MAKNA
KONOTASI DAN RETORIKA
DALAM TAJUK RENCANA PILIHLAH KANDIDIAT NEGARAWAN HARIAN SURAT KABAR FAJAR EDISI
03 FEBRUARI 2018
INNE PELANGI
1.
Konotasi
Merangsang dan Menggugah Pancaindra
Kata sutra mungkin akan
menimbulkan satu reaksi yang mengingatkan sensasi dari makna sutra.
yakni “halus, lembut, transparan,
bersinar” dan merupakan reaksi
yang menyenangkan seperti diraba atau dipandang.
Sebagian kosakata memiliki kemungkinan
untuk merangsang pancaindra yang menyenangkan atau mengasarkan. Seorang
penulis, pengarang (penyair, penulis novel), pemidato, pembicara, dan penyusun
iklan akan dengan sadar memanfaatkan konotasi-konotasi yang merangsang
pancaindra.
Chairil Anwar yang dengan sadar menyebutkan
dirinya. "Aku ini binatang jalang", telah merangsang pancaindra
dengan kata
jalang. Untuk menguji perangsangan itu, kita dapat mengganti kata jalang dengan kata-kata sinonim yang
lain. Seseorang dapat menulis seperti di halaman berikut.
Aku ini binatang jalang
Aku ini binatang buas
Aku ini binatang liar
Konotasi jalang, buas, dan liar
berbeda-beda kadarnya bagi setiap
pembaca atau pendengar, tetapi terasa kurang enak dan menakutkan. Sebuah iklan
membahasakan produknya sebagai berikut:
"Pilihlah “Warna ceria-mu"
“Komunikasi ceria untuk kehidupan yang
penuh warna”
“Ukurannya mungil"
Penyusun iklan telah memanfaatkan
konotasi perangsang pancaindra dengan kata-kata ceria, penuh warna, mungil.
Sebuah harian ibu kota menulis dalam
Tajuk Rencananya sebagai berikut:
….
Dengan sendirinya, bertaburan isu dalam arena politik, sosial, ekonomi,
keamanan. Isu-isu yang terbesar warisan masa lalu. Ada pula isu baru atau sisa
isu lama yang diberi warna dan tujuan baru.
Penggunaan kata isu
memberi konotasi kurang menyenangkan, bertaburan
membawa konotasi bermacam-macam dan ada di mana-mana, arena memberi konotasi tempat bertanding untuk menentukan kalah dan
menang, warisan memberi konotasi
sesuatu yang diperebutkan, dan warna
memberi konotasi terdapat bermacam-macam warna pilihan.
Temuan:
Berdasarkan temuan pada harian
surat kabar Fajar yang berjudul “Pilihlah
Kandidiat Negarawan”
terdapat 3 data yang berkaitan dengan konotasi
merangsang dan menggugah pancaindra, yakni:
Data 1
Dia
menjadi seorang penanam dan penabur kebenaran, kebaikan dan berlaku
adil kepada setiap orang karena kejujurannya dalam menjalani hidupnya yang
berakhlak mulia dan bahkan saleh. (Koran Fajar bagian Tajuk, Paragraf 1 kalimat
6)
Pada data tersebut, makna
denotasi pada kata penanam adalah orang yang menanam;~dana orang atau masyarakat yang
menyimpan dana atau menyimpan uang di bank;~modal orang yang menanam modal atau investasi dalam suatu
perusahaan dengan maksud memperoleh keuntungan;~uang penanam modal)
dan kata penabur adalah orang yang
menabur (benih dsb); alat untuk menabur; mimis berukuran kecil;~benih alat untuk menabur benih secara
otomatis yang ditarik oleh traktor.
Namun, ketika kata tersebut masuk dalam konteks kalimat pada data 1 maka kata penanam dan
penabur menjadi
bermakna konotasi. Kata penanam
dan penabur pada kalimat tersebut bermakna orang
yang menaruh, menerapkan, menebar kebaikan dan berlaku adil pada setiap orang. Konotasi kata penanam dan penabur termasuk kategori merangsang dan
menggugah pancaindra sebab penanam dan
penabur dapat dijangkau oleh indra penglihatan.
Data 2
Warga masyarakat yang menilai tinggi
martabat dirinya tak akan menurunkannya menjadi sekadar harga. (Koran Fajar
bagian Tajuk, paragraf 4 kalimat 2)
Data tersebut makna
denotasi pada kata harga adalah nilai
barang yang ditentukan atau dirupakan dengan uang. Namun, ketika kata tersebut masuk dalam konteks
kalimat pada data 2 maka kata harga menjadi bermakna konotasi. Kata harga pada kalimat tersebut bermakna bahwa harga menyangkut
dengan harga diri seseorang, harkat dan martabat manusia yang tidak dapat
diberi label harga karena penggunaan harga ditujukan pada barang dan dalam hal
ini manusia bukan barang. Oleh karena
itu, kata harga
termasuk dalam konotasi merangsang dan menggugah
pancaindra karena dapat dijangkau oleh indra penglihatan.
2.
Konotasi
Merangsang dan Menggugah Stereotip
Konotasi dapat merangsang dan menggugah
stereotip yang hidup dan beredar di otak seseorang. Stereotip yang berhubungan
dengan bangsa, suku,
agama, tokoh politik, tokoh mafia,
jenderal, profesional, atau induk semang bramacorah, juga petani, seorang gadis
desa, kehidupan di desa, dsb. Konotasi ini dapat muncul secara kemasyarakatan
atau massal baik yang bersifat positif maupun negatif. Sering konotasi-konotasi
ini tidak dapat dijelaskan secara logis. Seseorang yang berpikir nalar akan
bertanya-tanya mengapa muncul konotasi seperti ini. Mendengar kata kaum hippies, kaum gay, atau birokrasi,
birokrat orang
cenderung mempunyai konotasi negatif.
Temuan:
Pada tajuk rencana tersebut tidak ditemukan konotasi merangsang dan
menggugah stereotip karena stereotip membahas mengenai konsepsi mengenai sifat
suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Selain
itu, stereotip juga
berhubungan dengan bangsa, suku,
agama, tokoh politik, tokoh mafia,
jenderal, profesional, atau induk semang bramacorah, juga petani, seorang gadis
desa, kehidupan di desa, dsb. Namun, dalam
tesis tersebut tidak ditemukan hal-hal yang membahas mengenai kata kunci
stereotip seperti yang telah diuraikan pada teori J.D. Parera.
3.
Konotasi
Merangsang dan Menggugah Sikap dan Keyakinan Popular
Sikap dan keyakinan masyarakat sering
terbentuk lewat pendidikan dan pengalaman masyarakat. Sikap dan keyakinan
masyarakat Amerika Serikat telah terbentuk lewat pendidikan sehingga mereka
meyakini makna kata demokrasi, hak asasi manusia, original,
realistis, otentik, computer, kemerdekaan, individu, dsb. Orang Amerika Serikat
membenci dan takut mendengar kata-kata terorisme, komunisme, militer, perang,
pembunuhan massal, dsb.
Temuan:
Pada tajuk
rencana tersebut tidak ditemukan konotasi merangsang dan
menggugah sikap keyakinan popular karena konotasi
menggugah sikap dan
keyakinan pada umumnya dipergunakan oleh para politikus dalam kampanye
pemilu untuk menarik pemilih dan
sekaligus menjatuhkan lawan politik mereka,
selain itu penggunaan kata-kata setan, desa, setan kota, penyakit, kuda lumping, siluman memberikan
konotasi kasar yang menggugah pendapat dan keyakinan masyarakat secara popular.
Kata kerja yang dipilih pun demikian, misalnya ganyang, ganyak, gila, giling, gulung, hantam, gentanyangan memang
sangat kuat menggugah sikap kasar dan kebencian akan apa yang hendak dihabiskan
itu. Namun, dalam tesis tersebut tidak ditemukan hal-hal
yang membahas mengenai kata kunci konotasi merangsang dan menggugah sikap
keyakinan popular seperti yang telah diuraikan pada teori J.D. Parera.
4.
Konotasi
Merangsang dan Menggugah Sikap dan Kepentingan Pribadi
Setiap orang ingin dipandang dan
dihargai. Semua orang ingin merasa diri penting, terhormat, modern, menarik,
berhasil, sensual, inteligen, dsb.
Tidak
ada orang mau dikatakan terbelakang, tertinggal, bodoh, dan kolot. Untuk itulah
terdapat kata-kata yang dapat memberikan konotasi yang berhubungan dengan sikap
pribadi dan kepentingan pribadi.
Mungkin bahasa iklan berikut dapat menunjukkan
konotasi yang menggugah dan merangsang kepentingan pribadi.
Kaulah yang kami cari
Dengan X Anda tampil berbeda
X , bra yang
menciptakan belahan dada indah yang selalu Anda
Wajahnya
khas Indonesia
Setiap kata yang dipakai dalam iklan di atas
menyentuh pribadi dan kepentingan pribadi. Bagi setiap pembaca, konotasi
bahasa iklan di atas memberikan perasaan dan asosiasi yang berbeda, tetapi
sudah pasti menarik, menyenangkan, terasa pas, dan perlu.
Temuan:
Data
3
Seorang
negarawan dirasakan kepemimpinannya bukan sebagai penguasa yang haus kuasa dan materi tanpa menyadari
apa yang menjadi miliknya dan yang bukan miliknya (Koran Fajar, bagian Tajuk, paragraf 2, kalimat 1)
Pada data tersebut, makna
denotasi pada kata haus
adalah berasa kering
kerongkongan dan ingin minum . Namun,
ketika kata tersebut masuk dalam konteks kalimat pada data 3 maka kata haus menjadi bermakna konotasi. Kata haus pada kalimat tersebut bermakna
orang yang ingin menguasai semuanya, ingin mendapat apa yang sangat diinginkan. Kata
tersebut tergolong sebagai konotasi yang merangsang
dan menggugah sikap dan kepentingan pribadi karena terdapat tujuan tertentu dari kepentingan
pribadi yang digambarkan dari kata haus, yakni seseorang yang ingin
menguasai dan memiliki apa yang dia inginkan.
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan, dkk. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Edisi
Ketiga). Jakarta: PT
Balai
Pustaka.
Parera, J.D.2004. Teori
Semantik Edisi Kedua. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Pateda, Mansoer.2001. Semantik
Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta.
Pusat
Bahasa Depniknas. 2013. Kamus Besar
Bahasa Indonesia (Edisi Kelima).
Jakarta:
Balai Pustaka.
Sugiarto, Eko. 2012. Master
EYD. Yogyakarta: Khitah Publishing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar