaan Akronim
Dalam menyampaikan berita tentang “Kepala PPATK: Bos First Travel Lakukan Pencucian Uang”, penulis berita pada umumnya lebih cenderung menggunakan bentuk akronim, yaitu kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar. Penulis berita baik dari media cetak, elektronik, maupun media online lebih cenderung menggunakan akronim. Hal ini tampaknya berkaitan dengan rasa. Kemenko Polhukam dianggap lebih mudah dan terasa lebih singkat apabila diucapkan. Akronim kemenko polhukam dibentuk dari klausa kementrian koordinasi politik, hukum, dan keamanan. Penulisan frase nomina kementrian koordinasi politik, hukum, dan keamanan dianggap sebagai ungkapan yang terlalu panjang dan ketika diakronimkan menjadi kemenko polhukam akan lebih mudah diucapkan dan menghindari penggunaan kesalahan dalam berbahasa terutama dalam berbahsa lisan. Terskait dengan penggunaan akronim kemenko polhukam dapat dilihat pada kutipan berikut:
Kalau ada upaya untuk menyamarkan dana hasil kejahatan ya itu TPPU. Mestinya ada TPPU-nya," ujar Kiagus saat ditemui di Kemenko Polhukam.” (Kompas.com Jakarta Pusat, Senin (28/8/2017).
Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Kiagus Ahmad Badaruddin saat ditemui di Kemenko Polhukam.” (Kompas.com Jakarta Pusat, Senin (28/8/2017).

Akronim kemenko polhukam  merujuk pada frase kementrian koordinasi politik, hukum, dan keamanan, yaitu suatu lembaga pemerintahan yang dalam implementasinya bertugas meningkatkan citra Indonesia dalam hal penegakan HAM melalui: pemberantasan korupsi, tindakan terhadap pencucian uang, illegal logging, illegal fishing, illegal mining,human trafficking, ratifikasi instrumen internasional mengenai HAM serta pembenahan UU tentang HAM.
            Dalam hal ini kasus dalam berita “Kepala PPATK: Bos First Travel Lakukan Pencucian Uang” telah ditangani oleh kepala pusat pelaporan dan analisis transaksi keuangan kemenko polhukam sebagai sumber untuk mendapatkan keabsahan informasi terkait dengan pencucian uang yang telah dilakukan oleh bos first travel. Kemenko polhukam sendiri tidak hanya berdiam diri saja terhadap kasus pencucian uang yang telah dilakukan oleh bos first travel akan tetapi Kiagus (kepala PPATK) mengatakan, hasil penelusuran dan analisis terkait pecucian uang telah diserahkan ke penyidik Bareskrim Mabes Polri untuk tindakan lebih lanjut.
Penggunaan Idiom
Dalam teks berita tentang first travel juga terdapat penggunaan idiom, yaitu konstruksi yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna unsurnya. Idiom yang digunakan itu adalah pencucian uang. Terkait penggunaan idiom ini dapat dilihat pada kutipan berita berikut:

Kepala PPATK: Bos First Travel Lakukan Pencucian Uang
Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Kiagus Ahmad Badaruddin mengungkapkan adanya dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang dilakukan oleh pasangan pemilik First Travel Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan.” (Kompas.com, 22 Agustus 2017)
Secara terpisah, Pakar hukum Tindak Pidana Pencucian Uang Yenti Garnasih meminta Polri segera mengenakan pasal pencucian uang kepada ketiga tersangka, yakni Andika Surachman, Anniesa Hasibuan dan Siti Nuraidah Hasibuan untuk mempermudah penelusuran aset.” (Kompas.com, 22 Agustus 2017)
Yenti menduga sebagian dana calon jemaah itu diinvestasikan ke luar negeri. Jika tersangka telah dikenakan sangkaan mencuci uang, maka akses polisi lebih luas untuk meminta penelusuran PPATK dan otoritas analisis keuangan di luar negeri.” (Kompas.com, 22 Agustus 2017)

Idiom pencucian uang dalam teks kompas.com dapat kita maknai sebagai suatu upaya perbuatan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul uang/dana atau harta kekayaan hasil tindak pidana melalui berbagai transaksi keuangan agar uang atau harta kekayaan tersebut tampak seolah-olah berasal dari kegiatan yang sah/legal.
Pada umumnya pelaku tindak pidana berusaha menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan yang merupakan hasil dari tindak pidana dengan berbagai cara agar harta kekayaan hasil kejahatannya sulit ditelusuri oleh aparat penegak hukum sehingga dengan leluasa memanfaatkan harta kekayaan tersebut baik untuk kegiatan yang sah maupun tidak sah. Oleh karena itu, tindak pidana pencucian uang  tidak hanya mengancam stabilitas dan integritas sistem perekonomian dan sistem keuangan, melainkan juga dapat membahayakan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Dalam hal ini dalam menghadapi kasus first travel penyidik Mabes Polri bekerjasama PPATK untuk menelusuri tindak pidana pencucian uang yang dilakukan oleh bos first travel. Menghadapi kondisi tersebut, upaya pencegahan dan pemberantasan kejahatan berkembang tidak hanya mengejar dan menghukum pelaku, namun juga melengkapi dengan: (1) menelusuri aliran uang (follow the money) hasil kejahatan yang “disembunyikan” melalui Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU); (2) berusaha memperluas jangkauan deteksi suatu tindak pidana dan pengungkapan pelaku penerima manfaat; (3) memberikan terobosan dalam aspek pembuktian; dan (4) memutus mata rantai kejahatan dengan merampas harta kekayaan hasil kejahatan.
Penggunaan Istilah Asing
Penggunaan yang paling mencolok dalam berita pencucian uang ini adalah first travel. Kata first travel dapat kita lihat pada kutipan berikut:

Kepala PPATK: Bos First Travel   Lakukan Pencucian Uang” (Kompas.com, 22 Agustus 2017)
Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Kiagus Ahmad Badaruddin mengungkapkan adanya dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang dilakukan oleh pasangan pemilik First Travel, Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan.” (Kompas.com, 28 Agustus 2017)
Dalam pengembangan kasus, polisi juga menjerat adik Anniesa, Siti Nuraidah Hasibuan alias Kiki Hasibuan selaku Direktur Keuangan sekaligus Komisaris First Travel.”(Kompas.com, 28 Agstus 2017)
Menurut polisi, jumlah korban yang belum diberangkatkan agen perjalanan First Travel sebanyak 58.682 orang.”(Kompas.com, 22 Agustus 2017)
First Travel belum membayar provider tiket penerbangan sebesar Rp 85 miliar. Kedua tersangka juga belum membayar tiga hotel di Mekkah dan Madinah dengan total Rp 24 miliar. Kemudian, utang pada provider visa untuk menyiapkan visa jemaah sebesar Rp 9,7 miliar.” (Kompas.com, 22 Agustus 2017).

Berdasarkan kutipan di atas dapat dikatakan bahwa penggunaan frase first travel menggunakan pemakaian bahasa asing yaitu bahasa Inggris yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti perjalanan pertama. First travel merupakan nama salah satu agen yang menyelenggarakan perjalanan umrah, akan tetapi agen penyelenggaraan umrah ini tidak memberangkatkan jamaah sesuai pada batas waktu yang telah ditentukan sehingga jumlah jamaah sebanyak 58.682 orang mengalami kerugian. Menurut hasil penyidikan PPATK bersama polri bos dari agen tersebut melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU) terhadap uang jamaah dan setelah diselidiki, bos dari first travel tersebut menggunakan dana jaamaah untuk keperluan pribadi, bisnis, investasi, dan sebagian dananya telah dialirkan ke tangan pihak ketiga. Hingga saat ini jumlah uang dalam rekening bos first travel sejumlah Rp 1,3 juta. Hal ini sangat merugikan jamaah karena hal ini bertentangan dengan undang-undang yang berlaku di Indonesia yakni mengenai pencucian uang dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah).
SIMPULAN
Berdasarkan AWK model Norman Fairclough, dapat disimpulkan bahwa dalam berita tentang pencucian uang dianalisis dari segi aspek linguistik teks, yang menampilkan beberapa aspek linguistik sebagai konsep dalam menjelaskan sebuah konteks, yaitu: a) penggunaan singkatan b) penggunaan akronim, b) penggunaan idiom, dan c) penggunaan istilah asing.
                                                                       
                                                              DAFTAR PUSTAKA
     Badara, Aris. 2012. Analis  Teori, Metode, dan peneraannya pada Wacana media. Kencana Prenada  
                 Media Group.

Djatmika. 2014. Pernik Kajian Wacana. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Darma, Yoce Aliah. 2014. Analisis Wacana Kritis dalam Multiperspektif. Bandung: PT Refika Aditama.

Jufri. 2008. Analisis Wacana Kritis. Makassar: Badan Penerbit UNM.

Prayogi dan Rusminto. 2016. Wacana Berita Bertajuk Korupsi dalam Situs Indonesiana dan Implikasi Pembelajaran Analisis Wacana. Http:// download.portalgaruda.org. Diakses pada tanggal 29 September 2017.

Rasyid, Armiati. 2009. Nilai Relasional Model Kalimat dalam Wacana Kampanye Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Periode 2008—2013 (Analisis Wacana Kritis). Makassar: Dalam Jurnal Sawerigading, Volume 15 Nomor 2, Agustus 2009. Balai Bahasa Ujung Pandang, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.

Titscher, Stefan, dkk. 2000. Motode    Analisis Teks dan Wacana (Terjemahan). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Vinsensius. 2007. Norman Fairclough. Majalah Kajian Media  
          Online.  Http://dictum4magz.wordpress.com/2007/12/04/norman-fairclough. Diakses tanggal 
            29 September 2017.















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MATERI BAHAN AJAR INNE PELANGI BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang            Proses pembelajaran merupakan suatu rangka...