Sabtu, 01 September 2018



MAKNA KONOTASI DAN RETORIKA DALAM TAJUK RENCANA PILIHLAH KANDIDIAT NEGARAWAN HARIAN SURAT KABAR FAJAR EDISI 03 FEBRUARI 2018

INNE PELANGI


1.      Konotasi Merangsang dan Menggugah Pancaindra
        Kata sutra mungkin akan menimbulkan satu reaksi yang mengingatkan sensasi dari makna sutra. yakni halus, lembut, transparan, bersinar dan merupakan reaksi yang menyenangkan seperti diraba atau dipandang.
Sebagian kosakata memiliki kemungkinan untuk merangsang pancaindra yang menyenangkan atau mengasarkan. Seorang penulis, pengarang (penyair, penulis novel), pemidato, pembicara, dan penyusun iklan akan dengan sadar memanfaatkan konotasi-konotasi yang merangsang pancaindra.
Chairil Anwar yang dengan sadar menyebutkan dirinya. "Aku ini binatang jalang", telah merangsang pancaindra dengan kata jalang. Untuk menguji perangsangan itu, kita dapat mengganti kata jalang dengan kata-kata sinonim yang lain. Seseorang dapat menulis seperti di halaman berikut.
Aku ini binatang jalang
Aku ini binatang buas
Aku ini binatang liar
Konotasi jalang, buas, dan liar berbeda-beda kadarnya bagi setiap pembaca atau pendengar, tetapi terasa kurang enak dan menakutkan. Sebuah iklan membahasakan produknya sebagai berikut:
"Pilihlah “Warna ceria-mu"
“Komunikasi ceria untuk kehidupan yang penuh warna
“Ukurannya mungil"
Penyusun iklan telah memanfaatkan konotasi perangsang pancaindra dengan kata-kata ceria, penuh warna, mungil.
Sebuah harian ibu kota menulis dalam Tajuk Rencananya sebagai berikut:
…. Dengan sendirinya, bertaburan isu dalam arena politik, sosial, ekonomi, keamanan. Isu-isu yang terbesar warisan masa lalu. Ada pula isu baru atau sisa isu lama yang diberi warna dan tujuan baru.
Penggunaan kata isu memberi konotasi kurang menyenangkan, bertaburan mem­bawa konotasi bermacam-macam dan ada di mana-mana, arena memberi konotasi tempat bertanding untuk menentukan kalah dan menang, warisan memberi konotasi sesuatu yang diperebutkan, dan warna memberi konotasi terdapat bermacam-macam warna pilihan.
Temuan:
Berdasarkan temuan pada harian surat kabar Fajar yang berjudul “Pilihlah Kandidiat Negarawan terdapat 3 data yang berkaitan dengan konotasi merangsang dan menggugah pancaindra, yakni:
Data 1
Dia menjadi seorang penanam dan penabur kebenaran, kebaikan dan berlaku adil kepada setiap orang karena kejujurannya dalam menjalani hidupnya yang berakhlak mulia dan bahkan saleh. (Koran Fajar bagian Tajuk, Paragraf 1 kalimat 6)
Pada data tersebut, makna denotasi pada kata penanam adalah orang yang menanam;~dana orang atau masyarakat yang menyimpan dana atau menyimpan uang di bank;~modal orang yang menanam modal atau investasi dalam suatu perusahaan dengan maksud memperoleh keuntungan;~uang penanam modal) dan kata penabur adalah orang yang menabur (benih dsb); alat untuk menabur; mimis berukuran kecil;~benih alat untuk menabur benih secara otomatis yang ditarik oleh traktor. Namun, ketika kata tersebut masuk dalam konteks kalimat pada data 1 maka kata penanam dan penabur  menjadi bermakna konotasi. Kata penanam dan penabur pada kalimat tersebut bermakna orang yang menaruh, menerapkan, menebar kebaikan dan berlaku adil pada setiap orang. Konotasi kata penanam dan penabur termasuk kategori merangsang dan menggugah pancaindra sebab penanam dan penabur dapat dijangkau oleh indra penglihatan.



Data 2
Warga masyarakat yang menilai tinggi martabat dirinya tak akan menurunkannya menjadi sekadar harga. (Koran Fajar bagian Tajuk, paragraf 4 kalimat 2)
Data tersebut makna denotasi pada kata harga adalah nilai barang yang ditentukan atau dirupakan dengan uang. Namun, ketika kata tersebut masuk dalam konteks kalimat pada data 2 maka kata harga menjadi bermakna konotasi. Kata harga pada kalimat tersebut bermakna bahwa harga menyangkut dengan harga diri seseorang, harkat dan martabat manusia yang tidak dapat diberi label harga karena penggunaan harga ditujukan pada barang dan dalam hal ini manusia bukan barang. Oleh karena itu, kata harga termasuk dalam konotasi merangsang dan menggugah pancaindra karena dapat dijangkau oleh indra penglihatan.

2.      Konotasi Merangsang dan Menggugah Stereotip
          Konotasi dapat merangsang dan menggugah stereotip yang hidup dan beredar di otak seseorang. Stereotip yang berhubungan dengan bangsa, suku, agama, tokoh politik, tokoh mafia, jenderal, profesional, atau induk semang bramacorah, juga petani, seorang gadis desa, kehidupan di desa, dsb. Konotasi ini dapat muncul secara kemasyarakatan atau massal baik yang bersifat positif maupun negatif. Sering konotasi-konotasi ini tidak dapat dijelaskan secara logis. Seseorang yang berpikir nalar akan bertanya-tanya mengapa muncul konotasi seperti ini. Mendengar kata kaum hippies, kaum gay, atau  birokrasi,  birokrat  orang cenderung mempunyai konotasi negatif.

Temuan:
      Pada tajuk rencana tersebut tidak ditemukan konotasi merangsang dan menggugah stereotip karena stereotip membahas mengenai konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Selain itu, stereotip juga berhubungan dengan bangsa, suku, agama, tokoh politik, tokoh mafia, jenderal, profesional, atau induk semang bramacorah, juga petani, seorang gadis desa, kehidupan di desa, dsb. Namun, dalam tesis tersebut tidak ditemukan hal-hal yang membahas mengenai kata kunci stereotip seperti yang telah diuraikan pada teori J.D. Parera.

3.        Konotasi Merangsang dan Menggugah Sikap dan Keyakinan Popular
Sikap dan keyakinan masyarakat sering terbentuk lewat pendidikan dan penga­laman masyarakat. Sikap dan keyakinan masyarakat Amerika Serikat telah terbentuk lewat pendidikan sehingga mereka meyakini makna kata demokrasi, hak asasi manusia, original, realistis, otentik, computer, kemerdekaan, individu, dsb. Orang Amerika Serikat membenci dan takut mendengar kata-kata terorisme, komunisme, militer, perang, pembunuhan massal, dsb.
Temuan:
           Pada tajuk rencana tersebut tidak ditemukan konotasi merangsang dan menggugah sikap keyakinan popular karena konotasi menggugah sikap dan keyakinan pada umumnya dipergunakan oleh para politikus dalam kampanye pemilu  untuk menarik pemilih dan sekaligus menjatuhkan lawan politik mereka, selain itu penggunaan kata-kata setan, desa, setan kota, penyakit, kuda lumping, siluman memberikan konotasi kasar yang menggugah pendapat dan keyakinan masyarakat secara popular. Kata kerja yang dipilih pun demikian, misalnya ganyang, ganyak, gila, giling, gulung, hantam, gentanyangan memang sangat kuat menggugah sikap kasar dan kebencian akan apa yang hendak dihabiskan itu. Namun, dalam tesis tersebut tidak ditemukan hal-hal yang membahas mengenai kata kunci konotasi merangsang dan menggugah sikap keyakinan popular seperti yang telah diuraikan pada teori J.D. Parera.

4.        Konotasi Merangsang dan Menggugah Sikap dan Kepentingan Pribadi
Setiap orang ingin dipandang dan dihargai. Semua orang ingin merasa diri penting, terhormat, modern, menarik, berhasil, sensual, inteligen, dsb. Tidak ada orang mau dikatakan terbelakang, tertinggal, bodoh, dan kolot. Untuk itulah terdapat kata-kata yang dapat memberikan konotasi yang berhubungan dengan sikap pribadi dan kepentingan pribadi.
Mungkin bahasa iklan berikut dapat menunjukkan konotasi yang menggugah dan merangsang kepentingan pribadi.
Kaulah yang kami cari
Dengan X Anda tampil berbeda
X , bra yang menciptakan belahan dada indah yang selalu Anda
Wajahnya khas Indonesia

Setiap kata yang dipakai dalam iklan di atas menyentuh pribadi dan ke­pentingan pribadi. Bagi setiap pembaca, konotasi bahasa iklan di atas memberikan perasaan dan asosiasi yang berbeda, tetapi sudah pasti menarik, menyenangkan, terasa pas, dan perlu.
Temuan:
            Data 3
Seorang negarawan dirasakan kepemimpinannya bukan sebagai penguasa yang haus kuasa dan materi tanpa menyadari apa yang menjadi miliknya dan yang bukan miliknya (Koran Fajar, bagian Tajuk, paragraf 2, kalimat 1)
Pada data tersebut, makna denotasi pada kata haus adalah berasa kering kerongkongan dan ingin minum . Namun, ketika kata tersebut masuk dalam konteks kalimat pada data 3 maka kata haus menjadi bermakna konotasi. Kata haus pada kalimat tersebut bermakna orang yang ingin menguasai semuanya, ingin mendapat apa yang sangat diinginkan. Kata tersebut tergolong sebagai konotasi yang merangsang dan menggugah sikap dan kepentingan pribadi karena terdapat tujuan tertentu dari kepentingan pribadi yang digambarkan dari kata haus, yakni seseorang yang ingin menguasai dan memiliki apa yang dia inginkan.














DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan, dkk. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga). Jakarta: PT 
        Balai  Pustaka.
Parera, J.D.2004. Teori Semantik Edisi Kedua. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Pateda, Mansoer.2001. Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta.

Pusat Bahasa Depniknas. 2013. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Kelima).
         Jakarta: Balai Pustaka.

Sugiarto, Eko. 2012. Master EYD. Yogyakarta: Khitah Publishing.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MATERI BAHAN AJAR INNE PELANGI BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang            Proses pembelajaran merupakan suatu rangka...