MATERI BAHAN AJAR
INNE PELANGI
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Proses
pembelajaran merupakan suatu rangkaian kegiatan aktifitas dalam upaya pewujudan
kompetensi siswa, dibangun oleh berbagai unsur, yaitu unsur raw input (siswa) yang akan
diproses/dibentuk kompetensinya, instrumental input (terdiri
dari tujuan, materi berupa bahan ajar, media dan perangkat evaluasi) yang
berfungsi sebagai perangkat yang akan memproses pembentukan kompetensi, serta
perangkat lingkungan (environmental input), seperti lingkungan keluarga, sekolah
maupun masyarakat, yang turut mempengaruhi keberhasilan pencapaian kompetensi.
Salah satu masalah penting yang sering dihadapi oleh guru dalam kegiatan pembelajaran adalah memilih atau menentukan bahan ajar atau materi pembelajaran yang tepat dalam rangka membantu siswa untuk mencapai kompetensi. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam kurikulum atau silabus, materi bahan ajar hanya dituliskan dalam garis besar dalam bentuk materi pokok. Menjadi tugas guru untuk menjabarkan materi pokok tersebut sehingga menjadi bahan ajar yang lengkap. Selain itu, bagaimana cara memanfaatkan bahan ajar juga merupakan masalah. Pemanfaatan yang dimaksud adalah bagaimana cara mengajarkannya ditinjau dari pihak guru dan cara mempelajarinya ditinjau dari pihak siswa.
Salah satu masalah penting yang sering dihadapi oleh guru dalam kegiatan pembelajaran adalah memilih atau menentukan bahan ajar atau materi pembelajaran yang tepat dalam rangka membantu siswa untuk mencapai kompetensi. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam kurikulum atau silabus, materi bahan ajar hanya dituliskan dalam garis besar dalam bentuk materi pokok. Menjadi tugas guru untuk menjabarkan materi pokok tersebut sehingga menjadi bahan ajar yang lengkap. Selain itu, bagaimana cara memanfaatkan bahan ajar juga merupakan masalah. Pemanfaatan yang dimaksud adalah bagaimana cara mengajarkannya ditinjau dari pihak guru dan cara mempelajarinya ditinjau dari pihak siswa.
Bahan
ajar atau materi pembelajaran secara garis besar terdiri dari pengetahuan,
keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai
standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis materi
pembelajaran terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur),
keterampilan, dan sikap atau nilai. Bahan ajar merupakan salah satu komponen
sistem pembelajaran yang memegang peranan penting dalam membantu siswa mencapai
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar atau tujuan pembelajaran yang telah
ditentukan. Dengan menerapkan bahan ajar yang telah dikembangkan tersebut,
diharapkan diperoleh alternatif bagi guru dalam menyampaikan suatu materi
pembelajaran sehingga proses belajar mengajar akan berjalan
lebih optimal dan bervariasi dan pada akhirnya hasil belajar maupun
aktivitas peserta didik diharapkan juga meningkat.
Bahan pembelajaran dalam proses pembelajaran dengan
demikian menempati posisi penting dalam proses pembelajaran, hal tersebut karena
bahan ajar merupakan materi yang akan disampaikan/disajikan. Tanpa bahan ajar
mustahil pembelajaran akan terwujud. Tepat tidaknya, sesuai tidaknya bahan ajar
dengan tujuan dan kompetensi yang diharapkan akan menentukan tercapai tidaknya
tidaknya tujuan kompetensi pembelajaran yang diharapkan.
B. Rumusan
Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini
yakni:
1. Apa
Pengertian Bahan Ajar?
2. Bagaimana
prinsip-prinsip pemilihan bahan ajar ?
3. Apa saja
jenis-jenis bahan ajar?
4. Bagaimana
menentukan langkah-langkah pembuatan bahan ajar ?
5. Bagaimana
menentukan cakupan urutan bahan ajar ?
6. Bagaimana
menentukan sumber belajar ?
7. Bagaimana
penerapan Strategi Dalam Memanfaatkan Bahan Ajar ?
8. Bagaimana
menentukan Materi prasyarat dan perbaikan, dan pengayaan?
C. Tujuan
Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah
ini yakni mengkaji lebih dalam mengenai bahan ajar. Dengan kajian ini
diharapkan mahasiswa sebagai calon pendidik mampu melakukan dan menerapkan
bahan ajar sesuai dengan spesifikasi mata pelajaran yang diasuhnya.
D. Manfaat
Penulisan
1. Menambah
wawasan dan pengetahuan bagi penulis untuk memahami tentang bahan ajar.
2. Memberikan
pengetahuan kepada pembaca mengenai bahan ajar.
3. Menambah
wawasan bagi orang-orang yang berkecimpung di bidang pendidikan mengenai bahan bahan ajar
4. Memberikan
manfaat kepada calon pendidik maupun pendidik/guru dalam menerapkan bahan ajar.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Bahan Ajar
Bahan ajar
merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan guru/instruktur untuk
perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/
instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang
dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. (National
Center for Vocational Education Research Ltd/National Center for Competency
Based Training).
Bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik
tertulis maupun tidak sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan
siswa untuk belajar. Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials)
adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam
rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci,
jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep,
prinsip, prosedur), keterampilan, dan sikap atau nilai.
B. Prinsip-prinsip dalam memilih
bahan ajar
Prinsip-prinsip dalam pemilihan materi
pembelajaran meliputi:
1. Prinsip
relevansi
Prinsip relevansi artinya materi
pembelajaran hendaknya relevan memiliki keterkaitan dengan pencapaian standar
kompetensi dan kompetensi dasar.
2. Prinsip
konsistensi
Prinsip konsistensi artinya adanya
keajegan antara bahan ajar dengan
kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Misalnya, kompetensi dasar yang harus
dikuasai
siswa empat macam, maka bahan ajar yang harus diajarkan juga harus meliputi
empat macam.
3. Prinsip
kecukupan
Prinsip kecukupan artinya materi yang
diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar
yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu
banyak. Jika terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai standar kompetensi
dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang-buang waktu
dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya.
C. Jenis-Jenis Bahan Ajar
1. Bahan ajar pandang (visual)
yang terdiri atas bahan cetak (printed) seperti antara lain
handout,
buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar,
dan non
cetak (non printed), seperti model/market.
2. Bahan ajar dengar (audio)
seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk
audio.
3. Bahan
ajar pandang dengar (audio visual) seperti video campact disk, filem.
4. Bahan ajar multimedia
interaktif (interactive teaching material). Seperti CAI (Computer Assistented
Instruction), Copack Disk (CD) multimedia pembelajaran interaktif, dan bahan
ajar berbasis we (Web based learning materials).
D. Langkah-Langkah Pemilihan Bahan Ajar
Sebelum melaksanakan pemilihan
bahan ajar, terlebih dahulu perlu diketahui kriteria pemilihan bahan ajar.
Kriteria pokok pemilihan bahan ajar atau materi pembelajaran adalah standar
kompetensi dan kompetnsi dasar. Hal ini berarti bahwa materi pembelajaran yang
dipilih untuk diajarkan oleh guru di satu pihak dan harus dipelajari siswa di
lain pihak hendaknya berisikan materi atau bahan ajar yang benar-benar
menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar (Ghafur, 1986).
Secara garis
besar langkah-langkah pemilihan bahan ajar meliputi hal-hal sebagai
berikut:
1.
Mengidentifikasi aspek-aspek yang
terdapat dalam standar kompetensi dan
kompetensi dasar.
Sebelum menentukan
materi pembelajaran terlebih dahulu perlu diidentifikasikan aspek-aspek standar
kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dipelajari atau dikuasai siswa.
Aspek tersebut perlu ditentukan, karena setiap aspek standar kompetensi dan
kompetensi dasar memerlukan jenis materi yang berbeda-beda dalam kegiatan
pembelajaran untuk membantu pencapaiannya (Ghafur, 1987).
2. Identifikasi
jenis-jenis materi pembelajaran
Sejalan dengan berbagai jenis aspek standar kompetensi, materi pembelajaran
juga dapat dibedakan menjadi jenis materi aspek kognitif, afektif, dan
psikomotorik. Materi pembelajaran aspek kognitif secara terperinci dapat dibagi
menjadi empat jenis, yaitu: fakta, konsep, prinsip, dan prosedur (Reigeluth,
1987).
3. Memilih jenis materi yang sesuai dengan standar
kompetensi dan kompetensi dasar
Dengan mengidentifikasi jenis-jenis materi yang akan diajarkan, maka guru
akan mendapatkan kemudahan dalam cara mengajarkannya. Setelah jenis materi
pembelajaran teridentifikasi, langkah berikutnya adalah memilih jenis materi
tersebut yang sesuai dengan standar kompetensi atau kompetensi dasar yang harus
dikuasai siswa . Identifikasi jenis materi pembelajaran juga penting untuk
keperluan mengajarkannya. Sebab, jenis materi pembelajaran memerlukan strategi
pembelajaran atau metode, media, dan system evaluasi atau penilaian yang
berbeda-beda.
Cara yang paling mudah untuk menentukan jenis materi pembelajaran yang akan
diajarkan adalah dengan jalan mengajukan pertanyaan tentang kompetensi dasar
yang harus dikuasai siswa.
Dengan mengacu pada kompetensi dasar, kita akan mengetahui apakah materi
yang harus kita ajarkan berupa fakta, konse, prinsip, prosedur, aspek sikap
atau psikomotorik. Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan penuntun untuk
mengidentifikasi jenis materi pembelajaran:
Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa mengingat nama
suatu objek, simbol atau suatu peristiwa? Kalau jawabannya “ya” maka materi
pembelajaran yang harus diajarkan adalah “fakta”.
a)
Apakah
kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa kemampuan untu menyatakan
suatu definisi,
menuliskan ciri khas sesuatu, mengklasifikasikan atau mengelompokkan beberapa
contoh objek sesuai dengan suatu definisi? Kalau jawabannya “ya” maka materi
pembelajaran yang harus diajarkan adalah “konsep”.
b)
Apakah kompetensi
dasar yang harus dikuasai siswa berupa menjelaskan atau melakukan
langkah-langkah
atau prosedur secara urut atau membuat sesuatu? Kalau jawabannya “ya” maka
materi pembelajaran yang harus diajarkan adalah “prosedur”.
c)
Apakah
kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa menentukan hubungan antara
beberapa
konsep, atau menerapkan hubungan antara berbagai macam konsep? Bila jawabannya
“ya”, berarti materi pembelajaran yang harus diajarkan termasuk dalam kategori
“prinsip”.
d)
Apakah
kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa memilih berbuat atau tidak
berbuat
berdasar pertimbangan baik buruk, suka atau tidak suka, indah atau tidak indah?
Jika jawabannya “Ya”, maka materi pembelajaran yang harus diajarkan berupa aspek
afektif, sikap, atau nilai.
e)
Apakah
kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa melakukan perbuatan secara
fisik? Jika
jawabannya “Ya”, maka materi pembelajaran yang harus diajarkan adalah aspek
motorik.
E. Menentukan cakupan dan urutan bahan ajar
a. Menentukan
cakupan bahan ajar
Dalam menentukan cakupan atau ruang lingkup materi pembelajaran harus
diperhatikan apakah jenis materinya berupa aspek kognitif (fakta, konsep,
prinsip, prosedur) aspek afektif, ataukah aspek psikomotorik. Selain itu, perlu
diperhatikan pula prinsip-prinsip yang perlu digunakan dalam menentukan cakupan
materi pembelajaran yang menyangkut keluasan dan kedalaman materinya.
Keluasan cakupan materi berarti
menggambarkan berapa banyak materi-materi yang dimasukkan ke dalam suatu materi
pembelajaran, sedangkan kedalaman materi menyangkut seberapa detail
konsep-konsep yang terkandung di dalamnya harus dipelajari/dikuasai oleh siswa.
Prinsip berikutnya adalah prinsip kecukupan (adequacy). Kecukupan (adequacy)
atau memadainya cakupan materi juga perlu diperhatikan dalam pengertian. Cukup
tidaknya aspek materi dari suatu materi pembelajaran akan sangat membantu
tercapainya penguasaan kompetensi dasar yang telah ditentukan.
Cakupan atau ruang lingkup materi
perlu ditentukan untuk mengetahui apakah materi yang harus dipelajari oleh
murid terlalu banyak, terlalu sedikit, atau telah memadai sehingga sesuai
dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai.
b. Menentukan urutan
bahan ajar
Urutan penyajian (sequencing) bahan ajar sangat penting
untuk menentukan urutan mempelajari
atau mengajarkannya. Tanpa urutan yang tepat, jika di antara beberapa materi
pembelajaran mempunyai hubungan yang bersifat prasyarat (prerequisite) akan
menyulitkan siswa dalam mempelajarinya. Misalnya materi operasi bilangan
penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Siswa akan mengalami
kesulitan mempelajari perkalian jika materi penjumlahan belum dipelajari. Siswa
akan mengalami kesulitan membagi jika materi pengurangan belum dipelajari.
Materi pembelajaran yang sudah ditentukan ruang
lingkup serta kedalamannya dapat diurutkan melalui dua pendekatan pokok ,
yaitu: pendekatan prosedural, dan hierarkis. Pendekatan prosedural yaitu urutan
materi pembelajaran secara prosedural menggambarkan langkah-langkah secara urut
sesuai dengan langkah-langkah melaksanakan suatu tugas. Misalnya
langkah-langkah menelpon, langkah-langkah mengoperasikan peralatan kamera
video. Sedangkan pendekatan hierarkis menggambarkan urutan yang bersifat
berjenjang dari bawah ke atas atau dari atas ke bawah. Materi sebelumnya harus
dipelajari dahulu sebagai prasyarat untuk mempelajari materi berikutnya.
F. Sumber
Bahan Ajar
Sumber bahan ajar merupakan tempat di mana bahan ajar dapat diperoleh. Dalam
mencari sumber bahan ajar, siswa dapat dilibatkan untuk mencarinya, sesuai
dengan prinsip pembelajaran siswa aktif (CBSA). Berbagai sumber dapat kita
gunakan untuk mendapatkan materi pembelajaran dari setiap standar kompetensi
dan kompetensi dasar. Sumber-sumber dimaksud dapat disebutkan di bawah ini:
a.
Buku teks yang diterbitkan oleh
berbagai penerbit. Gunakan sebanyak mungkin
buku teks agar dapat diperoleh
wawasan yang luas.
b.
Laporan hasil penelitian yang
diterbitkan oleh lembaga penelitian atau oleh para
peneliti sangat berguna untuk
mendapatkan sumber bahan ajar yang atual atau mutakhir.
c.
Jurnal penerbitan hasil penelitian
dan pemikiran ilmiah. Jurnal-jurnal tersebut
berisikan berbagai hasil penelitian
dan pendapat dari para ahli di bidangnya masing-masing yang telah dikaji
kebenarannya.
d.
Pakar atau ahli bidang studi penting
digunakan sebagai sumber bahan ajar yang
dapat dimintai konsultasi mengenai
kebenaran materi atau bahan ajar, ruang lingkup, kedalaman, urutan, dsb.
e.
Profesional yaitu orang-orang yang
bekerja pada bidang tertentu. Kalangan
perbankan misalnya tentu ahli di
bidang ekonomi dan keuangan.
f.
Buku kurikulum penting untuk
digunakan sebagai sumber bahan ajar. Karena
berdasarkan kurikulum itulah standar
kompetensi, kompetensi dasar dan materi bahan dapat ditemukan. Hanya saja
materi yang tercantum dalam kurikulum hanya berisikan pokok-pokok materi.
g.
Penerbitan berkala seperti harian,
mingguan, dan bulananyang banyak berisikan
informasi yang berkenaan dengan
bahan ajar suatu matapelajaran.
h.
Internet yang yang banyak ditemui
segala macam sumber bahan ajar. Bahkan
satuan pelajaran harian untuk
berbagai matapelajaran dapat kita peroleh melalui internet. Bahan tersebut
dapat dicetak atau dicopy.
i.
Berbagai jenis media audiovisual
berisikan pula bahan ajar untuk berbagai jenis
mata pelajaran. Kita dapat
mempelajari gunung berapi, kehidupan di laut, di hutan belantara melalui siaran
televisi.
j.
Lingkungan ( alam, sosial,
senibudaya, teknik, industri, ekonomi).
G. Strategi
Dalam Memanfaatkan Bahan Ajar
Secara garis besarnya, dalam memanfaatkan
bahan ajar terdapat i dua strategi,
yaitu:
a. Strategi penyampaian bahan ajar oleh guru
a. Strategi penyampaian bahan ajar oleh guru
Strategi penyampaian
bahan ajar oleh guru, diantaranya:
1.
Strategi urutan penyampaian simultan
yaitu jika guru harus menyampaikan
materi pembelajaran lebih daripada
satu, maka menurut strategi urutan penyampaian simultan, materi secara
keseluruhan disajikan secara serentak, baru kemudian diperdalam satu demi satu
(Metode global);
2. Strategi urutan penyampaian suksesif, jika guru harus
manyampaikan materi pembelajaran lebih daripada satu, maka menurut strategi
urutan panyampaian suksesif, sebuah materi satu demi satu disajikan secara
mendalam baru kemudian secara berurutan menyajikan materi berikutnya secara
mendalam pula.
3. Strategi penyampaian fakta,
jika guru harus manyajikan materi pembelajaran termasuk jenis fakta (nama-nama
benda, nama tempat, peristiwa sejarah, nama orang, nama lambang atau simbol,
dsb).
4. Strategi penyampaian konsep, materi pembelajaran
jenis konsep adalah materi
berupa definisi atau pengertian. Tujuan mempelajari konsep adalah agar
siswa
paham, dapat menunjukkan ciri-ciri, unsur, membedakan, membandingkan,
menggeneralisasi, dsb. Langkah-langkah mengajarkan konsep: Pertama
sajikan konsep, kedua berikan bantuan (berupa inti isi, ciri-ciri pokok,
contoh
dan bukan contoh), ketiga berikan latihan (exercise) misalnya berupa
tugas
untuk mencari contoh lain, keempat berikan umpan
balik, dan kelima berikan
tes.
5.
Strategi penyampaian materi
pembelajaran prinsip, termasuk materi
pembelajaran jenis prinsip adalah dalil,
rumus, hukum (law), postulat, teorema, dsb.
6.
Strategi penyampaian prosedur,
tujuan mempelajari prosedur adalah agar siswa
dapat melakukan atau mempraktekkan
prosedur tersebut, bukan sekedar paham atau hafal. Termasuk materi pembelajaran
jenis prosedur adalah langkah-langkah mengerjakan suatu tugas secara urut.
b. Strategi
mempelajari bahan ajar oleh siswa
Ditinjau dari guru, perlakuan
(treatment) terhadap materi pembelajaran berupa kegiatan guru menyampaikan atau
mengajarkan kepada siswa. Sebaliknya, ditinjau dari segi siswa, perlakuan
terhadap materi pembelajaran berupa mempelajari atau berinteraksi dengan materi
pembelajaran. Secara khusus dalam mempelajari materi pembelajaran, kegiatan
siswa dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu :
1. Menghafal (verbal parafrase). Ada
dua jenis menghafal, yaitu menghafal verbal (remember verbatim) dan menghafal
parafrase (remember paraphrase). Menghafal verbal adalah menghafal persis
seperti apa adanya. Terdapat materi pembelajaran yang memang harus dihafal
persis seperti apa adanya, misalnya nama orang, nama tempat, nama zat, lambang,
peristiwa sejarah, nama-nama bagian atau komponen suatu benda, dsb. Sebaliknya
ada juga materi pembelajaran yang tidak harus dihafal persis seperti apa adanya
tetapi dapat diungkapkan dengan bahasa atau kalimat sendiri (hafal parafrase).
Yang penting siswa paham atau mengerti, misalnya paham inti isi Pembukaan UUD
1945, definisi saham, dalil Archimides, dsb.
2. Menggunakan/mengaplikasikan (Use). Materi pembelajaran
setelah dihafal atau dipahami kemudian digunakan atau diaplikasikan. Jadi dalam
proses pembelajaran siswa perlu memiliki kemampuan untuk menggunakan,
menerapkan atau mengaplikasikan materi yang telah dipelajari. Penggunaan fakta
atau data adalah untuk dijadikan bukti dalam rangka pengambilan keputusan.
Penggunaan materi konsep adalah untuk menyusun proposisi, dalil, atau rumus.
Selain itu, penguasaan atas suatu konsep digunakan untuk menggeneralisasi dan
membedakan. Penerapan atau penggunaan prinsip adalah untuk memecahkan masalah
pada kasus-kasus lain. Penggunaan materi prosedur adalah untuk dikerjakan atau
dipraktekkan. Penggunaan materi sikap adalah berperilaku sesuai nilai atau
sikap yang telah dipelajari. Misalnya, siswa berhemat air dalam mandi dan
mencuci setelah mendapatkan pelajaran tentang pentingnya bersikap hemat.
3.
Menemukan yang dimaksudkan penemuan (finding) di sini adalahmenemukan cara
memecahkan masalah-masalah baru dengan menggunakan fakta, konsep, prinsip, dan
prosedur yang telah dipelajari. Menemukan merupakan hasil tingkat belajar
tingkat tinggi. Gagne (1987) menyebutnya sebagai penerapan strategi kognitif.
Misalnya, setelah mempelajari hukum bejana berhubungan seorang siswa dapat
membuat peralatan penyiram pot gantung menggunakan pipa-pipa paralon. Contoh
lain, setelah mempelajari sifat-sifat angin yang mampu memutar baling-baling
siswa dapat membuat protipe, model, atau maket sumur kincir angin untuk
mendapatkan air tanah.
4. Memilih di sini menyangkut aspek afektif atau sikap. Yang
dimaksudkan dengan memilih di sini adalah memilih untuk berbuat atau tidak
berbuat sesuatu. Misalnya memilih membaca novel dari pada membaca tulisan
ilmiah. Memilih menaati peraturan lalu lintas tetapi terlambat masuk sekolah
atau memilih melanggar tetapi tidak terlambat, dsb.
H. Materi prasyarat dan
perbaikan, dan pengayaan
Dalam mempelajari materi
pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar terdapat beberapa kemungkinan pada
diri siswa, yaitu siswa belum siap bekal pengetahuannya, siswa mengalami
kesulitan, atau siswa dengan cepat menguasai materi pembelajaran. Kemungkinan
pertama siswa belum memiliki pengetahuan psyarat. Pengetahuan prasyarat adalah
bekal pengetahuan yang diperlukan untuk mempelajari suatu bahan ajar baru.
Misalnya, untuk mempelajari perkalian siswa harus sudah mempelajari
penjumlahan. Untuk mengetahui apakah siswa telah memiliki pengetahuan
prasyarat, guru harus mengadakan tes prasyarat (prequisite test). Jika berdasar
tes tersebut siswa belum memiliki pengetahuan prasyarat, maka siswa tersebut
harus diberi materi atau bahan pembekalan. Bahan pembekalan (matrikulasi) dapat
diambil dari materi atau modul di bawahnya. Dalam menghadapi kemungkinan kedua,
yaitu siswa mengalami kesulitan atau hambatan dalam menguasai materi
pembelajaran, guru harus menyediakan materi perbaikan (remedial).
Materi pembelajaran remedial disusun lebih
sederhana, lebih rinci, diberi banyak penjelasan dan contoh agar mudah
ditangkap oleh siswa. Untuk keperluan remedial perlu disediakan modul remidial.
Dalam menghadapi kemungkinan ketiga, yaitu siswa dapat dengan cepat dan mudah
menguasai materi pembelajaran, guru harus menyediakan bahan pengayaan
(enrichment).
Materi pengayaan berbentuk pendalaman dan perluasan. Materi pengayaan baik
untuk pendalaman maupun perluasan wawasan dapat diambilkan dari buku rujukan
lain yang relevan atau disediakan modul pengayaan. Selain pengayaan, perlu
dipertimbangkan adanya akselerasi alami di mana siswa dimungkinkan untuk
mengambil pelajaran berikutnya. Untuk keperluan ini perlu disediakan bahan atau
modul akselerasi.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Proses belajar
yang efektif adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan sesuai dengan
apa yang telah direncanakan dalam rencana pembelajaran. Prosesnya tersebut
adalah menjalakan serangkaian komponen-komponen pembelajaran dari mulai tujuan,
materi, metode, dan evaluasi.
Proses pembelajaran adalah proses
mengkondisikan dimana siswa dapat belajar dan memperoleh sejumlah pengalaman
belajar. Pengalaman belajar berhubungan dengan materi yang akan disampaikan.
Dengan demikian untuk memperoleh pengalaman belajar tersebut, maka seorang
tenaga pendidik perlu merancang bahan pembelajaran yang efektif agar siswa
memiliki pengalaman belajar yang diharapkan.
Bahan pembelajaran apapun yang dibuat oleh tenaga
pendidik, tentu bahan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar dalam
rangka pencapaian kopetensi yang diinginkan.
B. SARAN
Guru harus senantiasa menjadi
pembimbing dan pelatih yang baik bagi para peserta didik serta guru harus selalu mempertimbangkan
berapa banyak dari yang diajarkan itu masih diingat kelak oleh subjek belajar.
DAFTAR PUSTAKA
Akhmad Sudrajat. Let’s talk About Education. Pengembangan
bahan Ajar. Depdiknas. 2006. Pedoman pemilihan bahan ajar. Muhaimin
dkk, 2009. Pengembangan model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) pada Sekolah dan Madrasah. Raja wali press. Jakarta.
Badan Standar
Nasional Pendidikan. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Djamarah.
2002. Strategi Belajar Mengajar. Rinneka Cipta. Jakarta.
http://momoydandelion.blogspot.com/2011/07/langkah-memilih-dan-menentukan-bahan.html(diakses
pada hari selasa tanggal 25 Juli pukul
18:40 WIB)
Hujairah sanaki, Media
Pembelajaran, Safiria Insania Press, Yogyakarta 2009
hal. 166
Tidak ada komentar:
Posting Komentar